logo rilis
Gara-gara Bom Teroris, Roda Perekonomian Surabaya Turun
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
20 Mei 2018, 13:05 WIB
Gara-gara Bom Teroris, Roda Perekonomian Surabaya Turun
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Surabaya— Peristiwa ledakan bom di tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya berdampak pada roda perekonomian di kota tersebut. Menurut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini perekonomian di Kota Pahlawan itu saat ini sedang mengalami penurunan pascateror bom yang terjadi di sejumlah lokasi sepekan lalu tersebut.

"Ya agak turun, tapi mudah-mudahan cepat normal kembali," kata Risma di Surabaya, Minggu (20/5/2019).

Rsima berharap, situasi dan kondisi di Kota Surabaya bisa berlangsung kondusif. Sehingga, warga bisa melakukan aktivitas seperti biasa dan juga investor tidak khawatir berinvestasi di Surabaya.

Hal senada juga dikatakan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surabaya, Jamhadi. Ia mengatakan, pihaknya tidak menyangka jika selama ini Surabaya dikenal aman dan nyaman, namun menjadi target teroris.

"Dengan adanya kejadian itu, tentu semua pihak yang ada di Surabaya harus merapatkan barisan menunjukkan ke dunia luar bahwa di Surabaya aman untuk tinggal, wisata dan bisnis," ujarnya.

Dia menambahkan, salah satu yang sudah dilakukan Kadin Surabaya membangun kepercayaan dengan dunia luar adalah memberikan penjelaskan kepada para tamu luar negeri di acara pertemuan Surabaya Bisnis Forum di Hotel Bumi Surabaya pada 16 Mei 2018.

"Kami jelaskan kepada para tamu bahwa Surabaya dan Jatim aman," imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Wilayah Jawa Timur Mohammad Supriyadi menyatakan, aksi terorisme berupa peledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo menurunkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Kota Pahlawan dan sekitarnya.

"Dari sisi produksi, mencegah para pekerja untuk masuk kerja atau melakukan kegiatan produksi," paparnya.

Selain itu, lanjut dia, dari sisi logistik, adanya razia, pengamanan dan penutupan jalan mengganggu distribusi logistik regional. Secara makro mengganggu roda ekonomi baik mingguan, maupun bulanan, sehingga pertumbuhan ekonomi triwulanan terganggu.

"Dari sisi konsumsi juga mengurangi jumlah total konsumsi karena adanya penurunan pengunjung pada pusat perbelanjaan ritel maupun grosir," lanjutnya.

Sumber: Antara


500
komentar (0)