logo rilis
Habibie, Murid yang Berkhianat pada Guru?
Kontributor
Yayat R Cipasang
13 Maret 2018, 16:02 WIB
Habibie, Murid yang Berkhianat pada Guru?
Soeharto dan Habibie sangat dekat dianggap keluarga sendiri. FOTO: Istimewa

BERCERITA tentang Bacharudin Jusuf Habibie atau BJ Habibie tak pernah ada habisnya. Mulai dari kisah hidupnya, filmnya, kesetiaan kepada sang istri tak ada tandingannya dan juga prestasinya di tingkat internasional selalu menjadi pembahasan media dalam dan luar negeri.

Termasuk saat ini, ketika Habibie tengah sakit dan dirawat di sebuah klinik di Jerman doa kesembuhan dan ucapan semangat tak henti berdatangan baik langsung atau pun lewat media sosial. Kepemimpinan Habibie yang paling singkat --sekira dua tahun--dari seluruh Presiden di Indonesia diangggap telah mengantarkan pemilu paling demokratis dan menjadikan pers sangat bebas.

Andai saat itu Habibie memilih mundur bersama Soeharto, mungkin cerita negeri ini akan lain. Apakah lebih demokratis atau malah mungkin terjadi kerusuhan? Yang jelas, Habibie dianggap sukses mengantarkan reformasi. Dan itu tercatat dalam sejarah.

Saat Orde Baru tengah berjaya, Habibie seolah anak emas Soeharto dan tak pernah terpisahkan. Namun, ketika Soeharto terpaksa mundur setelah 32 berkuasa pada 21 Mei 1998 dan Habibie menggantikannya saat itu juga, hubungan 'murid' dan 'sang profesor' mulai renggang.

Habibie tak pernah bisa bertemu dengan Soeharto apalagi menyuntuhnya untuk menyapa dan bersalaman. Padahal, Habibie sangat merindukan untuk menyapa dan bercerita tentang Indonesia kepada guru besarnya itu kendati Soeharto terbaring sakit dan sudah tak mengenalinya lagi.

"Salah saya apa?" Itulah pernyataan yang selalu dilontarkan Habibie.

Menarik yang ditulis pengamat militer Salim Said dalam bukunya dari Gestapu ke Reformasi (Mizan, 2013) tentang curhat Habibie tentang hubunganya yang buruk dengan Soeharto.

"Menurut Saudara, mengapa Pak Harto memusuhi saya? Tidak mau menemui saya?" tanya Habibie kepada Salim Said dalam sebuah pertemuan tahun 2011.

"Soeharto sudah merasa gagal. Rencananya membangun dinasti berantakan. Anda sebagai 'bagian dari keluarganya'  diharapkan solider mundur bersamanya. Tapi, ternyata Anda memilih bertahan,' kata Salim Said.

Ini pilihan berat yang berat untuk seorang Habibie. Taat kepada sang profesor atau kepada negara. Rupanya Habibie lebih memilih taat kepada konstitusi daripada menjadi loyalis buta kepada Soeharto. Di sinilah orang menilai kenegarawanan Habibie muncul.

Salam untuk Habibie. Semoga lekas sembuh dan kembali mewarnai Indonesia.


500
komentar (0)