logo rilis
Fakta-fakta Kontroversial tentang Stephen Hawking
Kontributor
Ning Triasih
14 Maret 2018, 13:23 WIB
Fakta-fakta Kontroversial tentang Stephen Hawking
Stephen Hawking. FOTO: Instagram/@ stephenhawking1942

RILIS.ID, Jakarta— Stephen Hawking meninggal di usia 76 tahun, Rabu (14/3/2018). Sekitar 47 tahun lamanya ia bertahan di kursi roda dan bantuan alat penopang hidup akibat penyakit fatal  ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) yang dideritanya.

Sosoknya begitu fenomenal. Hampir seluruh masyarakat dunia mengenal pria penyibak rahasia alam semesta ini.

Di balik kecerdasannya sebagai ahli fisika, ada beberapa fakta penuh kontroversi dari seorang Stephen Hawking. Berikut beberapa fakta penuh kontroversi Stephen Hawking dihimpun rilis.id dari berbagai sumber:

Tidak percaya adanya Tuhan

Salah satu pernyataan Stephen Hawking yang paling menghebohkan adalah, ia tidak percaya adanya Tuhan. Menurutnya dalam buku The Grand Design, alam semesta dan isinya bukan diciptakan Tuhan, tapi sebuah peristiwa fisika yang terjadi secara alamiah.

"Karena hukum gravitasi, alam semesta dapat tercipta dengan sendirinya," kata Hawking dalam bukunya. “Tidak perlu Tuhan untuk memicu pembuatannya dan mengatur segala isi di dalamnya.”

Teorinya tersebut sontak menuai banyak kritikan, terutama dari para agamawan.

Menganggap surga itu palsu

Dengan tidak percaya Tuhan, Hawking pun menganggap jika kehidupan setelah kematian hanyalah omong kosong belaka, termasuk adanya surga ataupun neraka. Karena baginya, otak manusia seperti komputer yang akan berhenti bekerja jika perangkatnya rusak.

"Tidak ada surga atau kehidupan lain untuk komputer yang rusak, itu hanya cerita dongeng,” kata Hawking dalam wawancara bersama The Guardian 2011 silam.

Ungkapan Hawking bahwa surga itu palsu juga ditulis dengan jelas dalam bukunya The Grand Design.

Membenarkan opsi bunuh diri

Anda tentu tahu, bunuh diri adalah hal yang paling dilarang. Hampir semua orang membenci dan mengecam siapa saja yang punya niat ini. Namun, bagi Hawking, bunuh diri justru dibenarkan dan diperbolehkan. Tapi, hanya berlaku untuk kasus tertentu. Misalnya menderita penyakit berat. Hawking mengatakan, siapa pun boleh memilih opsi mati sebagai jalan keluar atas penyakitnya tersebut. 

Niat mengakhiri hidup rupanya pernah dilakukan Hawking. Bahkan, tak hanya sekali ia berniat mengakhiri hidupnya. Hawking pernah mencoba bunuh diri dengan tidak bernapas. Namun usahanya gagal.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)