logo rilis

Fahri Hamzah Lebih Senang Dimaki daripada Dipuji
Kontributor
Yayat R Cipasang
09 Mei 2018, 17:42 WIB
Fahri Hamzah Lebih Senang Dimaki daripada Dipuji
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

FAHRI Hamzah adalah ikon DPR yang kerap bersuara nyaring, miring dan kerap membuat merah muka eksekutif. Apalagi kalau sudah berduet dengan Fadli Zon, nir pelantang pun suaranya sudah bikin pusing rezim berkuasa.

Tentu, Fahri sudah tahu konsekuensi dan juga ganjarannya bila terus menyalak dan 'jahil' kepada pemerintah. Berbagai cacian dan makian pendukung rezim lewat media sosial menjadi konsumsi Fahri sehari-hari.

Uniknya, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu malah senang mendapat cacian dan makian yang umumya dicuitkan warganet. Dari cacian yang paling lunak hingga kata-kata yang sejatinya hanya boleh beredar di lingkungan kebun binatang.

Sekali-kali Anda boleh mencoba maki-maki wakil ketua DPR ini di depan publik. Jangan khawatir, dia dipastikan tak akan marah. Mungkin kalau waktunya lebih luang bisa jadi malah Anda diajak ngopi bareng.

"Tapi jangan sekali-kali mengirim konten pornografi kepada saya. Saya tidak ada ampun. Saya pidanakan. Boleh memaki-maki saya tapi tidak ada ampun bagi pengirim konten pornografi," kata Fahri dalam sebuah kesempatan.

Rupanya sifat Fahri yang lebih senang dimaki daripada dipuji mencontoh Nabi Muhammad Swa. Menurutnya, Nabi tidak senang dipuji. Bahkan kalau dipuji, Nabi akan melempar pasir ke muka yang muji. "Kalau ada yang memaki malah Nabi menghargainya," kata pendiri Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Karena itu, Fahri pun tidak suka dengan kepura-puraan. Suaranya yang lantang dan lugas mengkritik penguasa dan juga partainya sendiri bagian dari bentuk tidak adanya kepura-puraan dalam diri Fahri.

"Saya akan kalah kalau ego saya tinggi. Kalau ego dominan, saya bisa hilang. Saya menjadi tidak sadar diri dan duduk di tempat yang tidak tenang. Kaki saya ngak jejak," ujarnya.

Namun, di tengah kelugasannya Fahri mengaku tetap enjoy. Kasus atau peristiwa seserius apapun tetap harus dibawa dengan penuh canda. "Saya ini tidak boleh serius, semuanya harus dibawa sambil bercanda. Tapi saya tetap akan mengkritisi hal-hal yang tidak benar," ujar kelahiran Sumbawa, 10 November 1971 ini.

"Jadi kalau hati Anda busuk jangan mantas-mantasin diri jadi pemimpin. Untuk apa? Karena Anda hanya akan mendatangkan banyak korban. Saya ngak mau ada korban gara-gara pemimpin rusak," kata mantan Ketua KAMMI ini.

"Meskipun hari-hari ini ada yang mematut-matut diri jadi pemimpin padahal sebenarnya tidak pantas," lanjut Fahri entah siapa yang disasar.

Sikap egaliter dan juga sikap fair Fahri ditunjukkan juga di lingkungan kerja dan juga di keluarga. Sudah menjadi kebiasaan atau galib, Fahri dimaki-maki stafnya kalau pendapatnya menyimpang. "Staf memaki-maki saya dalam perdebatan tentang sebuah isu sudah biasa, bahkan tamu saya di ruangan sampai kaget. Tapi itu biasa bagi kami," ujarnya.

Di rumah pun begitu. Fahri pun ketika datang ke rumah sudah siap dalam kondisi dimarahi baik oleh istri atau anak. "Mungkin ada yang beranggapan saya di depan istri sebagai penakut. Tapi itulah, istri itu kan yang tahu luar dalam kita. Kehormatan kita itu dijaga oleh istri. Dia seharian di rumah, sangat melelahkan. Sementara kita dengan alasan apa saja enak di luar rumah. Pantas istri untuk memarahi kita," ujarnya.

Saat disinggung tentang calon pemimpin ideal, Fahri tetap mengusung Anis Matta sebagai pemimpin tanguh untuk masa depan Indonesia. Menurut Fahri, kapasitas jiwa dan pikirannya sudah teruji.

"Dia dari sembilan calon pemimpin yang dijaring PKS termasuk pemimpin yang tidak gampang panik, tidak gampang bereaksi dan marah untuk hal-hal yang tidak perlu serta tidak gampang belok. Sekarang orang cari selamat semua," ujarnya.

Bagaimana dengan nasib Fahri sendiri? Sepertinya Fahri tetap bertahan di PKS kendati partai sudah memecatnya. Bagi sebagian mungkin senang Fahri tidak mencalonkan diri sebagai anggota legislatif untuk pemilu mendatang tetapi bagi sebagian lagi pasti merasa kehilangan suara kritisnya yang telah mewarnai Parlemen. Itulah dinamika.

"Saya tidak nyaleg lagi," kata Fahri dalam sebuah kesempatan di Pressroom DPR.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)