logo rilis
Gerakan Tanam Bunga Kamboja sebagai Refugia pada Ekosistem Padi di Karanganyar
Kontributor
Elvi R
06 November 2019, 07:52 WIB
Gerakan Tanam Bunga Kamboja sebagai Refugia pada Ekosistem Padi di Karanganyar
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Berawal dari perfoma pertumbuhan tanaman padi di sekitar pemakaman yang selalu bagus dibanding dengan pertanaman padi yang jauh dari pemakaman, muncul rasa penasaran dari Pak Sulistiyo, purnatugas POPT Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar. Tampak jelas perbedaan intensitas serangan hama penggerek batang padi pada fase generatif (beluk) dengan intensitas yang lebih rendah pada pertanaman padi di sekitar pemakaman dari pada pertanaman padi yang jauh dari pemakaman.

Pengalaman rekayasa ekosistem pertanaman padi dengan penanaman berbagai jenis tanaman refugia, menjadi titik tolak muncul ide untuk melihat vegetasi di pemakaman. Alhasil di pemakaman dipenuhi dengan tanaman kamboja dengan beberapa jenis warna bunga. Tidak menunggu lama, segera dilakukan pengamatan secara berkala pada kanopi tanaman kamboja menggunakan sweepnet (jaring serangga). Benar adanya, hasil pengamatan ditemukan tiga jenis parasitoid penggerek batang padi yaitu Telenomus, Tetrastichus dan Trichogramma, serta beberapa jenis predator seperti laba-laba dan kumbang paederus yang merupakan musuh alami bagi hama penggerek batang padi.

Pengamatan pun berlanjut di pertanaman padi dengan melihat intensitas serangan penggerek batang dan produksi padi, berdasarkan jarak pertanaman dengan pemakaman. Hasilnya pun cukup signifikan, selain intensitas serangan penggerek batang yang lebih rendah, produksi padi di sekitar pemakaman juga lebih tinggi dari pada pertanaman yang jauh dari pemakaman, bahkan terdapat selisih hasil antara 1-2 ton per hektare. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tanaman kamboja berperan sebagai refugia?

Berkolaburasi dengan ahli matematika modeling, Pak Sulistiyo berdiskusi banyak terkait dengan jenis hama, predator dan parasitoid pada ekosistem pertanaman padi, serta perilaku dan karakter biologisnya. Dengan mengolah data sekunder dan data primer hasil pengamatan, dapat ditunjukkan adanya hubungan antara keberadaan tanaman kamboja yang berperan sebagai refugia dengan intensitas serangan penggerek batang dan produksi padi.

Berbekal hasil analisis data inilah, Pak Sulistiyo menyuarakan kepada kelompok tani, gapoktan, pamong desa, dan muspika, untuk melakukan gerakan penanaman tanaman kamboja secara massive (kambojanisasi) di sejumlah titik pada hamparan pertanaman padi di wilayah Kecamatan Jaten sebagai bagian upaya pengendalian hama terpadu padi ramah lingkungan, seperti yang pernah dilakukan sebelumnya dengan penanaman beberapa jenis tanaman refugia lainnya. Menjadi keunggulan tersendiri dengan menanam tanaman kamboja sebagai refugia, karena tanaman kamboja mampu berbunga sepanjang tahun, dan relatif tahan terhadap kekeringan, serta merupakan tanaman tahunan, sehingga tidak perlu dilakukan penanaman berulang seperti jenis tanaman refugia lainnya.

Ide gerakan kambojanisasi direspons baik oleh muspika, pamong desa, serta gapoktan di wilayah Kecamatan Jaten, bahkan telah disampaikan kepada Menteri Pertanian saat kunjungan kerja di Kabupaten Karanganyar. BPTP Jateng Badan Litbang Pertanian sebagai kepanjangan Kementerian Pertanian di Provinsi Jateng pun segera merespon gerakan ini. Diawali dengan koordinasi, diskusi dan visitasi lokasi serta melakukan pengamatan bersama di lapangan, selanjutnya BPTP Jateng menginisiasi untuk penyelenggaraan FGD Potensi Pemanfaatan Tanaman Kamboja sebagai Refugia pada Ekosistem Pertanaman Padi, dengan mempertemukan pakar Entomologi dari Unibersitas Sebelas Maret (UNS), POPT dari BPTPH Prov. Jateng, Dinas Pertanian dan Perkebunan Prov. Jateng, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar, serta Peneliti Hama dan Penyakit Tanaman dari BPTP Jateng bersama Pak Sulistiyo dan gapoktan se Kecamatan Jaten.

Pemahaman umum tentang refugia dan jenisnya, jenis-jenis hama dan musuh alami di ekosistem pertanaman padi, serta kebijakan pengendalian hama terpadu tanaman pangan di Prov. Jateng, menjadi pembahasan dan diskusi produktif peserta FGD. Potensi tanaman kamboja sebagai refugia, serta keuntungan ekonomi dan estetika tanaman kamboja, menjadi penyemangat bagi kelompok tani untuk melaksanakan gerakan kambojanisasi. Bahkan Camat Jaten memotivasi, mengajak, dan memfasilitasi semua kelompok tani dari setiap desa untuk segera memulai memperbanyak tanaman kamboja untuk mengawali gerakan kambojanisasi di Kecamatan Jaten.

"Kita jadikan kambojanisasi pada ekosistem pertanaman padi sebagai icon pengembangan padi ramah lingkungan di Kabupaten Karanganyar", kata Camat Jaten.

Sumber: RHP/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID