Home » Fokus

Gerai Online 'Merangsang' Belanja

print this page Jumat, 5/1/2018 | 14:42

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

"ADUH, gue mau beli tas, deh," kata wanita, teman kantor saya. "Yuk, udah lama juga enggak nge-mall," ajak saya dengan antusias.

Tapi, ia tak menjawab. Matanya malah asyik meloloti gadget. Beberapa kali, ibu jarinya tampak men-scrolling layar mini yang digenggamnya.

"Astri!" panggil saya sedikit berteriak. Barulah ia membuang pandangan. Perempuan yang kerap tampil necis itu awalnya tak memberi tanggapan. Malah, menunjukan rentetan gambar di balik gawai.

"Gak ke mall keles," kata dia singkat.

Ohh...cuma kata itu yang terlintas. Saya melihat Astri kembali fokus ber-shoping online. Oke lah kalau transportasi berbasis non tunai menjadi populer. Tapi, apa belanja juga harus demikian?

Bagi saya, kualitas barang itu utama. Kalau hanya melihat di foto, siapa yang menjamin "penampakannya" serupa, kan? Lalu, gimana potensi penipuan. Uang udah ditransfer tapi, pesanan tak kunjung datang.

"Siapa yang menjamin barang elo...," kata saya yang belum selesai. Terpotong sahutan Astri.

"Barangnya sesuai? Nyampe ke lokasi pengiriman?" ujar dia menyambar. Astri menghela nafas, matanya seperti menembus isi kepala saya ketika itu.

Kata Astri, semua balik lagi ke pengalaman. Para konsumen online tentu dapat mengecek track record si penjual. Pilihan lain, kan ada sejumlah e-commerce terpercaya yang jadi acuan.

Fix. Saya terlampau "gaptek" untuk itu. Tapi, satu hal yang saya paham, teknologi ini sukses mengubah kebiasaan jalan-jalan, karena orang-orang tak harus beranjak ke luar untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

Olshop versus Ritel

Berdasarkan hasil penelitian Temasek bersama Google bertema "The Opportunity of Indonesia" yang dilansir Tirto, pertumbuhan e-commerce Indonesia meningkat seiring dengan banyaknya pengguna internet.

Pada 2015, terdapat 92 juta warganet di Indonesia, 18 juta di antaranya adalah pembeli online. Jumlah ini akan terus berkembang, bahkan 2020 mendatang, ditaksir 215 juta pengguna internet, dengan 119 juta yang hobi akses olshop.

Dalam penelitian itu juga memprediksi nilai pasar belanja online domestik akan mencapai 81 US dollar di tahun 2025. Indonesia akan mendominasi urusan ini di kawasan Asia Tenggara.

Country General Manager ShopBack Indonesia, Indra Yonathan, pernah menggelar survei terkait kultur jual-beli masyarakat Indonesia di gerai online

Ternyata, mereka yang sudah menjajal olshop, mulai enggan belanja di toko-toko konvensional atau offline. Adanya diskon membawa pengaruh signifikan.

"Sebanyak 49,9 persen responden wanita mengungkapkan harga dan diskon menjadi penentu utama. Begitu juga 45,2 persen responden pria," kata Indra.

Selama 2017 lalu, banyak toko ritel besar yang gulung tikar. Seperti Matahari di Pasaraya Manggarai, Lotus dan Debenhams. Isu yang beredar karena mengguritanya onlayn-onlaynan tersebut. Ngeri.

Benarkah demikian? Pemerintah menyatakan, tidak! 

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartanto pernah menyatakan kalau toko konvensional itu tutup tak melulu lantaran e-commerce.

Perkembangan industri ritel ini bergantung pada inovasi campuran produk (product mix). Bila tepat, konsumen pasti bertahan. Semisal, apa yang sesuai dengan pasar di sekitarnya.

Senada juga dengan Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta. Ia menilai, faktor seperti lokasi tak strategis, persaingan bisnis dan daya beli menjadi penyebab lesunya toko konvensional.

"Bukan online faktor utama," sanggah dia.

Masalah toko ritel itu tutup atau buka, adalah hal biasa. Jika ingin menyalahkan olshop, harus melihat lebih jauh, nih. Banyakan mana yang buka (baru) atau tutup. Tentu yang buka, kan. Lanjut Tutum.

Selain itu, toko-toko ini juga menjajal kedai online seperti Matahari, Ramayana, Carefour dan terakhir adalah Sarinah.

Ya, namanya juga era digital. Tapi, sudah siapkah bangsa ini menghadapi disrupsi ini? (bersambung) 

Baca juga:
'Cashless Society' Membanjiri Transaksi (bag.1)
Gerai Online 'Merangsang' Belanja (bag.2)
Masih Terbiasa Cara 'Zaman Old' (bag.3)
Menargetkan Mereka 'Melek' Pola Kekinian (bag.4)
Melihat Kompetensi Indonesia di Era Digital (bag.5)

Penulis Andi Mohammad Ikhbal

Tags:

Belanja onlineTransaksi non tunaigenerasi milenialuang elektronikdisrupsi