logo rilis
Firman Soebagyo: Cari Mentan seperti Amran Susah
Kontributor
Fatah H Sidik
29 Mei 2018, 23:17 WIB
Firman Soebagyo: Cari Mentan seperti Amran Susah
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat meninjau lokasi perkebunan kopi rakyat di Jember, Jawa Timur, Rabu (23/5/2018). FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

RILIS.ID, Jakarta— Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, mengapresiasi berbagai terobosan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, untuk meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani. Bahkan, klaimnya, baru sekarang petani dimuliakan.

"Lihat saja bantuan mekanisasi. Itu, sambutannya luar biasa dan saya lihat langsung di lapangan. Itu petani kita, tengah malam pun masih dapat bekerja," ujarnya.

Karenanya, Firman berharap, Amran Sulaiman tetap dipercaya sebagai Menteri Pertanian pada rezim berikutnya. Kilahnya, "Cari Mentan seperti Amran ini sekarang susah."

Politisi Partai Golkar itu menambahkan, kebijakan Menteri Amran konsisten membela petani. Dalihnya, memberikan berbagai benih 12,1 juta hektare gratis, membangun dan merehabilitasi jaringan irigasi tersier 3,47 juta hektare, 2.278 unit embung, damparit, atau long storage, serta perluasan dan optimasi lahan 1,08 juta hektare dan rawa 467 ribu hektare, selain alat mesin pertanian (alsintan) 370 ribu unit.

Pembantu Presiden asal Bone itu, lanjut Firman, pun merevisi anggaran perjalanan dinas pejabat Kementan Rp800 miliar dan diarahkan buat petani. Selanjutnya, membangun 1.313 desa mandiri benih dan 714 desa pertanian organik.

Hasilnya, produksi gabah naik saban tahun. Perinciannya, 75,36 juta ton gabah kering giling (GKG) pada 2015 atau naik 4,51 juta ton dibanding 2014. Lalu, 2016 sebesar 79,35 juta ton dan 2017 menjadi 81,07 juta ton.

Ada pula Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab), yakni inseminasi buatan sebanyak 3,5 juta ekor. Hasilnya, populasi pedet bertambah sekitar 1,5 juta ekor.

"Yang dulunya impor jagung 3,5 juta ton atau setara Rp10 triliun, kini sudah ekspor. Impor bawang merah juga sudah tidak ada. Begitu juga dengan cabai," lanjut dia.

Produksi pertanian juga terangkat. dari Rp350 triliun pada 2013 menjadi Rp1.344 triliun di 2017. Invetasi pertanian turut naik 14 persen pada 2017 (Rp45,9 triliun) dibanding 2013. Ekspor demikian, naik 24 persen menjadi Rp441 triliun pada 2017 dibanding 2016. 

"Jadi yang bisa saya katakan, terobosan Mentan ini sangat luar biasa. Kalau perlu, anggaran untuk petani terus ditambah. Karena kalau bicara kebutuhan petani, berarti bicara pemenuhan kebutuhan pangan nasional," terang Firman.

Dia juga menyinggung Program Berantas Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja). Di mana, tiap rumah tangga miskin (RTM) mendapatkan 50 ekor per ayam. Selain itu, pemberian benih hortikultura dan perkebunan gratis.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Thohir, juga memberikan dukungan serupa. Pertimbangannya, kebijakan Menteri Amran mengena dan memanjakan petani. "Baru kali ini juga pemerintah memberikan subsidi asuransi pertanian. Walau itu baru satu juta hektare, tapi itu sangat membantu petani," tambahnya.

Bagi-bagi dryer, menurut dia, juga membantu petani. Pasalnya, petani selama ini tak mampu menyimpan lama gabahnya, karena takut rusak lantaran terkendala musim. 

"Dulu petani terpaksa harus jual?? cepat, karena takut rusak, karena tidak bisa dikeringkan," ucapnya. "Adanya dryer ini, bisa ditahan dan menunggu waktu yang baik bagi petani lepas gabahnya," imbuh Winarno.

Pada masa Menteri Amran, katanya, impor pangan juga terkendali. Sehingga, petani bergairah menanam. Begitu pula dengan generasi muda. "Lihat saja di Kalimantan. Itu masyarakat ramai-ramai ubah lahan tambang jadi ladang jagung," tuntasnya.


500
komentar (0)