logo rilis
Giring Nidji, Kampanye Murah dan Makan Jengkol
Kontributor
Sukma Alam
19 Maret 2018, 09:30 WIB
Giring Nidji, Kampanye Murah dan Makan Jengkol
ILUSTRASI: Hafiz

GIRING Ganesha alias Giring Nidji di antara sejumlah pesohor yang akan menguji peruntungan dalam Pemilu 2019. Melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pentolan grup band Nidji ini berkiprah.  

Dengan latar belakang keluarga besar seorang pendiri Partai Golkar, Sukarnois dan orang tua veteran wartawan perang, ia optimistis menjadi politisi yang melayani masyarakat dan bangsa.

Benarkah salah satu guru politiknya, Jokowi? Seperti apa Giring berguru? Berikut ini petikan wawancara jurnalis rilis.id Sukma Alam dengan Giring di Jakarta, Jumat (16/3/2018).

Menurut Anda, politik yang dipahami itu seperti apa?
Menurut saya, politik itu adalah sebuah alat untuk mendapatkan kekuasaan, kekuasaan untuk kepentingan saya bisa melayani masyarakat, mensejahterakan masyarakat serta mengabdi bangsa ini. Yah, kepentingan untuk bisa mensejahterakan masyarakat itu bisa terjadi, alatnya politik.

Ada keluarga yang pernah terjun ke politik?
Keluarga besar saya, Pakde saya adalah salah satu tokoh pendiri Partai Golkar, terus juga bapak saya adalah seorang wartawan perang dan bisa dibilang keluarga inti aku Sukarnois semua. Jadi ngomongin politik dan kebangsaan itu yah itu sudah makanan sehari-hari di meja makan. Tapi yang kita omongin ialah mengenai founding father kita bagaimana mereka bisa menjadi seorang negarawan bukan seorang seorang politisi.

Faktanya anak muda apalagi generasi milenial sudah apatis dengan politik?
Enggak juga ah. Banyak anak muda yang melek dengan politik, cinta banget sama negaranya dan melakukan aksi sosial bersuara di media sosial. Tapi banyak juga anak muda yang merasa 'waduh' enggak ada efeknya pada gua, mendingan nonton film saja atau main On Line game saja. Jadi menurut gua, yah milienial itu semakin ke sini, makin melek buktinya aja di Instgram dan di Facebook aku kebanyakan anak muda juga. 

Penilaian Anda tentang politk Indonesia mutakhir?
Menurut saya ini masih pendewasaan. Menurut saya ini proses, kalau kita belajar dari sejarah Amerika Serikat, pada awalnya politik disana masih terasa kencang politik identitasnya. Tapi lihat sekarang, sebelum Trump, Barrack Obama adalah President Amerika Serikat African American yang terpilih dua kali.

Kuliah Anda berlatar belakang politik?
Ada kok. Waktu di kampus. Saya mahasiswa Ilmu Politik di Paramadina.

Punya guru politik?
Banyak banget. Sekjen PSI Raja Juli Antoni, Pak Jokowi (presiden RI) pasti dong. Jokowi kan setengah profesional, setengah politisi. Dia tak pernah ngomong dirinya politisi cuma menurut saya dia mengerti dengan baik mengatur kekuasaanya untuk tujuan yang baik.

Seperti apa perbedaan jadi politisi dan musisi?
Kalau di musik banyak berinteraksi dengan musisi, artis, penyanyi dan EO. Kalau sekarang kan ketemunya dengan teman parpol yang lain. Jadi masih adaptasi, kalau sebelumnya biasa di back stage kita ketawa-ketiwi tentang musik, membahas video klip dan apapun yang sedang terjadi. Kalau sekarang ketemu politisi-politisi lain.

Tapi sejauh ini Anda merasa nyaman?
Enjoy sih perjalanan ini karena saya memiliki waktu lebih tertata rapi. Sabtu dan Minggu sama keluarga. Senin-Jumat turun ke lapangan bertemu konstituen, meeting partai atau mengurus kincir.com. Dulu ngurus waktunya enggak karuan. Sekarang lebih enakan karena work life nya sangat balance.

Di Nidji masih aktif?
Masih istirahat.

Kalau nge-band?
Nyanyi masihlah di acara amal dan lain-lain.

Perjalanan politik yang paling berkesan?
Berkesan itu waktu lagi diuji PSI untuk Ujian Caleg yang dilakukan oleh juri-juri Independen. Setiap kadernya diuji secara transparansi jadi konstituen akan mengetahui kualitas dari para Calegnya. Semua caleg itu diuji kaya ujian skripsi-lah jadi enggak sembarangan dipilih. Semua video uji caleg ada di YouTube. Saya senang divideoin banyak ditonton orang dan juga pasti di tonton orang. Waktu itu saya diuji Hamdi Muluk (Guru Besar UI) dan Ibu Marie Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia). Mereka setuju dengan tesis saya dan ide saya. Alhamdulillah  saya di PSI lulus dan pantas apa untuk maju di pemilu legislatif.

Visi Anda jadi caleg?
Saya mau majuin pendidikan dengan memperbaikinya agar sesuai zaman.

Contohnya?
Semua itu serba hafalan. Zaman sekarang itu ada internet. Menurut saya yang penting, budi pekerti, disiplin, berkomunikasi baik, berkolaborasi dengan baik, berfikir kritis, yah seperti itu harus kita utamakan.

Rencanya Dapil mana?
Jabar 1 (Kota Bandung dan Kota Cimahi).

Modal politik maju di Parlemen?
Waktu, yah. Itu modal saya bertemu masyarakat dan lebih banyak mendengar.

Ketemu masyarakat keluar modal?
Ada yang diundang sebagai bintang tamu, ada juga pakai uang sendiri, misalnya untuk makan dan nginep di hotel.

Seperti apa strategi kampanyenya?
Menurut saya enggak bisa lagi kita modal baliho dan media sosial. Sudah enggak bisa. Kalau benar mau tahu di bawah yah harus turun dan hadir diantara mereka, mendengarkan dengan ikhlas dan mencoba membantu sebisa kita untuk saat ini.

Respons masyarakat bagaimana sejauh ini?
Berkah Bos. Alhamdulliah. Saya paling anti dengan money politic. Malah saya bersyukur banget karena selalu di jamu menu favorit saya (murah) nasi pakai jengkol, pakai sambel dan tempe dan ayam. 

Harapan Anda untuk Indonesia?
Saya ingin persiapkan sumber daya manusia melalui pendidikan sehingga bangsa Indonesia dapat bersaing di masa depan.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)