logo rilis
Hanura Tuding Insiden Teror Ditumpangi Politisi
Kontributor
Nailin In Saroh
15 Mei 2018, 12:37 WIB
Hanura Tuding Insiden Teror Ditumpangi Politisi
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafiz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir mengaku kecewa terhadap sejumlah politisi yang tak berempati atas insiden teror bom di Surabaya, Jawa Timur.

Ia menuding, politisi tersebut malah memanfaatkan peristiwa itu untuk menyerang Jokowi sebagai bakal kandidat calon presiden 2019.

"Peristiwa kekejian terhadap kemanusiaan ini telah dimanfaatkan oleh politisi-politisi yang berseberangan pilihan politiknya dengan pemerintah untuk dijadikan senjata melawan pemerintahan yang sah dipimpin oleh Jokowi," ujar Inas dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Ketua Fraksi Hanura di DPR itu menilai, tidak selayaknya para politisi berkomentar seolah-olah mengutuk teroris, namun secara implisit malah membela para teroris tersebut.

"Kita terkejut ketika membaca argumen-argumen politisi tersebut yang isinya cenderung memberikan angin kepada pelaku teror dengan argumen yang seolah-olah mengutuk teror tersebut tapi secara implisit membela dan mendukung kelompok teroris tersebut dimana seolah-olah para teroris tersebut adalah umat Islam yang difitnah dan diadu domba," bebernya.

Wakil Ketua Komisi VI DPR itu menduga, ada kalangan politisi tertentu yang justru telah bergerak melakukan komunikasi dengan para teroris sebelum terjadinya peristiwa keji di Surabaya tersebut.

"Indikasi tersebut bisa kita kaitkan dengan tertangkapnya anggota DPRD Kabupaten Pasuruan dari Fraksi PKS oleh Densus 88 di bandara Juanda," jelas Inas.

Terlebih, lanjutnya, tidak ada statement apapun terhadapa peristiwa keji tersebut oleh calon presiden yang bakal maju pada Pilpres 2019. Baik dari Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti (AHY) maupun Anies Baswedan.

"Padahal mereka sedang menggadang-gadang diri mereka untuk mencalonkan diri dalam pilpres 2019. Selain itu, ada apa dengan Amien Rais? yang selama ini lantang menyerang Jokowi tapi tidak bersuara terhadap peristiwa keji di Surabaya tersebut," katanya heran.

Inas pun menegaskan, sebagai bangsa yang bernurani dimana Islam sebagai agama terbesar di Indonesia, tidak ada alasan apapun untuk melakukan pembenaran dan pembelaan terhadap perbuatan biadab tersebut.

Bahkan, sambungnya, harus menjadi kewajiban bagi politisi-politisi serta bakal calon-calon presiden 2019 untuk menyuarakan perlawanan mereka kepada terorisme dan memberikan empati kepada para korban dan keluarganya.

"Kita sangat ingin agar tindakan terorisme ini dapat semakin diminimalisir bahkan dimusnahkan di bumi Nusantara ini, karena itu, seluruh fraksi di DPR-RI yang mendukung pemberantasan terorisme, harus segera mendorong diparipurnakan-nya RUU Pemberantasan Terorisme," tandas Inas.

Editor: Sukardjito


500
komentar (0)