logo rilis
Gebyar Maulid, Jazilul Fawaid Dikukuhkan jadi Anggota Kehormatan Pagar Nusa Lamongan
Kontributor
Nailin In Saroh
30 Oktober 2020, 21:00 WIB
Gebyar Maulid, Jazilul Fawaid Dikukuhkan jadi Anggota Kehormatan Pagar Nusa Lamongan
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid dalam acara ‘Gebyar Maulid dan Pembaiatan Santri Baru Pencak Silat NU Pagar Nusa Lamongan 2020’ di Gedung GOR Kemantren, Sport Center Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Kamis (29/10/2020). FOTO: Biro Pemberitaan MPR

RILIS.ID, Jakarta— Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menggelar acara ‘Gebyar Maulid dan Pembaiatan Santri Baru Pencak Silat NU Pagar Nusa Lamongan 2020’ di Gedung GOR Kemantren, Sport Center Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Kamis (29/10/2020). Acara itu dihadiri oleh Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid, Ketua Pagar Nusa Lamongan Moch Mahfud, para pendekar dan ratusan pesilat, kiai, serta masyarakat luas. 

Dalam acara tersebut Jazilul Fawaid dikukuhkan sebagai anggota kehormatan Pagar Nusa. “Saya merasa bahagia dikukuhkan menjadi anggota kehormatan Pagar Nusa Lamongan,” tuturnya.

Saat memberi sambutan dalam acara itu, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengajak anggota Pagar Nusa untuk belajar kesabaran, ketabahan, dan ruhul jihad dari Nabi. “Semua patut untuk belajar pada Beliau,” ujarnya di hadapan ratusan anggota Pagar Nusa dan masyarakat Lamongan.
 
Kepada wartawan, pria yang akrab dipanggil Gus Jazil itu mengatakan semua ummat Islam wajib menauladani Nabi secara utuh dan penuh. “Nabi merupakan junjungan kita, kepada Beliaulah kita mencontoh bagaimana bersikap, berpikir, dan berbuat,” ujarnya. 

Menurut Jazilul Fawaid, banyak sisi yang bisa ditauladani dari Nabi. Dikatakannya, Nabi merupakan sosok yang sabar dalam menjalani kehidupan. Dalam perjalanan hidupnya, sejak kecil ia sudah dirundung dengan kesedihan. Sebelum lahir, ayahnya sudah meninggal dunia. Begitu berumur 6 tahun, ibunya juga tiada. Kakeknya yang dicintai pun juga meninggalkan Nabi untuk selamanya ketika berumur 8 tahun. “Meski demikian Nabi tetap sabar dan tabah dalam menjalani masa-masa kecilnya,” tuturnya.
 
Meski Nabi hidup dalam masa-masa seperti itu, kehidupannya tetap dijalani dengan semangat bahkan perilakunya yang selalu jujur membuat dirinya disebut orang sebagai yang bisa dipercaya, Al Amin. “Sikap-sikap yang demikianlah yang perlu kita perbuat. Bersikap dan berbuat jujur membawa rasa nyaman dalam kehidupan semua orang,” tambahnya.

Diungkapkan pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu dalam berhubungan dengan sesama ummat Islam dan ummat non-Islam, Nabi selalu berlandaskan pada hukum yang disepakati. “Hukum dan kesepakatan yang diambil selalu memberi keadilan,” ujarnya. 

Dicontohkan, ketika renovasi Kabah berlangsung, terjadi perselisihan di antara suku dan kelompok yang ada di Makkah. Mereka berselisih, siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di tempat semula. Sebab Nabi disebut Al Amin, ia dipercaya menengahi masalah yakni siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Ia mengambil langkah membentangkan kain putih dan meletakkan Hajar Aswad di tengahnya. Selanjutnya, ia meminta  setiap pemimpin Kabilah untuk memegang ujung-ujung kain dan mengangkatnya bersama-sama. 

“Langkah yang demikian dirasa adil oleh semua pihak yang berselisih sehingga masalah renovasi Kabah selesai dengan damai,” tuturnya.
 
Dalam setiap perselisihan, menurut Jazilul Fawaid, Nabi ingin menyelesaikan dengan perjanjian hukum. Ketika ada perselisihan antara Ummat Islam dengan Kaum Quraisy di Makkah. Ummat Islam yang hendak melakukan umrah di Makkah dilarang Kaum Quraisy. Untuk mengatasi hal yang demikian, meski Nabi mempunyai kekuatan militer yang kuat, ia memilih menyelesaikan masalah dengan melakukan Perjanjian Hudaibiyyah. “Dengan dasar hukum yang disepakati bersama antara Kaum Quraisy dan Ummat Islam, justru membuat dakwah Nabi semakin berkembang,” tuturnya.
 
Dikatakan oleh Jazilul Fawaid, dalam membangun tatanan kehidupan yang lebih luas dengan berbagai suku, kabilah, kelompok, dan agama yang lain, Nabi melakukan perjanjian. “Perjanjian itu dikenal dengan nama Piagam Madinah,” tuturnya. 

Perjanjian itu disepakati pada tahun 622. “Perjanjian itu sebagai panduan hidup bersama,” ujarnya.

Dari perjalanan Nabi di atas, alumni PMII itu mengatakan bahwa Nabi dalam bersikap kepada dirinya, sesama ummat Islam, dan kepada kelompok dan agama lain selalu berlandaskan pada hukum. “Sikap Nabi yang demikian sangat luar biasa,” tegasnya. 

“Meski punya pengaruh yang sangat kuat namun Nabi tetap membangun kebersamaan dengan menyepakati adanya aturan. Mengedepankan hukum inilah yang perlu kita tauladani dari Nabi,” kata Jazilul menambahkan. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID