logo rilis
Generasi Milenial Susah Kejangkau
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
16 Maret 2018, 22:12 WIB
Generasi Milenial Susah Kejangkau
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

NGEJANGKAU generasi milenial adalah tantangan bagi semua partai politik (parpol) peserta Pemilu 2019. Apalagi, tak semua dari mereka tertarik dengan politik. Padahal, ceruk pemilih di kalangan itu, terbilang cukup besar.

Generasi yang tumbuh berkelindan dengan pesatnya kemajuan teknologi ini, ternyata masih sulit dijangkau parpol. Alih-alih ingin kekinian, partai sebenarnya malahan abai ke anak muda.

"Saya kira salah satu pengabaian serius yang dilakukan parpol-parpol adalah gimana membangun hubungan dengan kelompok milenial," kata Lucius Karus, peneliti senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi).

Maksudnya, Tak ada desain khusus yang dirancang partai-partai untuk mendekatkan diri ke golongan tersebut. Sebab, pola pikir dari parpol cenderung sentralistik dan elitnya merasa sebagai tokoh besar yang dikenal luas di masyarakat. 

Terus, mereka juga enggak terbiasa dengan pola "jemput bola". Itulah yang ia nyatakan kalau partai belum siap melakukan pendekatan ke generasi Z (anak muda).

"Mereka selalu menunggu, dan jika situasinya kritis, mereka mengandalkan pola pragmatis, seperti memberikan uang, dan 'hadiah-hadiah' kepada kelompok pemilih," ujarnya.

Kalau soal bergawai ria, kata Lucius, sebenarnya para elite sebenarnya sudah enggak gaptek (gagap teknologi). Cuma, gayanya saja yang masih feodal, serta konvensional. Cara inilah yang memang sulit diterima oleh anak-anak milenial.

"Partai tak bisa lagi dengan angkuh merasa paling berkuasa. Salah-salah melakukan pendekatan, mereka malah akan dicuekin," ungkapnya.

Senada dengan Lucius, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Firman Manan, juga menganggap parpol masih kesulitan untuk menggaet kalangan milenial.

Bahkan, partai baru seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengusung platform milenial juga belum terlihat jelas mendekati generasi tersebut.

"Walaupun kader-kadernya diisi oleh anak-anak muda," ujarnya.

Pemilih milenial kebanyakan adalah generasi yang kritis dan rasional, karena masih berusia muda, dan memiliki literasi informasi yang baik. Semisal, lewat akses media sosial.

"Harusnya, parpol itu mengedepankan ide dan gagasan kreatif, inovatif, dan visioner, dan mempunyai kemampuan mengomunikasikan hal tersebut dengan gaya familiar," ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah parpol mengaku optimis mampu mendekati segmen milenial, sekaligus merebut suara mereka. Salah satunya, Golkar yang mengklaim telah menyesuaikan diri.

"Pernyataan Pak Airlangga Hartarto bahwa Golkar siap menjadi partai digital, merupakan wujud keyakinan Golkar untuk merebut hati para pemilih milenial," kata Wakil Sekjen Bidang Kajian Strategis dan Intelijen DPP Golkar, Viktus Murin.

Dia bilang, saat ini elemen-elemen kepemudaan di lingkungan Golkar seperti Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) dan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), telah melakukan konsolidasi demi memperkuat daya tarik kaum milenial. 

Tak hanya Golkar, PDI Perjuangan juga mengklaim telah melakukan berbagai pendekatan kepada pemilih milenial. Menurut Ketua DPP PDI Perjuangan, Komarudin Watubun, partainya banyak melakukan kegiatan yang orientasinya untuk kalangan muda.

Meski begitu, diakuinya, harus kerja berat untuk bisa menjangkau generasi milenial. Terutama, mentransformasikan ideologi partai, supaya agak muda di mata mereka.

"PDIP menganut faham ideologi dan orang tidak tertarik membahas ideologi," kata dia.

Generasi milenial menurut Psikolog Klinis, Kasandra Putranto, memiliki karakter yang terbuka terhadap berbagai kemungkinan baru serta mudah menerima perbedaan. Mereka juga fasih dengan teknologi, kreatif, dan inovatif.

Kalau kata dia, generasi milenial juga cenderung memiliki ketertarikan dengan politik. Masifnya informasi dari berbagai media, membuat pengetahuan terhadap isu terkini lebih up date. Meski, ini cuma sebagian, ya.

Nah, masalahnya, apakah parpol yakin bisa merebut suara pemilih muda, yang katanya, sebagian besar adalah swing voters?

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID