logo rilis

Generasi Pejuang
kontributor kontributor
Mohammad Nasih
23 Mei 2018, 19:31 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
Generasi Pejuang
ILUSTRASI: Hafiz

IBNU Khaldun, seorang pemikir besar yang menjadi rujukan banyak ilmuan dunia dan sesungguhnya juga adalah politikus ulung, mengajukan tahapan tentang pasang surut peradaban. Dalam tahapan-tahapan yang kemudian sering disebut sebagai teori siklus itu, Ibnu Khaldun menyebut empat generasi yang ada di dalamnya, yaitu: generasi perintis atau pejuang, generasi penerus, generasi penikmat, dan generasi pemboros. 

Generasi pemboros menjadi penyebab sebuah peradaban runtuh. Generasi penikmat adalah generasi yang hanya menikmati apa yang telah ada dan tidak memiliki kepedulian sama sekali kepada masa depan negara. Generasi penerus sudah mulai stagnan, karena hanya mempertahankan tradisi yang diterima dari para pendahulu. Generasi pejuanglah yang meretas jalan baru untuk membangun sesuatu yang unik dan memiliki keunggulan komparatif. Mereka berjuang dengan pertaruhan antara hidup mulia atau mati berkalang tanah. 

Baca Juga

Siklus sebagaimana disebut oleh Ibnu Khaldun di atas merupakan sebuah kenyataan, karena dunia ini selalu terbuka untuk berbagai macam bentuk perubahan. Sesungguhnya, dalam skala kecil, siklus ini bisa ditemukan dalam keluarga. Keluarga yang baik akan selalu berusaha untuk mempertahankan generasi berikutnya tetap menjadi generasi pejuang, bukan membiarkan mereka sebagai sekadar penerus, penikmat, apalagi pemboros. 

Sekadar sebuah contoh adalah keluarga KH. Hasyim Asy’ari yang sampai dua generasi berikutnya melahirkan tokoh-tokoh yang terbukti mampu bertahan sebagai generasi pejuang, bahkan secara formal mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional. KH. Hasyim Asy’ari menjadi tokoh pejuang pergerakan nasional, yang melahirkan KH. Wachid Hasyim yang pernah menjadi menteri di masa awal kemerdekaan, yang melahirkan KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang menjadi tokoh agama dan politik sampai menjadi presiden RI. Ketiganya merupakan tokoh-tokoh yang selalu memiliki pemikiran-pemikiran dan kemudian memperjuangkannya tanpa mengenal rasa takut, bahkan berani mengorbankan semua yang mereka miliki.

Demikian pula dengan organisasi sosial kemasyarakatan. Bisa dipastikan bahwa organisasi-organisasi besar yang ada sekarang dibangun oleh generasi pejuang yang punya visi besar. Namun, saat ini di dalamnya terdapat lebih banyak orang yang memanfaatkan organisasi untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka hanya mengerjakan aktivitas-aktivitas tanpa semangat tinggi tanpa inovasi. Bahkan mereka masuk ke dalamnya karena ingin mendapatkan keuntungan material semata. Inilah yang menyebabkan organisasi yang awalnya memiliki heroisme kuat kemudian menjadi organisasi yang lemah dan minim kontribusi. 

Berbagai hukum alam yang terdapat di dalamnya, sangat memungkinkan terjadinya perubahan yang dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi semakin cepat. Cepat atau lambat perubahan tergantung kepada kemampuan manusia memahami hukum-hukum alam dan menjadikannya sebagai modal untuk membuat berbagai macam perangkat atau sarana untuk mempermudah mereka menjalani kehidupan. Yang mampu mengendalikan perubahan, akan menjadi pemenang. Yang mampu berselancar dalam gelombang perubahan akan selamat. Dan yang tidak mampu memahaminya, akan tergulung dan kemudian musnah. Untuk itulah diperlukan generasi pejuang yang akan terus memelopori perubahan dan memenangkan persaingan dunia yang semakin ketat.

Ciri generasi pelopor adalah selalu tidak puas dengan keadaan, sehingga berusaha untuk mencari dan menciptakan sesuatu yang baru dan lebih baik. Generasi ini, walaupun menghadapi kesulitan yang luar biasa, senantiasa berusaha agar menemukan sesuatu yang berbeda dengan yang telah ada sebelumnya. Mereka tidak memiliki rasa lelah dan bosan untuk berusaha karena kelenjar-kelenjar hormonal positif mereka terpacu, sehingga menghasilkan kerja-kerja optimal.  

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting untuk melahirkan generasi pelopor. Namun, tidak semua keluarga memiliki kemampuan dan kesempatan untuk melakukannya. Karena itu, diperlukan lembaga-lembaga pendidikan, baik yang dibentuk atau dibangun oleh negara maupun nonnegara, untuk melahirkan generasi pejuang secara masif. Karena itu, lembaga-lembaga pendidikan harus benar-benar mendapatkan perhatian yang serius dari negara. 

Para pendidik di dalamnya haruslah orang-orang berkualitas terbaik. Tidak hanya pengetahuan yang mereka memiliki, tetapi juga harus memiliki kualitas sebagai profesional dan juga memiliki wawasan yang komprehensif tentang politik kenegaraan. Seorang pendidik yang berkualitas, akan mampu memberikan panduan untuk meretas jalan baru bagi para generasi baru untuk menempuh jalan perjuangan untuk mewujudkan kejayaan. Wallahu a’lam bi al-shawab.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)