logo rilis

Gempa dan Tsumani Sulteng, Kementan Siap Bantu Masyarakat dan Petani
Kontributor
Elvi R
08 Oktober 2018, 10:57 WIB
Gempa dan Tsumani Sulteng, Kementan Siap Bantu Masyarakat dan Petani
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat mengunjungi korban Gempa dan Tsunami Sulteng.FOTO: Humas Kementerian Pertanian

RILIS.ID, Jakarta— Beberapa hari setelah musibah gempa berkekuatan 7,4 magnitudo, yang diikuti tsunami dan likuifaksi, aktivitas sosial dan pembangunan kota Palu nyaris lumpuh. Listrik dan air PAM mati serta jaringan komunikasi putus total sehingga kantor pelayanan umum, aktivitas ekonomi, dan lain-lain juga terhenti. Yang tersisa adalah hampir semua gedung, bangunan, sarana jalan, dan lain-lain mengalami rusak berat, bahkan banyak rumah penduduk, sekolah, pesantren, dan lain-lan rata dengan tanah.

Pegawai Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Palu, Emilia mengatakan telah terbiasa mengalami gempa, tapi kali ini sangat berbeda. Karena kekuatannya sangat besar, diikuti oleh terjangan tsunami yang dahsyat, dan adanya kampung pemukiman penduduk yang lenyap ditelan lumpur. Peristiwa ini disebut sebagai likuifaksi atau nalodo dalam bahasa lokal.

"Alhamdulillah kami sekeluarga selamat, meskipun rumah kami hancur berantakan. Kami benar-benar bersedih karena banyak juga teman dan sahabat atau keluarganya yang meninggal tertimpa reruntuhan rumah atau hanyut diterjang tsunami, bahkan ada pula keluarga yang hingga saat ini belum ditemukan”, ujar Emilia.

Terdapat beberapa masalah yang muncul setelah musibah gempa, tsunami, dan likuifaksi terutama yang terjadi di kota Palu, Sigi, dan Donggala, yaitu dampak psikis, fisik, dan sosial, ekonomi, dan lain-lain. Dampak psikis terutama trauma anak-anak nampaknya mendesak dan harus menjadi prioritas utama dalam penanganan musibah ini, selain aspek fisik seperti perbaikan jaringan listrik, air, jaringan komunikasi dan lain-lain.

" Alhamdulillah kemaren Sabtu 6 Oktober, seorang ahli psikologi anak Kak Seto muncul di Kota Palu. Semoga beliau bisa segera memberikan saran dan rekomendasi untuk mengatasi dampak psikis terutama anak-anak," katanya.

Musibah ini, lanjut Emilia, menyisakan dampak psikis yang luar biasa terhadap masyarakat Palu. Mereka masih trauma, khawatir, dan was-was terhadap gempa dan tsunami sehingga hingga hari ini mereka tidak berani tinggal di rumah. Selain itu mereka juga masih merasakan pilu yang sangat mendalam akibat kehilangan orang-orang yang dicintainya, kehilangan rumah tempat tinggal, bahkan tidak sedikit yang kehilangan mata pencaharian.

Saat ini masyarakat Palu, Sigi, dan Donggala banyak yang kelaparan karena kehabisan logistik. Tidak sedikit tempat pengungsian hingga hari ini belum mendapat bantuan, karena sulitnya aksebilitas akibat jalan retak dan hancur.  Sulitnya komunikasi membuat kondisi ini tidak mudah untuk didata. Akibatnya terjadi penjarahan toko, mall, atau tempat bahan pangan lainnya oleh orang-orang lapar dan menderita. Bantuan pangan dan kebutuhan pokok lainnya sangat mendesak untuk mengurangi masalah ini.

"Alhamdulillah sejak hari Kamis 4 Oktober kemaren bantuan pangan dan kebutuhan pokok lainnya mulai berdatangan," katanya.

Bantuan ini dari masyarakat Banggai yang dipelopori oleh Bupati berkali-kali dikirimkan dari Luwuk ke Palu. Lalu bantuan sebanyak 500 truk dari Kementerian Pertanian (Kementan), para mitra Kementan, masyarakat Sulsel yang diprakarsai Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman juga sejak Jumat 5 Oktober sudah masuk kota Palu, Sigi, dan Donggala. Gubernur Sulsel Prof. Nurdin Abdullah di Makassar mengatakan, bantuan warganya insya Alloh akan terus dikirimkan untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Palu, Sigi, dan Donggala.

Saat kunjungan ke Palu dan Sigi hari Sabtu 6 Oktober 2018 kemaren, Amran Sulaiman mengatakan, bantuan kali ini bukan dari APBN, tapi murni dari kantong keluarga besar Kementan, para mitra, dan masyarakat Sulsel. Selanjutnya Kementan juga siap bantu para petani yang mengalami dampak musibah.

"Bantuan berupa perbaikan jaringan irigasi yang rusak, benih padi, jagung, dan kedelai, serta ternak (ayam, kambing, sapid an lain-lain)," kata Amran menambahkan.

Sumber: Dedi Nursyamsi/Kementan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID