logo rilis

Gelora Bang Sarmin
kontributor kontributor
Arif Budiman
01 Agustus 2017, 00:42 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Gelora Bang Sarmin

BERBUSA mulut Bang Sarmin mengisahkan perjalanannya nan heroik. Teriring cipratan ludah yang keluar melalui sela-sela giginya yang tak rata. Penuh semangat, ia bercerita tentang kehebatannya menaklukan gelombang di lautan, menjinakkan harimau di hutan, dan menunggang keledai melewati padang rumput tandus yang luas. Seraya merapal kata-kata, kelopak mata Bang Sarmin membesar, bolanya berputar-putar, sementara kepal tangannya meninju-ninju awan.

Bang Sarmin membara di depan kerumunan manusia. Berdiri gagah di atas panggung yang ditata meriah. Ia tampak gagah.

Baca Juga

Merpati terbang di atasnya. Sembari terbang, kloakanya membuka. Meluncur kotoran darinya, jatuh persis di rambut Bang Sarmin yang kelimis modis. Feses itu masih basah.

Bang Sarmin menyeka rambutnya. Jemari tangannya yang kurus menyentuh objek basah di kepalanya. “Semprul!” makinya kepada tangannya. Selesai menyumpah, ia melanjutkan pidatonya. Kali ini tentang cela lelaki muda yang tinggal di Musholla.

“Pada dunia yang sedang berlari kencang menuju peradaban tertinggi, segala cita, cipta, dan karya harus diselaraskan dengan gerak kemajuan,” kata Bang Sarmin. “Pergaulan harus diperluas, pengetahuan mesti ditingkatkan,” lanjutnya.

“Mengikat diri dengan Musholla itu tidak hanya memersempit wawasan, tetapi juga merusak sikap mental seseorang. Terlalu banyak menghabiskan waktu di situ bisa membuat seseorang menjadi antisosial!” Bang Sarmin berusaha meyakinkan.

Ratusan pasang mata menatap panggung tanpa ekspresi. Bersungut tidak, tersenyum pun tidak. Sementara seekor Doberman kumal asyik mengulum sum-sum di kolong panggung.

Bang Sarmin puas dengan aksi panggungnya. Terdengar tepuk tangan dari belakangnya. Berasal dari mereka yang sejak tadi mendampinginya. Orang yang sama yang menemaninya makan soto di warung terbaik di kampung itu.

Kerumunan bubar menjelang ashar. Mereka pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Setelah sempat bercengkrama dan berbasa-basi dengan panitia, Bang Sarmin pamit. Ia langsung naik ke mobil yang tak sederhana, tapi juga tak bisa disebut mewah. Bergerak langsam meninggalkan kampung melalui rumah-rumah dan musholla.

Saat melintas persis di depan musholla, terlihat pemandangan yang menarik perhatian Bang Sarmin. Ia pun mengintip keluar melalui kaca mobilnya yang temaram. Nampak kumpulan orang yang tadi menghadiri pidatonya, ada di sana. Masing-masing membawa anaknya. Untuk belajar mengaji di situ, dengan lelaki muda yang tadi dicelanya.


#semburat
#arif budiman
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID