logo rilis
Hanura Bambu Apus: Gugatan Nomor 24/PTUN Tak Gugur
Kontributor
Zul Sikumbang
17 Mei 2018, 19:22 WIB
Hanura Bambu Apus: Gugatan Nomor 24/PTUN Tak Gugur
Sekretaris Jenderal DPP Partai Hanura versi Bambu Apus, Sarifuddin Sudding di Kompleks Parlemen, Jakarta. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Penolakan terhadap Putusan Perkara Permohonan Nomor 12/PTUN-JKT/2018, tak berarti menggugurkan perkara gugatan Nomor 24/G/PTUN/2018/JKT. Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal DPP Partai Hanura versi Bambu Apus, Sarifuddin Sudding.

"Bukan. Itu yang kita beritahukan kemarin, karena memang ada ruang sedikit bisa digunakan dalam rangka memberikan pengakuan. Kalau misalnya Menkumham tidak mau mengakui keputusan hasil Munaslub versi Bambu Apus, maka dengan keputusan fiktif positif itu dapat diperlakukan," ujarnya kepada rilis.id di Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Perkara Nomor 12/PTUN, merupakan permohonan fiktif positif. Yakni, permohonan kepada pengadilan untuk mengesahkan hasil keputusan PTUN. Tapi dalam pertimbangannya, hakim menilai, permohonan yang sama sudah diajukan dalam gugatan PTUN Nomor 24/G/PTUN/2018. Sehingga, permohonan tak dapat diterima. 

Dengan begitu, menurut Sudding, perkara Nomor 24/PTUN tetap berlaku, karena putusan selanya memenangkan Hanura kubu Bambu Apus. "Ya, itu masih perkara Nomor 24/G/PTUN/218, bukan dalam kaitan ini, bukan permohonan fiktif positif. Itu, dalam kaitan perkara Nomor 24," jelasnya.

"Jadi, apa pertimbangan hakim, karena yang dimohonkan adalah pengesahan SK hasil Munaslub membatalkan SK OSO-Herry Lontung. Dan kemudian, minta pengesahan hasil Munaslub. Sementara perkara Nomor 24, juga sudah dimohonkan. Karena dua objek pokok perkara yang sama, maka permohonan fiktif positif itu tidak dapat diterima," imbuh Anggota Komisi III DPR RI ini menguraikan.

Sudding menduga, Hanura kubu Oesman Sapta Odang (OSO) akan memolitisasi putusan PTUN yang menolak perkara Nomor 12/PTUN. "Iya, pasti dipolitisasi. Itu, kan, hanya permohonan fiktif positif, bukan perkara Nomor 24/G/PTUN/2018," tandasnya.

Editor: Fatah H Sidik


500
komentar (0)