logo rilis
Gegara Nunggu Sidang Isbat, Malam Takbiran Sempat Terasa 'Landai Maksimal'
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
14 Juni 2018, 20:50 WIB
Gegara Nunggu Sidang Isbat, Malam Takbiran Sempat Terasa 'Landai Maksimal'
Ilustrasi takbir keliling di sejumlah daerah. FOTO: Kaba21.

RILIS.ID, Jakarta— Jelang Hari Raya Idul Fitri, tepatnya H-1 lebaran, gema takbir sayup-sayup terdengar semenjak Ashar. Lalu, lepas Maghrib baru lah ramai-ramai masjid secara kompak melantunkan lafaz kemenangan.

"Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd."

Itu dulu. Saya pernah merasakan momen keceriaan itu ketika kecil di tahun 90an. Bukannya sedih karena ditinggal Ramadhan, malah gembira. Ya, namanya anak-anak, euforia saat menyambut "besok lebaran".

Lepas salat Magrib, kami berebut pukulan bedug, antre ikut-ikutan menabuh tong yang disumpal kulit kambing. Kalau tidak kebagian, mau enggak mau cuma pukul besi-besi di sampingnya. Mengiringi irama.

Kalau liat antrean sudah panjang, jangan harap dapat jatah. Lebih baik main petasan di tanah lapang. Entah mengapa, meledekkan mercon malah jadi kesenangan tersendiri bagi kami, terlepas memang bahaya.

Benar-benar keceriaan yang tak dirasakan sekarang-sekarang ini. Kabar besok lebaran saja harus menunggu putusan pemerintah lewat sidang Isbat. Baru habis Isya lah gema takbir berkumandang di masjid-masjid.

Lucunya, cuma Indonesia yang menggelar sidang Isbat. Melansir Tempo.co pada 2013, Ketua Komisi Fatwa yang dulu masih dipegang Maaruf Amin mengatakan, cuma Indonesia yang pakai sidang Isbat begini.

Di negara-negara lain, bahkan Arab Saudi, penetapan 1 Syawal, tak menggunakan sistem yang sama seperti di negara kita. Lalu, kenapa cuma Indonesia?

Kalau kata Maaruf Amin, tujuannya untuk mencapai satu pemahaman dari sejumlah ormas, ihwal kapan waktu memasuki bulan Syawal. Karena, di Indonesia banyak ormas Islam yang merepresentasikan umatnya.

Wikipedia menuliskan, Isbat secara harfiah adalah  penyungguhan, penetapan, dan penentuan. Sidang penetapan dalil syar'i di hadapan hakim dalam suatu majelis untuk menetapkan suatu kebenaran peristiwa.

Di Indonesia, umumnya sidang Isbat berlangsung untuk menentukan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Pemerintah sudah sejak 1950 memakai sistem ini untuk menentukan tanggal-tanggal penting tersebut.

Kemudian mulai tahun 1972, Badan Hisab Rukyat (BHR) terbentuk di bawah Kementerian Agama. Para ulama dan ahli astronomi, bertugas di sana. Mereka lah yang memberikan informasi ke Menteri Agama tentang awal bulan.

Saat itu, memang ada dua kelompok besar, yaitu yang menggunakan metode Hisab (perhitungan) astronomi dan metode Rukyah (mengamati) langsung posisi bulan.

Direktur Eksekutif Center for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC), Muhammad Najib, seperti dikutip Republika.co.id menjelaskan bahwa sidang Isbat ini bisa juga dianggap sebagai kearifan lokal.

Tapi, dengan kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya pemanfaatan teknologi satelit untuk mengamati posisi bulan terhadap bumi tanpa terhalang cuaca, metode Hisab dan Rukyah murni harusnya, tak lagi relevan.

Karena rukyah posisi bulan dapat dilakukan kapan saja. Apalagi, kini dikembangkan berbagai program yang berbasis komputer dengan perangkat lunak, jadi masyarakat awam pun bisa ikut mengamatinya.

Menurut Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, yang dimuat Harian Republika pada 7 Mei lalu, masuknya Ramadhan dan Idul Fitri akan sama sampai 2021.

Artinya, tidak ada perbedaan disebabkan posisi bulan yang menyebabkan kriteria dua kelompok besar di atas terpenuhi. Jika demikian adanya, apakah sidang isbat masih diperlukan? 


500
komentar (0)