logo rilis
Hadapi UN, Mendikbud Sarankan Siswa Tak Terlalu Percaya Lembaga Bimbel
Kontributor
Taufiqurrohman
13 April 2018, 16:04 WIB
Hadapi UN, Mendikbud Sarankan Siswa Tak Terlalu Percaya Lembaga Bimbel
UNBK. ILUSTRASI: Humas Kemendikbud

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, menyarankan kepada seluruh siswa yang menghadapi ujian nasional berbasis komputer untuk tidak terlalu percaya kepada lembaga bimbingan belajar.

Muhadjir mengatakan, lebih baik siswa mempercayakan proses pembelajarannya kepada guru-guru di sekolah yang lebih mengerti tentang kenaikan standar dalam ujian nasional.

"Saya sarankan untuk tidak terlalu percaya pada bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh luar (sekolah). Percayakan kepada guru, kalau perlu guru harus ada pendalaman. Jadi sebaiknya sekolah yang menyelenggarakan bimbingan, jangan kemudian mendorong anak-anak ke bimbel," kata Muhadjir di Istana Wakil Presiden Jakarta, Jumat (13/4/2018).

Sistem pendidikan di Indonesia saat ini, lanjut Muhadjir, sedang dalam proses peningkatan kualitas dengan menerapkan metode yang disebut HOTS (higher order thinking skill) atau keterampilan berpikir lebih tinggi.

Penerapan standar lebih tinggi dalam UNBK, dilakukan untuk mendapatkan kualitas lulusan sekolah formal yang baik. Hal itu yang kemudian mengakibatkan banyak siswa menemui kesulitan dalam mengerjakan soal-soal UNBK.

Pelaksanaan UNBK tingkat sekolah menengah atas (SMA) yang berlangsung pada 10 - 13 April, mendapat kritik dari sejumlah siswa karena soal-soalnya dianggap sulit dan tidak sesuai dengan pelajaran yang diterima di sekolah.

Selain soal mata pelajaran matematika, yang dianggap tidak sesuai kisi-kisi, siswa juga mengeluhkan mengenai penggunaan metode esai dan analisa dalam UNBK.

Federasi Serikat Guru Indonesia menemukan kondisi di mana soal matematika dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer menjadi soal yang banyak dikeluhkan siswa karena terlalu sulit dan tidak sesuai dengan kisi-kisi.

Keluhan soal matematika terutama matematika IPS tersebut terkait dengan jumlah dan cakupan materi tidak sesuai kisi-kisi, tidak sesuai dengan cakupan materi di simulasi UN dan uji coba UN, dan tidak sesuai kaidah penyusunan soal yang baik.

Sumber: ANTARA


komentar (0)