Home » Muda

GMKI Formulasikan Perjuangan Perempuan Merdeka

print this page Kamis, 30/11/2017 | 18:49

FOTO: Dok. GMKI

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Umum PP Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sahat Martin Philip Sinurat, menyatakan, kungkungan patriarki sejak dulu begitu kuat, sehingga membatasi pergerakan perempuan sebagai ciptaan merdeka. Bahkan, Masyarakat masih membiarkan terjadinya diskriminasi dan tindak kekerasan terhadap perempuan. Begitu pula dengan negara, acap kali membiarkan terjadinya ketidakadilan gender.

Karenanya, digelar Konsultasi Nasional Perempuan GMKI di Tobelo, 29 November-2 Desember 2017. "Melalui Konas Perempuan, kita mengajak semua kader perempuan GMKI se-tanah air untuk berkonsultasi tentang apa, bagaimana, dan seperti apa nantinya model atau desain rencana tindak lanjut dari perjuangan perempuan merdeka," ujarnya dalam siaran pers yang diterima rilis.id di Jakarta, Kamis (30/11/2017).

Kata Sahat, kegiatan tersebut merupakan hajat bertama sejak beberapa tahun terakhir. Acara bertajuk "Perempuan Merdeka" itu, dilaksanakan bertepatan dengan kampanye 16 hari antikekerasan terhadap perempuan yang dilaksanakan dari tanggal 25 November-10 Desember.

"GMKI setiap tahunnya selalu turut terlibat dalam kampanye ini, dan Konas Perempuan ini menjadi salah satu momentum penting untuk semakin menguatkan kampanye dan advokasi GMKI terhadap isu-isu perempuan di Indonesia," jelasnya.

Diharapkan GMKI semakin gencar mengadvokasi dan kampanye antikekerasan perempuan ke depannya pascakegiatan tersebut. Kader-kader perempuan GMKI juga diinginkan semakin termotivasi menjadi pemimpin berdaya saing baik, di kampus, organisasi, dan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Umum Sinode Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), pendeta Demianus Ice, menyampaikan, gereja dan lembaga agama berperan penting dalam mendekonstruksi dan mentransformasi pemahaman masyarakat tentang perempuan. Karenanya, dia ingin Konas berkontribusi terhadap persoalan kekerasan perempuan yang masih kerap terjadi.

"Di tengah bangsa yang mengalami krisis moral, perempuan GMKI ditantang untuk tampil sebagai pelayan gereja dan masyarakat yang berbela rasa dengan yang lain," imbaunya.

Sedangkan Bupati Halmahera Utara, Frans Manery, mengapresiasi pelaksanaan Konas Perempuan GMKI. Sebab, menjadi momentum bagi perempuan Halmahera Utara untuk berperan sesuai bidangnya masing-masing. Apalagi, Halmahera Utara mulai berbenah dalam mendorong kepemimpinan perempuan.

"Kepemimpinan di ruang publik sudah ada diisi oleh perempuan. Sayangnya, banyak perempuan Halmahera Utara yang masih membatasi dirinya. Padahal, dari segi jumlah, Halmahera Utara mayoritas dihuni oleh penduduk perempuan. Saya berharap, para peserta, terkhusus yang berasal dari GMKI Tobelo, dapat menjadi penggerak dalam kepemimpinan perempuan di kabupaten ini," harapnya.

Sementara, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang diwakili Staf Khusus Benny Bernard Naraha, menyampaikan, kekerasan terhadap perempuan dan perdagangan manusia masih marak terjadi di berbagai daerah. Dia pun mengakui, pemerintah tak bisa bekerja sendiri menyelesaikan persoalan-persoalan itu.

"Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan GMKI ini, yang menunjukkan, bahwa para pemudi turut prihatin dan terlibat dalam mengurangi dan meniadakan kekerasan terhadap perempuan Indonesia. Kami dari Kementerian PP dan PA, siap untuk bekerja sama dalam advokasi dan pemberdayaan perempuan di daerah-daerah," katanya. Diharapkan para peserta membangun komunitas di daerah masing-masing. Sehingga, ketika terjadi persoalan perempuan, dengan cepat dapat diadvokasi.

Penulis Henrikus Setya Adi
Editor Fatah Sidik

Tags:

GMKIKementerian P3ADiskriminasi Gender