logo rilis
Melawan LGBT, Hanifah Husein: Keluarga Selamat, NKRI Selamat
Kontributor
Yayat R Cipasang
13 April 2018, 09:04 WIB
Melawan LGBT, Hanifah Husein: Keluarga Selamat, NKRI Selamat
Ketua Koordinator Presidium Forhati Hanifah Husein Baldan (tengah). FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

FORUM Alumni HMI Wati (Forhati) termasuk yang sangat gusar dengan kampanye dan gerakan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang sangat masif. Dengan sokongan dana yang sangat besar dan melibatkan kelompok internasional, kampanye dan gerakan LGBT sudah mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gerakan LGBT menurut Forhati selain mengancam keluarga juga dalam tingkat lanjut akan mengacam NKRI. Pertahanan keluarga terganggu yang berikutnya akan berdampak pada keutuhan NKRI. Perilaku LGBT yang mematikan lebih dari 50 kali lipat jelas bukan perkara enteng.

Seperti apa kampanye melawan LGBT yang dilakukan Forhati termasuk dalam bidang legislasi, berikut ini perbincangan redaktur rilis.id Yayat R Cipasang dengan Ketua Koordinator Presidium Forum Alumni HMI Wati (Forhati) Hanifah Husein Baldan di Kompleks Parlemen, Senayan, baru-baru ini.

Seperti apa keterlibatan Forhati dalam menyikapi kampanye dan aksi menolak perilaku LGBT di Indonesia?

Forhati memiliki struktur sampai ke bawah dan sangat satrategis untuk terus berjuang dan mengawal RUU KUHP. Kami sangat peduli untuk terus memperjuangkan agar hukuman sebagai efek jera dikenakan kepada pelaku LGBT.

Kampanye atau perilaku yang kami lawan adalah kelompok yang berdana sangat besar dan melibatkan sejumlah kelompok lintas  negara. Tentu kami sadar, ketika kami tengah berjuang untuk memberikan hukuman kepada pelaku LGBT di sisi lain kelompok mereka juga tengah berusaha untuk lobi-lobi mengegolkan tujuannya. Ketika kita diam mungkin mereka bergerilya.

Karena itu gerakan kami selain fokus kepada mengawal legislasi juga mendorong ibu-ibu untuk memperkuat pertahanan keluarganya. Kita sadar selama 24 jam itu ibu-ibu di rumah tangga tidak dapat mengontrol sepenuhnya anak-anak di luar rumah. Karena itu kami mendorong kepada ibu-ibu untuk memperkuat pertahanan anak-anaknya di rumah sehingga tidak terpapar kampanye LGBT.

Kita harus memulai dari keluarga dulu. Selamat dan sejahterakan dulu keluarga baru berpikir NKRI. Selamat keluarga selamat juga NKRI. Hari ini sangat dibutuhkan kehadiran orangtua, kehadiran ibu, kehadiran ayah di tengah-tengah keluarga.

Menurut saya pasal hukuman untuk pelaku LGBT harus masuk dan kami akan terus memperjuangkannya sampai RUU KUHP itu disahkan.

Apa masukan atau kontribusi Forhati?

Kepada Ketua MPR Zulkifli Hasan misalnya kami sampaikan usulan pasal-pasal, jenis hukuman dan definisi tertentu untuk disampaikan kepada anggota DPR yang tengah membahas RUU KUHP. Kami sadar, kami bukan ahli hukum. Tetapi saya harapkan kontribusi dari kalangan ibu-ibu ini dapat memberikan masukan untuk RUU KUHP tersebut. Pak Zulkifli pun mendukung kita dan dia pun siap dirisak karena menolak LGBT.

Di sejumlah negara termasuk Timor Leste sudah melegalkan LGBT, menurut Anda?

Kita tidak bisa disamakan dengan Timor Leste, Kanada atau di negeri Barat. Kita ini hidup di negeri Pancasila. Semua agama pun menolak LGBT karena perilaku ini 50 kali lipat mematikan.

Kami juga punya anggapan orang atau kelompok yang ingin melegalkan LGBT tak tingal diam. Karena itu kita pastikan juga kita tak tidur untuk terus melawan kelompok mereka.

Menolak LGBT dari keluarga seperti apa praktiknya?

Saya beberapa kali studi banding pendidikan ke luar negeri termasuk ke Finlandia. Tingkat kesadaran pelajar sudah sangat tinggi dibandingkan anak-anak di negara kita. Misalnya soal smartphone. Mereka membawa gawai ke sekolah bukan lagi untuk hiburan atau bermedia sosial. Mereka menggunakannya untuk menunjang pendidikan. I need information. Itu yang dibutuhkan mereka dari gawai.

Mereka menggunakan gawai untuk kebutuhan praktik di sekolah. Misalnya yang saya temui mereka tengah membuat simulasi destinasi Filnlandia dengan gawai. Apakah kamu akan menggunakan gawai ini untuk yang lainnya? No need for me. Begitulah mereka sudah sampai tarap seperti itu.

Nah, sikap anak-anak ini tidak lahir begitu saja. Mereka memiliki sikap seperti itu karena pendidikan dari rumah. Siapa yang berperan? Ya, ibu-ibu yang dimulainya dari rumah. Rumah itu madrosatulula. Memang prosesnya lama tapi harus kita mulai. Anak bangsa ini harus kita selamatkan. 

Selain memberikan masukan ke DPR dan MPR, ke lembaga mana saja Forhati mengkampanyekan bahaya LGBT?

Sasaran kami tentu ke lembaga-lembaga yang menentukan kebijakan seperti Mahkamah Agung. Tapi yang lebih penting adalah kami memulai gerakan ini dari komunitas kecil yang kami buat. Ibu-ibu yang juga alumni HMI ini cukup efektif untuk melakukan gerakan memerangi LGBT.

Kita juga berencana ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya kira kalau kita mencermati buku-buku ajar atau bacaan yang sudah disusupi konten-konten berbahaya. Karena itu saya kira kurikulum yang bagus harus ditunjang konten yang bagus juga.

Ada yang mengaitkan LGBT dengan HAM, menurut Anda?

Tidak ada HAM. HAM kita itu Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Berketuhanan Yang Maha Esa. Karena itu semua agama juga melarang LGBT. Itu HAM-nya. HAM NKRI bukan HAM orang lain.

Isu apalagi yang menjadi perhatian Forhati?

Ya, sebenarya banyak. Tapi kami kembali ke khittah. Kami kembali ke masalah yang menjadi perhatian utama kami yaitu soal keluarga. Mengembalikan fungsi keluarga. Ibu adalah guru yang pertama bagi anaknya. Selamat keluarga, selamatlah NKRI. 


500
komentar (0)