Habitat Kekuasaan - RILIS.ID
Habitat Kekuasaan
RILIS.ID
Kamis | 06/07/2017 17.14 WIB
Habitat Kekuasaan

Setiap makhluk memiliki habitat, yaitu lingkungan yang memungkinkannya tumbuh dan berkembang dengan kualitas maksimal. Buaya memilih perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya; Katak menyukai pohon, sungai, danau, rawa, dan sawah; sedangkan singa merasa nyaman berada di padang pasir dan sabana yang luas dengan sedikit pepohonan. Demikianlah bagi tiap-tiap makhluk ada habitatnya sendiri-sendiri.

Tak terkecuali manusia. Ia juga memiliki habitat perilakunya masing-masing. Penyuka bahan bacaan menikmati lingkungan yang sarat akan buku, majalah, suratkabar, dan jenis bacaan lainnya; Seniman merasa nyaman dan akan menghabiskan waktu berlama-lama di ruang penuh inspirasi; sedangkan artis menggemari kemeriahan tepuk tangan dan sorak sorai pujian.

Begitu pula dengan kekuasaan. Ia lekat dengan habitat. Untuk memertahankan kekuasaan, rekayasa habitat merupakan keharusan. Jika tidak, maka kepunahan bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kepastian.

Mitologi Yunani menunjukkan bagaimana Zeus memilih tragedi sebagai habitat kekuasaannya. Kala ia merasa terancam karena jumlah manusia sudah terlalu banyak, termasuk di dalamnya para manusia setengah dewa yang merupakan keturunannya, Zeus memanfaatkan Momos Sang Dewa Ejekan-Kritikan-Sindiran dan Themis Sang Titan Perempuan Penguasa Bumi untuk kemudian menggunakan Perang Troya sebagai cara mengurangi populasi manusia dan manusia setengah dewa. Demi menyelamatkan dan memerkuat kekuasaannya, Zeus tega membunuh anak-anaknya sendiri.

Di tempat yang lain, penggalan sejarah dunia mencatat bagaimana Harun Al-Rasyid menahbiskan prestasi sebagai habitat pemerintahannya. Baghdad menjadi pusat peradaban berjuluk Kota 1001 malam; Ulama, ilmuwan, dan budayawan terlibat dalam setiap kebijakan pemerintah; Ilmu pengetahuan berkembang dengan didirikannya pusat penerjemahan buku-buku ilmiah dari bahasa asing kedalam bahasa Arab bernama Baitul Hikmah; dan berbagai prestasi lainnya di bidang militer dan penyediaan fasilitas publik lainnya. Pada masa ini, eksistensi dibangun di atas pondasi prestasi.

Legenda memiliki motif. Sejarah mengandung ibrah. Bagi mereka yang bijaksana, hidup adalah replikasi semata.


Tags
#Arif Budiman
#Kolom
#Kekuasaan
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID