Home » Muda

Jaga Toleransi dan Perdamaian, GMKI: Dialog Cara yang Efektif

print this page Jumat, 17/11/2017 | 17:56

International Interfaith Dialogue dan Pertemuan Nasional Senior GMKI di Taman Budaya, Ambon, Maluku, Kamis (16/11/2017). FOTO: RILIS.ID/Henrikus Setya

RILIS.ID, Ambon— Ketua Umum PP Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sahat Martin Philip Sinurat, menyampaikan, kita harus mewujudkan masyarakat toleran dan damai. Sehingga, bisa maju membangun peradaban bersama.

"Salah satu caranya, adalah dengan mengenal dan memahami satu sama lain. Dengan kondisi bangsa yang majemuk dan dinamis ini, saya ingin menekankan, bahwa pemahaman lintas budaya adalah kemampuan yang dibutuhkan pemuda saat ini," ujarnya saat pembukaan International Interfaith Dialogue dan Pertemuan Nasional Senior GMKI di Taman Budaya, Ambon, Maluku, Kamis (16/11/2017).

Menurut Sahat, dialog merupakan salah satu cara efektif dalam mewujudkan toleransi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Tapi, penting juga mengetahui bagaimana kebudayaan dan kebiasaan dari tiap orang. Sehingga, komunikasi tak berbenturan dengan budaya di tiap negara atau daerah.

"Kita harus mampu mengatasi permasalahan intoleransi dengan pendekatan budaya lokal, mengedepankan dialog, dan menerima kondisi bangsa yang majemuk. Sehingga, mampu merawat ke-Bhineka Tunggal Ika-annya. Semua itu demi Indonesia yang dicita-citakan, Indonesia yang mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya," jelasnya.

Sementara, Wakil Ketua Federasi Mahasiswa Kristen Dunia Regional (WSCF) Asia Pasifik, Saman Jayasuriya dari Sri Lanka, menyampaikan, kegiatan dialog lintas agama yang dilakukan GMKI perlu dilakukan. Alasannya, intoleransi merajarela bukan hanya di Indonesia, tetapi di berbagai negara lain. "Sehingga, pemuda dari berbagai negara dapat berbagi pengalaman, bagaimana nilai toleransi dan perdamaian dapat diwujudkan," katanya.

Pada kesempatan sama, Menteri Agama yang diwakili Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Prof Thomas Pentury, mengatakan, persoalan-persoalan terkait umat beragama dan antaragama menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk pemerintah, dalam beberapa tahun terakhir.

"Berbagai bentuk dan varian diskriminasi sosial yang terjadi atas nama agama, kemudian coba diselesaikan melalui kebijakan dan program pemerintah atau setidaknya, kebijakan ini menjadi pendorong bagi terciptanya suatu kehidupan umat beragama yang harmonis dan membangun jaringan kerja sama antarumat beragama di seluruh Indonesia," paparnya.

Menurut mantan Rektor Universitas Pattimura ini, perbedaan di antara masyarakat dapat mengakibatkan gesekan. Misalnya, konflik agama, etnis, ataupun karena kesenjangan ekonomi. Karenanya, Thomas meminta gerakan pemuda seperti GMKI, berperan menjaga keberagaman dan menjalin persatuan.

"Kami juga mengingatkan kepada pemuda dan mahasiswa, bahwa agama apapun di dunia ini pada hakikatnya mengajarkan tentang kasih dan perdamaian. Pemuda menjadi generasi penerus yang harus selalu mengingat pentingnya perdamaian bagi peradaban Indonesia dan dunia," tandasnya dalam acara yang dihadiri 24 peserta internasional dari 19 negara, 115 peserta dari berbagai daerah, OKP se-Indonesia, serta 130 senior GMKI.

Penulis Henrikus Setya
Editor Fatah H Sidik

Tags:

GMKIToleransiKemenagPemuda