logo rilis
Fenomena 'Ngebom' Ajak Keluarga, Apa yang Salah?
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
15 Mei 2018, 12:12 WIB
Fenomena 'Ngebom' Ajak Keluarga, Apa yang Salah?
Satu keluarga terduga teror bom di Surabaya. FOTO: Istimewa.

RILIS.ID, Jakarta— Fenomena baru, yakni "keluarga teroris". Inilah yang sulit dijangkau nalar sehat, tatkala tiga keluarga diduga menjadi pelaku terorisme, sampai-sampai mengajak anak dan istrinya dalam aksi kejahatan kemanusiaan ini.

Anak dan istri tidaklah terlahir sebagai "pejahat". Sayangnya, mereka justru dilibatkan dalam agenda terorisme. Mereka cuma korban dari doktrin, serta bujuk rayu keyakinan sesat yang menghalalkan segala cara.

Anaknya adalah titipan Tuhan, di mana mereka lah yang nantinya akan mendoakan keselamatan orang tuanya, baik di dunia dan akhirat. Mereka harusnya dilindungi, bukannya didorong untuk mati demi "syahwat" orang tua.

Sang Bapak-bapak ini yang mejadi biang keroknya. Adalah Dita Oepriyanto,  Anton Febrianto dan Tri Murtiono. Norma-norma agama serta sosial dalam berkeluarga tak berlaku buat mereka. Justru, berlaku jahat buat keluarga.

Mereka diduga telah mengorbankan anak dan istri untuk terlibat dalam aksi terorisme yang mengguncang negeri ini, hingga terasa ke seluruh dunia.

Dita bersama istrinya, Puji Kuswati, dan empat anaknya, YF (18), FH (16), FS (12) serta PR (9), melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada Minggu, 13 Mei kemarin. Mereka tinggal di kawasan Krukut Surabaya.

Dita, pelaku peledakan bom di Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuna, diduga menggunakan mobil dengan bom yang dipangku. 

Sebelumnya dia menurunkan sang istri, Puji, serta kedua anak perempuannya,. FS dan PR. Mereka lalu meledakan diri di Parkiran Gereja Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro dengan menggunakan bom yang dibelitkan di pinggang.

Sementara, dua anak laki-lakinya, YF dan FH, berboncengan mengendarai sepeda motor. Keduanya menerobos masuk, dan meledakkan diri di Gereja Maria Tak Bercela (GMTB) di Jalan Ngagel.

Lalu, keluarga Anton bersama istrinya, Puspitasari serta empat orang anaknya. Adalah HR (17), AR (15), FP (11) dan GA (10). Mereka diduga sebagai pelaku ledakan di Rusunawa Blok B Lantai 5 Wonocolo, Sidoarjo Minggu malamnya.

Polisi, sebagaimana disebutkan oleh Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Polisi Frans Barung Mangera, setelah terdengar satu kali ledakan, mendapati Anton terluka dan masih memegang "switching" bom kedua sehingga dilumpuhkan hingga tewas oleh polisi. Sedangkan Puspitasari dan HR, telah meninggal.

Sementara AR yang selamat, didapati polisi sedang berusaha membawa kedua adiknya yang terluka ke rumah sakit. Dilarikanlah ke RS Bhayangkara. 

Sementara Tri Murtiono, beralamat di Ngagel Rejo, Surabaya, bersama istri, Tri Ernawati, dan tiga anaknya, mengendarai dua motor, berusaha masuk ke Mapolrestabes Surabaya, kemudian meledakkan bom bunuh diri.

Hanya AS, anak bungsu mereka, yang usianya masih sekisar delapan tahun, selamat. Namun, mengalami luka. Sedangkan, keluarga lainnya tewas.

Fenomena yang terjadi pada tiga keluarga itu, sama sekali tidak mewakili keluarga Indonesia. Namun, apa yang mereka lakukan tentu mengungkapkan hal yang tidak wajar dalam pembinaan keluarga mereka.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengemukakan, keluarga terduga teroris tersebut terkait dengan jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Dipastikan, mereka saling terkait.

Tiga keluarga ini belajar merakit bom sendiri secara daring melalui media sosial dari jaringan JAD dan JAT. Dari jejaring dunia maya inilah mereka menanamkan ajaran dan mengubah pemahaman keluarga, termasuk anak-anaknya.

Daya tahan mengapa keluarga bisa melakukan aksi terorisme bersama-sama? Najeela Shihab, seorang psikolog pendidikan dari Sekolah Cikal, berkomentar bahwa suatu keluarga dapat menjadi pelaku kekerasan, karena dalam keluarga tersebut tidak diajarkan nilai-nilai kemanusiaan.

Nilai-nilai dasar yang menghormati kemanusiaan tidak diajarkan di keluarga, sehingga satu keluarga bisa menjadi terduga pelaku pengeboman.

"Tidak diajarkan di keluarga itu, berarti orang tua mengajarkan hal yang tidak tepat, atau tidak membahasnya sama sekali. Berarti juga di sekolah, tidak dibiasakan membahas isu-isu moral, membandingkan informasi," katanya.

Nilai dan kepercayaan, termasuk pemahaman dan praktik keagamaan memang tumbuhnya dalam keluarga. Jadi, satu keluarga mendukung bahkan melakukan kekerasan dan kejahatan bersama, sebetulnya sesuatu yang bisa diprediksi.

Hal itu mirip dengan pelaku korupsi yang juga berasal dari keluarga yang sama. Nilai-nilai intoleransi tumbuh dan berkembang dalam keluarga tersebut.

Penyebab lainnya, kemungkinan besar juga percakapan dalam lingkungan tetangga yang sangat terbatas dan cenderung dengan kelompok homogen.

Apa yang terjadi pada tiga keluarga itu memang telah melenceng atau "out of the track" dari norma kehidupan yang sehat dalam keluarga.

Keluarga semestinya menjadi benteng utama untuk mencegah dari berbagai upaya dan paparan berbagai media sosial terhadap terorisme dan radikalisme.

Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Giwo Rubianto Wiyogo bahwa ketahanan keluarga merupakan benteng utama dari upaya penyebaran paham radikalisme.

Tidak adanya kekuatan terhadap ketahanan keluarga, maka anggota keluarga yang lain dengan mudah terpengaruh paham radikal begitu ada salah satu keluarga terpengaruh. Lalu, menyebarlah ke anggota keluarga lain.

Rasanya, perlu ada pembinaan keluarga. Pemerintah juga harus selalu melakukan pengawasan dan pendampingan sampai tingkat RT dan RW, bukan hanya untuk sosialisasi politik saja.

Dengan kasus tiga keluarga yang melakukan aksi kejahatan kemanusiaan itu, harus menjadi pembelajaran bagi seluruh potensi bangsa ini untuk bersatu padu menyelamatkan keluarga dari paham-paham sesat dan menyesatkan.

Kekeluargaan merupakan jantung keindonesiaan. Kehilangan semangat kekeluargaan dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan Indonesia merupakan kehilangan segala-galanya.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)