Home » Inspirasi » Wawancara

Fahri Hamzah: Ada Pengeroyok-pengeroyok DPR RI

print this page Selasa, 24/10/2017 | 23:46

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

BARU-BARU ini, Litbang Kompas merilis hasil survei mereka tentang citra lembaga/institusi pemerintahan. Dari hasil survei yang dilakukan, DPR RI memperoleh citra paling buruk dibanding lembaga/instansi lain, yakni 52,3 persen.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, sebagai penanggung jawab modernisasi DPR RI, menilai ada upaya dari kelompok-kelompok yang tidak senang dengan partai politik, perwakilan yang notabene adalah kelompok yang berkaitan dengan KPK. 

Fahri mengistilahkan, kelompok yang tidak ingin terikat tapi mendapatkan keuntungan dan mampu menambang uang dari APBN adalah “pengeroyok-pengeroyok”.

Terkait adanya upaya “pengeroyok-pengeroyok” yang tak akan berhenti untuk menghabisi DPR RI, wartawan rilis.id Zul Sikumbang berhasil mewawancarai Fahri Hamzah di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (23/10/2017). Berikut petikan wawancaranya:

Tanggapan Anda soal DPR masih sebagai lembaga yang memiliki citra paling buruk hasil survei Litbang Kompas?

Saya sebagai penanggung jawab modernisasi parlemen putus asa dengan cara black mail yang dilakukan oleh pengeroyok-pengeroyok yang teridentifikasi bahwa pengeroyok itu sangat terikat dengan narasi yang dibuat KPK tentang kejahatan partai politik, tentang OTT anggota partai politik, OTT anggota DPR RI, dan semuanya.

Ada design?

Menurut saya, ada orientasi untuk menghancurkan sistem politik atau keparpolan kita dan juga lembaga legislatif. Tidak fair cara mengampanyekan negatif terhadap DPR RI ini. Sehingga kalau persepsinya seperti itu, ya kayak gitu.

Apakah DPR sudah lakukan sesuatu untuk menangkal pengeroyok tersebut?

Yang kita lakukan sebenarnya sudah luar biasa. Apa sih yang Anda lihat secara kasat mata yang ngawur di DPR RI ini, mereka kerja siang-malam, partai-partai itu kerja siang-malam karena Negara tidak membiayai parpol dan mencari cara agar bisa menghidupkan partainya. Di situ banyak penyimpangan dan saya usulkan agar partai politik dibiayai oleh Negara, supaya uang pribadi tidak masuk partai.

Orang-orang yang terus menghajar dan mengampanyekan negatif DPR, saya duga sangat kuat hubungannya dengan KPK. Inilah yang menyebabkan wajah politik kita, partai politik, dan parlemen kita menjadi buruk.

Apakah relevan kalau DPR RI selalu mendapat citra buruk sementara di DPR ada 10 fraksi dengan kepentingan yang berbeda-beda. Sementara TNI, Polri, KPK dan lembaga lain tidak?

Itu yang yang harusnya diungkap bahwa DPR RI ini terdiri dari 10 fraksi, tapi kan ini sudah dihajar saja. Tidak ada satu pun partai yang bagus. Nanti muncul partai baru seolah-olah bisa menawarkan sesuatu yang baru. Lalu kandidat-kandidat yang muncul dari nonparpol. Lalu di mana fungsinya kaderisasi partai. Yang begini-begini sangat buruk bagi demokrasi dan pertumbuhan demokrasi kita.

Apa bentuk kampanye negatif sehingga citra DPR buruk?

Banyak cara yang dilakukan untuk menjadikan DPR mendapatkan citra buruk. Ketua DPR-nya disandera, dicekal tidak ada alasan dan itu buruk attitude, dan akan cari-cari kesalahan sehingga jeleklah DPR. Orang bilang DPR jelek, ketuanya dicekal, padahal tidak ada dasar.

Siapa saja kelompok-kelompok yang berkaitan dengan KPK ini?

Salah satu ujian demokrasi Indonesia adalah ujian dari kelompok yang menghancurkan DPR RI, ingin menghancurkan citra partai politik, lembaga-lembaga perwakilan. Saya menduga kelompok ini adalah kelompok anti-partai, anti-pelembagaan demokrasi dan mereka senang bersembunyi di lembaga-lembaga yang tidak terikat, tidak berbasis parpol. Di situ mereka mengambil keuntungan, menambang APBN, dan menikmati popularitas sambil menghancurkan secara terus-menerus citra partai politik, lembaga perwakilan dan kelembagaan yang terbentuk akibat proses politik. Dari situ mereka kirim orang, kirim kader sehingga mereka terus yang terpilih, padahal mereka itu tumbuh sebagai benalu di lembaga-lembaga.

Siapa saja mereka?

Saya tidak mau sebut persis. Tapi itu kasat mata, kelompok-kelompok lobiest, mafia tanpa partai itu, itu kayak lobi Yahudi di AS.

Kelompok ini terus berupaya menghancurkan partai politik, DPR RI?

Pasti karena mereka tidak setia dengan pelembagaan demokrasi, mereka setia dengan kehidupan yang bebas, makanya mereka senang dengan lembaga yang tidak terikat yang mereka sebut lembaga independen. Itu terus yang dibesar-besarkan.

Sampai kapan bisa dihentikan kelompok ini?

Sampai kita mampu melakukan pelembagaan politik yang sehat. Selesaikan urusan parpol dalam kaitannya dengan keuangan. Jangan bicarakan uang pribadi dan uang liar masuk ke partai politik. Murni dibiayai negara seperti di Eropa Barat, murni dibayai oleh pasar seperti di AS, dan dibiayai oleh negara dan pasar. Kalau saya cenderung seperti Eropa Barat untuk pembiayaan parpol.

Penulis Zulhefi Sikumbang
Editor Ahmad Fathoni

Tags:

DPR RIFahri HamzahWawancara

loading...