logo rilis

Habibie dan Wanita Lain
Kontributor
Yayat R Cipasang
02 April 2018, 16:08 WIB
Habibie dan Wanita Lain
BJ Habibie dengan latarbelakang pesawat pertamanya. FOTO: Istimewa

BENARKAH dalam hati BJ Habibie alias Rudy Habibie sempat singgah perempua lain selain Ainun? Jawabannya jelas ada. Nah, lho?

Tapi jangan berburuk sangka dulu. Pada masa Habibie muda tentu ada perempua lain yang mengusik hati manusia jenius tersebut. Perempuan itu cantik, bule, dan tentu menggemaskan.

Cerita tentang kekasih Habibie tersebut menjadi bagian tersendiri dalam film Rudy Habibie yang pernah ditonton lebih dari 5 juta orang. Film ini diangkat dari buku Rudy (Kisah Masa Muda Sang Visioner)

Dalam buku tersebut Habibie berkisah misalnya tentang ketakutannya naik pesawat lantaran melihat kengerian Perang Dunia II. Tapi pesawat itu pula yang membuat Habibie kecil terbang ke Jerman dan mendalami ilmu pembuatan pesawat dan menghasilkan puluhan serta mungkin ratusan paten lainnya yang diakui dunia.

Habibie juga berkisah ketika sekolah di Jerman kebutuhan hidupnya selalu terbatas. Termasuk untuk makan sekalipun. Pernah suatu hari di perpustakaan, Habibie sangat lapar dan begitu gembiranya ketika ada seseorang petugas perpustakaan yang memberinya sebuah apel.

Di perpustakaan pula Habibie menghabiskan waktunya dan menunaikan salat. Namun untuk urusan ibadah ini, Habibie sering merasa terganggu lantaran kerap menjadi tontonan para pengunjung perpustakaan.

Untuk salat atau berdoa selain di perpustakaan, Habibie yang saat itu masih berusia 19 tahun kerap melaksanakan salat atau mencurahkan doanya di gereja yang sangat menarik perhatiannya di Aachen. Habibie sangat yakin doanya dikabul Allah Swt. kendati berdoa di gereja karena selepas itu perasaannya menjadi tenang dan kuliahnya berjalan lancar.

Dalam buku ini, terungkap persahabatan sejati antara Rudy dan Lim Keng Kie. Mahasiswa penerbangan di kampus yang sama. Lim Keng Kie yang asli Kuningan, Jawa Barat, dan berlogat Sunda kental ini mendapat beasiswa dari pemerintah adalah teman semasa SMA di Bandung. Sedangkan Habibie kuliah ke Jerman dengan biaya sendiri lantaran terlambat mendaftar.

Saat Habibie menjadi Presiden RI, Lim Keng Kie dan istrinya sempat diundang dan menjadi tamu resmi negara. Namun Lim Keng Kie menolak saat diajak Habibie untuk pulang dan berkiprah di Tanah Air dengan alasan pernah mengajar di kampus yang berhaluan komunis sehingga khawatir dapat menodai karier Habibie.

Habibie juga bercerita tentang seorang sosok perempuan yang sangat dekat sebelum berkenalan dengan Ainun. Perempuan Eropa itu kerap menjadi pendamping Habibie seperti dalam acara-acara di kampus dan juga ketika menonton pertunjukan opera, teater dan berwisata.

Belakangan perempuan bernama Ilona yang juga spesialis radiologi itu menghindar pelan-pelan dari Habibie. Habibie merasa janggal. Dan, Habibie baru mengetahui penyebabnya dari teman-temannya yang kini masih hidup.

"Mereka bilang bahwa Ibu saya waktu ke Jerman tanpa sepengetahuan saya menemui Ilona," kata Habibie.

"Anak saya Rudy itu dari keluarga Habibie. Keluarga Islam terpandang. Bangsa kami juga sedang susah-susahnya. Memangnya kamu mau pindah agama dan pindah ke Indonesia? Karena Rudy harus kembali ke Indonesia," kata Mami Habibie dalam bahasa Belanda yang fasih. 

Buku berjudul Rudy mengisahkan Habibie ketika berumur belasan hingga dua puluhan tahun.

"Buku Rudy menceritakan Habibie waktu umur 18 tahun, Anda bisa lihat," kata Habibie dalam sebuah peluncuran buku.

Mengenai motivasi menulis, Habibie menyebutkan lantaran timbul pertanyaan di masyarakat bagaimana anak muda bisa jadi Habibie. Karena itulah buku Rudy lahir.

"Bagaimana anak kecil yang namanya dipanggil Rudy itu di sekolah bisa jadi Habibie, dia sudah buat kapal terbang, kapal selam, dia membantu beresi Indonesia, dia ditinggalkan istrinya, dia sedih, ya ditulis, ternyata jadi best seller," kata Habibie seperti ditulis Antara.

Habibie menyebutkan buku Rudy ditulis oleh Gina S. Noer yang juga menulis buku Habibie-Ainun yang kemudian difilmkan. Presiden ke-3 RI itu menyebutkan dirinya bukan ahli menulis sehingga Gina dan kawan-kawan yang menulisnya. Wawancara dilakukan selama sekitar setahun.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)