logo rilis
Genap 60 Tahun Deklarasi Djuanda, Sebuah Keberanian Menak Sunda
Kontributor
Yayat R Cipasang
12 Desember 2017, 15:54 WIB
Genap 60 Tahun Deklarasi Djuanda, Sebuah Keberanian Menak Sunda
FOTO: buku biografi Ir Djuanda

DEKLARASI Djuanda yang diumumkan kepada dunia 13 Desember 1957 patut dirayakan sebagai wujud sebuah kemenangan besar bangsa Indonesia. Kedaulatan atas laut yang dapat dirasakan dan dinikmati seperti sekarang ini berkat jasa urang Tasikmalaya,  Ir. Raden Djoeanda Kartawadijaja atau yang lebih dikenal Ir. Djuanda.

Djuanda, menak Sunda yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1963 oleh Presiden Soekarno ini namanya bayak dikenang orang. Seperti Taman Hutan Rakyat Ir. Haji Djuanda di Kota Bandung, Universitas Djuanda di Kota Bogor, Jalan Ir. Haji Djuanda di samping Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta dan Bandara Antarbangsa Djuanda di Surabaya, Jawa Timur.

Baca Juga

Kenapa Deklarasi Djuanda disebut keberanian dan sekaligus kemenangan bangsa Indonesia? Saat itu, hukum laut yag dianut Indonesa masih berdasar pada Ordonansi Hindia Belanda 1939 atau Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). 

Ordonansi tersebut jelas sangat merugikan Indonesia karena laut Indonesia terpecah-pecah berdasarkan pulau-pulau. Tidak menjadi satu-kesatuan seperti sekarang ini. Sebuah pulau hanya menguasai laut di sekitarnya sejauh 3 mil dari garis pantai. Selebihnya disebut laut bebas kendati laut itu berada di antara pulau-pulau Indonesia. Ini memungkinkan bangsa lain atau kapal asing dapat berkeliaran dan berlayar bebas di wilayah Nusantara.

Sedangkan Deklarasi Djuanda menutup semua celah itu. Pertama, bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri. Kedua, bahwa sejak dahulu kala kepulauan Nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan.

Ketiga, ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan: untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat, untuk menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan asas negara kepulauan dan untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI.

Djuanda yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri tampil berani memperjuangkan laut-laut yang tercerai-berai itu menjadi satu kesatuan dalam NKRI dalam prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State). Sebuah prinsip yang belakangan saat di Perserikatan Bangsa-Bangsa banyak ditentang negara-negara lain.

Deklarasi Djuanda pada masa Soekarno dikukuhkan sebagai UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Selanjutnya diterima dan ditetapkan PBB (United Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982). 

Kemudian di dalam negeri dipertegas kembali menjadi UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS 1982. Sah, Indonesia sebagai negara kepulauan yang kini memiliki luas laut luas Laut Teritorial 284.210,90 km², luas Zona Ekonomi Ekslusif  2.981.211,00 km²dan luas Laut 12 Mil  279.322,00 km².

Djuanda lahir di Tasikmalaya 14 Januari 1911 dari pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat. Ayahnya yang seorang pendidik dan ningrat memungkinkan Djuanda mendapat pendidikan di sekolah orang-orang Eropa sampai bisa kuliah di Technische Hooge School atau Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus tahun 1933. 

Kegiatan organisasinya tidak ada yang berkaitan dengan politik. Djuanda lebih banyak berkiprah di Paguyuban Pasundan dan Muhammadiyah. Djuanda juga dikenal sebagai pegawai negeri yang patut diteladai karena prestasi, loyalitas dan pengabdiannya.

Sejak tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, mantan guru SMA Muhamadiyah Jakarta ini total menjabat satu  kali sebagai menteri muda, 14 kali sebagai menteri dan sekali sebagai perdana menteri. Djuanda yang kemudian di kalangan pers mendapat julukan Menteri Marathon ini meninggal dalam usia 52 tahun dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

Untuk menghormati jasa sang inisiator bandara di Surabaya ini, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1999 mencanangkan setiap 13 Desember sebagai Hari Nusantara, perayaan nasional tanpa hari libur.


#ir haji djuanda
#deklarasi djuanda
#zee
#laut internasional
#riwayat
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)