logo rilis
Ghost Fleet, Weak Signal (Jangan) Diabaikan
Kontributor

27 Maret 2018, 15:04 WIB
Ghost Fleet, Weak Signal (Jangan) Diabaikan

Ramai soal Indonesia Bubar 2030, bahkan bisa lebih cepat kata mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Bagi pengamat kebijakan strategis, keamanan dan pertahanan hal ini bukan suatu yang mustahil jika dikaitkan dengan kebijakan pemerintah Jokowi perekonomian yang berbasis hutang dewasa ini. Ini merupakan kritik, boleh dibilang semacam Weak Signal.

Kami jadi ingat dengan jurnnal ilmiah yang ditulis oleh Paul J.H. Schoemaker dan George S Day berjudul “How to Make Sense of Weak Signals" atau "Bagaimana Memahami Sinyal Lemah”. Mereka ingin menggambarkan bagaimana berbahayanya bagi sebuah organisasi bisnis atau perusahaan, apalagi negara jika mengabaikan "Weak Signals" atau peringatan/ancaman selemah apapun itu.

Ada banyak peristiwa manakala policy maker, pimpinan, pejabat publik, intelektual mengabaikan atau tidak memperhatikan "Weak Signals" dalam pemerintahan, politik, peperangan ataupun bisnis. semua sektor tersebut jika kita berfikir secara integral dan holistik akan saling bersinggungan dan mempengaruhi. Dalam konteks bisnis, yang terjadi beberapa perusahaan keuangan bertaraf internasional seperti Northern Rock, Countrywide, Bear Stearns serta Lehman Brothers dan Merrill Lynch dalam kasus kredit macet sektor perumahaan atau yang terkenal dengan Subprime Mortgages pada tahun 2007. Walaupun sejumlah pihak sudah pernah mengingatkan seperti Edward Gramlich, Gubernur Federal Reserve pada tahun 2001, Warren Buffet pada tahun 2002, Jhon Paulson yang menyoroti terjadinya kredit yang melebihi batas normal dalam sektor perumahan pada tahun 2006.

Peristiwa lainnya adalah serangan mendadak atau Surprise Attack Jepang di Pearl Harbour pada 7 Desember 1941. Peristiwa ini nyata, yang kemudian diceritakan kembali oleh Penulis Ghost Fleet, Peter Warren Singer dan August Cole bahwa Pejuang dan drone Rusia dapat meluncurkan serangan di pangkalan militer AS di Okinawa, dan kehadiran militer Amerika di Jepang dinetralkan. Didukung oleh Rusia, Cina mampu menguasai Hawaii setelah pertempuran berdarah, mendirikan Kawasan Administratif Khusus Hawaii. Serangan tersebut menyebabkan kehancuran total Armada Pasifik Amerika Serikat.

Kita semua juga tahu bahwa Cina mencoba untuk menguasai jalur Laut Cina Selatan dan mengamankan dominasi di Pasifik. Jika konflik terjadi di Laut Cina Selatan, pasti akan berdampak besar di Indonesia. Bisa saja terjadi kerusuhan rakyat mengarah pada pembubaran Partai yang berhaluan komunis seperti yang dijabarkan oleh Peter Warren Singer dan August Cole dalam kontek kondisi Cina juga akan mengalami konflik di dalam negeri. Partai Komunis Tiongkok sebagai center of gravity digugat lewat operasi intelijen dan Tiongkok akhirnya diperintah oleh campuran pengusaha dan pemimpin militer yang dikenal sebagai Direktorat.

Peristiwa Pearl Harbour dan Laut Cina Selatan, jika kita kaitkan dengan tesis Paul J.H. Schoemaker dan George S Day, kegagalan dalam memahami Weak Signals seringkali disebabkan karena bias baik yang dilakukan perseorangan ataupun bias yang terjadi dalam tubuh organisasi itu sendiri. Bias yang dilakukan perorangan atau pribadi biasanya terjadi karena kesalahan dalam memfilter atau menyaring informasi yang masuk, sehingga membuat assesment yang salah. Disamping itu, karena distorsi kesimpulan yang terjadi akibat rasionalisasi yang salah atas fakta, wishful thingking atau impian dan egosentris. Perang opini menjadi senjata bias yang paling ampuh, menjadikan policy maker mengabaikan Weak Signal. Mereka yang melakukan operasi sehingga masyarakat mengabaikan weak signal adalah kalangan buzzer dari strata yang berbeda-beda, tokoh masyarakat, akademisi, pejabat publik mereka ini yang membuat masyarakat tidur dan bermimpi.

Faktor lainnya adalah kesalahan yang membungkus atau meringkas bukti baru yang dikonfirmasikan dengan perspektif kita serta kurang mencari bukti-bukti lainnya yang mendukung, sehingga terjadi keseimbangan. Menurut Irving Janis dalam bukunya “Groupthink: Psychological Studies of Policy Decisions and Fiascos” (1990), bias yang dilakukan perseorangan adalah persoalan psikologis yang disebut dengan “groupthink” yang terjadi akibat analisa yang terlalu sempit, visi yang sederhana, kekurangan informasi dan kesalahan dalam menerjemahkan konsensus.

Sementara itu, bias yang dilakukan organisasi disebabkan karena informasi yang diterima harus melintasi banyak departemen atau pihak lainnya, sehingga ada yang mengacuhkan ataupun memperhatikannya, yang berakibat tidak cepatnya dibuat keputusan yang menyebabkan terjadinya strategic surprise atau surprise attack, dimana dicontohkan oleh Paul J.H. Schoemaker dan George S Day pada saat sebelum terjadinya serangan 11 September 2001 di WTC New York, dimana pihak Bandara Amerika Serikat sudah mendapatkan lebih dari 105 laporan intelijen, dimana 55 laporan menyebutkan Osama bin Laden atau Al Qaeda akan menyerang Amerika Serikat, namun karena laporan ini harus diteruskan ke beberapa birokrasi pemerintah, menyebabkan rencana serangan teroris terhadap Amerika Serikat tidak tertangani dengan baik, walaupun tanda-tandanya sudah terdeteksi.

Weak Signal Jangan Diabaikan

Lebih lanjut Paul J.H. Schoemaker dan George S Day menjelaskan ada 3 cara dalam memahami weak signals yaitu pertama, scanning for weak signals (pemindaian atau pembacaan sepintas atas sinyal lemah) melalui mengaktifkan permukaan sinyal lemah dengan cara mengakses informasi intelijen dan distribusinya dengan hati-hati karena melintasi banyak jaringan sosial, mengungkit jaringan tambahan serta memobilisasi semua bagian dalam rangka mengidentifikasi dan menggambarkan weak signals sehingga lebih dapat dinilai.

Kedua, sense making (membuat masuk akal) dengan memperkuat sinyal lemah yang menarik dengan cara menguji banyak hipotesa, menggambarkan “kebijakan dari kerumunan” dengan bertanya kepada para pakarnya melalui Delphi polling dan mengembangkan beberapa skenario. Ketiga, probing and acting (penyelidikan dan aksi) melalui penyelidikan lebih lanjut dan klarifikasi dengan cara mencari informasi-informasi baru dalam rangka “mengkonfrontasi realitas yang sudah ada”, mendorong terjadinya komunikasi yang konstruktif, karena akan menghasilkan laporan intelijen yang lebih baik, mendapatkan banyak opsi/pilihan serta dapat menjelaskan lebih mendalam atas isu-isu yang terjadi serta biasanya Policy Maker atau pimpinan yang sudah berpengalaman seringkali mengambil keputusan berdasarkan “hunches” atau firasat.

Cara lainnya dalam rangka memahami weak signals adalah dengan melihat gambaran permasalahan yang lebih luas dan masuk akal, dengan cara melihat permasalahan dalam berbagai sudut pandang, sebab dengan cara ini Policy Maker atau pimpinan akan lebih baik dalam mengeksplorasi berbagai implikasi yang potensial. Disamping itu, cara lainnya dalam memahami weak signals adalah “bertanya kepada oposisi atau kepada pelanggan dan pesaing”, karena perspektif yang banyak dan metode yang banyak akan membantu menginterpretasikan sinyal lemah/weak signals dari pinggiran.

Pada dasarnya, saran Paul JH Schoemaker yang juga Direktur Penelitian di Mack Center for Technological Innovation dan George S Day yang merupakan Profesor di bidang pemasaran di Wharton menyatakan, weak signals jangan pernah tidak dipedulikan, dilupakan ataupun didistorsikan. Permasalahan umum yang terjadi adalah kalangan Policy Maker atau pimpinan seringkali terjebak dalam kognisi yang tidak menguntungkan dan bias emosi yang menghalangi mereka dalam membuat keputusan ketika menginterpretasikan weak signals/sinyal lemah.

Sementara itu, menurut Sandro Mendonca, Miguel Pina e Cunha, Jari Kaivo-oja dan Frank Rouff dalam tulisan “Wild Cards, weak signals and organizational improvisation” (2004) menyatakan, weak signals adalah perubahan-perubahan potensial dari sebuah sistem menuju arah yang tidak dapat diketahui atau tidak menentu. Sedangkan, BS Coffman dalam Weak Signals Research Part III (1997) menyatakan, ada beberapa indikasi weak signals akan menjadi “wild cards” atau faktor yang mendorong perubahan ancaman dan peluang bagi negara ataupun organisasi. Weak signals jangan pernah tidak dipedulikan, dilupakan ataupun didistorsikan. Memahaminya membutuhkan kedewasaan, pengalaman dan kecerdasan dari Policy Maker.

Ya, Ghost Fleet berhasil menarik perhatian kita. Membangunkan bangsa kita dari tidur panjang. Rasionalitas dan kemampuan kita menerima kritik, karena terbiasa mengkritik, ketika berkuasa tak kuasa di kritik. Indonesia Emas di 2045 tidak mungkin bisa diwujudkan jika skenario-skenario yang berbusa-busa diopinikan tidak diimplemtasikan. Atau sekenario yang dibuat berbanding terbalik dengan harapan yang diinginkan. Tidak mungkin Indonesia Emas dibangun dari hutang, import yang masif disegala bidang, Narkoba dimana-mana, pekerja asing menjadi perioritas di negeri sendiri dan 70 persen tanah dikuasi 1 persen orang.

Indonesia Emas 2045 haruslah dihuni oleh kaum pribumi Indonesia, bukan bangsa Asing. Jangan-jangan Indonesia 2045 bukan lagi milik pribumi, Indonesia di naturalisasi oleh kepemilikan asing, ini bukan sepak bola Indonesia tapi Bangsa Indonesia.


##GhostFleet #IndonesiaEmas #IndonesiaBubar2030 #WeakSignal #WildCard #StartegicSurprise
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID