logo rilis
Fahri Hamzah, Fenomena Populisme di Media Sosial
Kontributor
RILIS.ID
18 Desember 2017, 15:26 WIB
Fahri Hamzah, Fenomena Populisme di Media Sosial
ILUSTRASI: Hafiz

Endy Kurniawan
Konsultan Media, Praktisi Komunikasi Digital, Penulis Buku

ORANG bisa bilang benci politik, tapi top 10 percakapan Twitter di Indonesia didominasi politisi. Isu politik adalah kolam pembicaraan yang seru. Bising tapi interesting. Ahok, Jokowi, Anies Baswedan dan Fahri Hamzah, mengunci 4 besar riset Twitter.id 6 Desember lalu. 

Baca Juga

Selebihnya adalah akun artis, selebritas dan official account Divisi Humas Polri. Ketika ditanya internet untuk apa, 100 juta lebih warga internet Indonesia mengatakan “untuk mencari informasi politik”, ini data valid APJII tahun 2016 lalu.

Pada bulan September, lembaga survei Radian mempublikasi hasil riset digitalnya. Saat itu, Fadli Zon dan Fahri Hamzah menjadi dua nama tertinggi di antara pejabat publik. Nomor tiga jubir KPK Febri Diansyah lalu Jokowi dan Kapolri Tito Karnavian. 

Dalam analisis teks, Fadli Zon adalah news aggregator, tapi Fahri news maker. Fadli Zon kontennya dibaca sebagai informasi, konten Fahri dibaca karena mindblowing, jadi inspirasi maupun kontroversi.

Bagi public figure, viral content yang genuine dan menggelinding serta dibagikan secara cepat oleh warganet dan akhirnya mendongkrak popularitas adalah ultimate goal-nya. Tidak ada yang lebih tinggi dalam hal pencapaian kecuali konten media utama yang dipicu konten media sosial. 

Orasi dalam sebuah aksi di Monas Minggu pagi, direkam lalu menggelinding di Twitter dan Instagram sore hari, dibagikan jutaan penghuni Facebook malam hari, kemudian jadi headline berbagai media esok setelah hari berganti. Bahkan masih mendorong media layar kaca membuat liputan-liputan investigasi.

Itulah yang jadi perbincangan publik pada sosok Fahri Hamzah. Karakter kontennya eksplosif dan liar. Dia menyerang pihak lain--umumnya pemerintah--tapi dia bersedia diserang. Media sosial memang kejam dan bikin orang nggak tahan. Sering berisi fitnah dan cacian. Tapi publik suka karena Fahri fair. Dia tak pernah blok orang lain, dia berdiskusi dan membuka percakapan. Kadang berpuisi dan bercanda melempar lawakan.

Di mesin analisis media digital, konten Facebook Fahri Hamzah bisa menjangkau secara konsisten 13 juta lebih pengguna per bulan. Itu artinya hampir 10 persen dari total pengguna internet aktif di Indonesia dan sekitar 20 persen dari total pengguna Facebook aktif. 

Di Instagram yang baru sekitar 2 tahun ia gunakan, jangkauannya lebih rendah, sekitar 5 juta pengguna terpapar kontennya setiap bulan tapi disanalah konten visual Fahri sering bermula jadi viral. Twitter @fahrihamzah sendiri yang dibuat tahun 2010, meski tak terlalu besar pengikutnya (sekitar 650.000) untuk ukuran politisi nasional tapi sebuah rangkaian twit tentang suatu tema, sudah cukup untuk dikutip awak media untuk dimuat sebagai artikel utuh. 

Salah satu buktinya seperti yang dibahas di atas yaitu menjadi salah satu akun paling populer dan diperbincangkan di Indonesia.

Fahri Hamzah mendistribusikan pikiran dan suaranya di hampir seluruh kanal sosial paling populer di Indonesia. Selain Facebook, Twitter dan Instagram, Fahri (atau tim medianya) mengguyur konten juga di YouTube dan messenger channel seperti Telegram. Seandainya riset juga meneliti seluruh kanal digital, rasanya Fahri Hamzah ada di urutan teratas, berada di front row bersama Presiden Joko Widodo.

Fahri Hamzah bukan orang baru di dunia politik, sudah tiga periode dia jadi legislator. Dia bergaul di elite tapi dia menyuarakan aspirasi publik. Yang tampak tak beres dia hajar, biarpun itu adalah sosok yang terlalu sakral untuk dikritik publik, semisal Presiden dan Kapolri.

Strategi populisme itu, entah terencana atau tidak, telah menjadi brand adequacy seorang Fahri Hamzah. Banyak orang tak suka, tapi lebih banyak lagi masyarakat yang terwakili. Inilah arus baru. Bahkan orang menikmati babak selanjutnya dalam penggunaan media sosial, perang pemikiran dan saling serang berbasis data itu tak menjadi soal. Daripada curhat dan twit baper serta selfi-selfi cuma untuk pencitraan.


#opini
#fahri hamzah
#media sosial
#
#populisme
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)