logo rilis
Gedung Merdeka, Konferensi Asia Afrika dan Setan Ngamen
Kontributor
Yayat R Cipasang
18 April 2018, 16:11 WIB
Gedung Merdeka, Konferensi Asia Afrika dan Setan Ngamen
Gedung Merdeka. FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

WISATA kota tua tidak hanya milik Jakarta. Kota Bandung, Jawa Barat, juga memiliki banyak bangunan bersejarah. Artefak-artefak Hindia Belanda juga pojok-pojok penuh makna sejak zaman kolonial masih terawat hingga sekarang.

Di Jalan Asia Afrika yang juga menjadi titik nol kilometer Kota Bandung--tak jauh dari Jalan Braga--terdapat Gedung Merdeka (Gedung Societeit Concordia) yang menjadi tempat pelaksanaan momen bersejarah Konferensi Asia Afrika (KAA) 18–24 April 1955.

Di dalam bagunan tersebut terdapat museum KAA yang menampilkan sejumlah jejak sejarah seperti mesin tik, kamera yang digunakan fotografer, alat pencetak foto, kursi dan meja yang digunakan para tamu, ratusan foto hitam putih dan klipingan koran pemberitaan media pada masa itu.

Nadya Karima Melati dalam Deuce Welle menulis, KAA selama sepekan pada 1955 sering kali disebut Konferensi Bandung dan menjadi puncak dari pertemuan sebelumnya yang dilaksanakan di Bogor pada Desember 1954. 

Pada konferensi di Bogor, diputuskan rekomendasi yakni diselenggarakannya konfrensi bulan April 1954 di Bandung dengan menetapkan kelima negara insiator: Indonesia, Myanmar, India, Pakistan dan Sri Lanka sebagai negara sponsor. Kelima negara itu sekaligus menentukan 25 negara yang akan diundang dan menentukan empat tujuan pokok dalam konfrensi.

Seperti dikutip dari laman asianafricanmuseum, selain Gedung Concordia tempat pertemuan lainnya juga digelar di Gedung Dana Pensiun. Hotel Homann, Hotel Preanger, dan 12 hotel lainnya serta 31 bungalow di sepanjang Jalan Cipaganti, Lembang dan Ciumbuleuit dipersiapkan sebagai tempat menginap para peserta yang berjumlah lebih kurang 1.500 orang. Selain itu, disediakan juga fasilitas akomodasi untuk lebih kurang 500 wartawan dalam dan luar negeri.

Keperluan transportasi dilayani sedikitnya 143 mobil, 30 taksi, 20 bus, dengan jumlah 230 orang sopir dan 350 ton bensin tiap hari serta cadangan 175 ton bensin.

Saat mengunjungi persiapan terakhir, tepatnya pada 7 April 1955, Presiden Sukarno secara spontan mengubah nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka dan Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwiwarna dan sebagian Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika.

Bila Anda mengunjungi Museum KAA, di sana terlihat foto yang memperlihatkan ribuan delegasi berjalan kaki di Jalan Asia Afrika. Momen itu dikenal sebagai The Bandung Walks (Langkah Bersejarah).

Pada 18 April 1955 sejak pukul 07.00 WIB ribuan warga sudah menyemut di sepanjang Jalan Asia Afrika. Mereka sangat antusias untuk menyaksikan para delegasi yang datang dari negara-negara Asia dan Afrika. Nah, baru sekitar pukul 08.30 WIB para delegasi dari berbagai negara, beragam warna kulit dan beraneka busana keluar dari Hotel Homann dan Hotel Preanger menuju Gedung Merdeka secara berkelompok untuk menghadiri pembukaan Konferensi Asia Afrika. 

Dalam Gedung Merdeka itu pula Presiden Sukarno berpidato yang berjudul Let a New Asia And a New Africa be Born (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru). 

KAA telah melahirlah sejumlah negara merdeka di kawasan Asia dan Afrika. Semua itu menandakan bahwa cita-cita dan semangat Dasasila Bandung semakin merasuk ke dalam tubuh bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Semangat dari Bandung itu juga telah mengubah struktur di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang tidak lagi menjadi milik kelompok negara besar di dunia.

Aura dan semangat Asia Afrika hingga kini masih terlihat dan terasa di Gedung Merdeka. Deretan bendera negara-negara peserta berjejer di ruang utama konferensi.

Uniknya, di tengah kebisingan Jalan Asia Afrika tepat di muka pintu masuk Gedung Asia Afrika berkeliaran setan dan juga kuntilanak. Mereka suka difoto, narsis dan tentu saja doyan duit.


500
komentar (0)