logo rilis
Fadli Zon, Pameran Keris hingga Koleksi Tanda Tangan Jokowi
Kontributor
Yayat R Cipasang
02 Maret 2018, 22:09 WIB
Fadli Zon, Pameran Keris hingga Koleksi Tanda Tangan Jokowi
Wakil Ketua DPR Fadli Zon saat berkunjung ke Kantor RILIS.ID di Pejaten Raya, Jakarta Selatan. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

SEJAK Fadli Zon masuk ke Senayan lewat Pemilu 2014 dan menjadi wakil Ketua DPR, Kompleks Parlemen menjadi lebih meriah. Sejumlah kegiatan dan pameran budaya digelar rutin mulai dari pameran keris, karya lukis, batu akik, buku tua, hingga pameran filateli. Senayan pun menjadi lebih meriah.

Fadli Zon yang juga seorang budayawan ini kerap menyampaikan kritik pedas kepada Presiden Jokowi yang bikin merah kuping orang-orang di sekitarnya. "Kalau Pak Jokowi, senang di kritik katanya biar rame," kata Fadli Zon sambil tertawa mengutip pernyataan Jokowi.

Kritik sering disampaikan secara lugas lewat media massa atau televisi dan juga lewat puisi. Tapi di balik sikap kritis kepada penguasa tersebut, Fadli Zon ternyata mengumpulkan sejumlah tanda tangan Jokowi dalam berbagai medium. Mengoleksi tanda tangan Jokowi itu merupakan bagian dari kegemarannya sebagai kolektor berbagai benda dari mulai keris hingga buku tua termasuk 13.000 piringan hitam yang diproduksi sejak tahun 1930-an.

Untuk mengetahui alasan menyulap DPR menjadi lebih humanis dengan kegiatan budaya dan juga soal hobinya sebagai kolektor hingga sudah sudah menghabiskan tiga tempat, berikut ini perbincangan Yayat R Cipasang dengan Fadli Zon saat berkunjung ke Kantor RILIS.ID di Pejaten Raya, Jakarta Selatan, Senin (1/3/2018).

Setelah seorang Fadli Zon menjadi anggota DPR, Kompleks Parlemen menjadi lebih meriah dan lebih humanis dengan sejumlah kegiatan budaya. Apa yang mendorong Anda menggelar sejumlah kegiatan tersebut?

Gedung DPR ini gedung milik rakyat dan sangat strategis. Saya termasuk yang ingin wajah DPR ini lebih berbudaya dan diisi oleh kegiatan-kegiatan kebudayaan.

Oleh karena itu kita menginisiasi pameran lukisan setiap tahun namanya 'Kepada Republik'. Tahun kemarin yang ketiga kali. Tahun ini akan ada lagi yang keempat.

Lalu kita juga menggelar pameran keris. Keris ini karya anak bangsa yang sudah diakui UNESCO dan kita sudah beberapa kali menggelar pameran dan insya Allah tahun ini kita akan menggelar pameran lagi.

Termasuk pameran batu akik?

Kalau batu akik ketika itu dalam rangka mendukung ekonomi rakyat dan saya kira kita juga banyak mempromosikannya. Saya juga kerap memberikan keris hampir kepada semua duta besar negara sahabat.

Lalu pameran filateli karena ini ada di dalam undang-undang. Di situ juga banyak sejarahnya mulai dari perangko hingga stationery.

Apakah semua koleksi itu disimpan di Fadli Zon Library?

Pertama saya itu mengoleksi buku. Kemudian buku-buku tua.  Ada sekitar 55 ribu buku yang saya koleksi. Karena sudah penuh kita sekarang sudah tiga tempat. Karena perpustakaan sudah tidak muat.

Buku yang paling tua sekitar Abad 17  sekitar 1600-an. Buku tahun 1700-an juga banyak. Buku-buku tentang Nederland Indische tentang Hindia Belanda. Kemudian tahun 1800-an banyak juga. Koran-koran tua juga dengan variannya. 

Buku, koran, keris, tombak, perangko dan benda filateli lainnya, uang koin dan kertas dari zaman Belanda hingga sekarang saya koleksi. Uang-uang koin yang saya koleksi mulai dari zaman kesultanan mulai zaman Samudra Pasai, Sriwijaya hingga Majapahit.

Ada juga piringan hitam. Mungkin sekitar 13 ribu piringan hitam Indonesia dari tahun 30-an dan sudah saya digitalisasi.

Jadi lengkap tuh mulai dari kelompok Koes Plus, penyanyi Sam Saimun, Dardanella sampai Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih. Kalau penyanyi masih hidup saya minta langsung piringan hitam itu ditandatangani penyanyinya.

Ada koleksi lain?

Ohya, saya juga mengoleksi kacamata tokoh-tokoh bangsa. Saya mintain, seperti kacamata milik Mohamad Hatta dan Sjafruddin Prawiranegara. Saya juga mengoleksi mesin tik tua milik sastrawan dan wartawan seperti  milik  Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Asrul Sani, Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Harmoko dan Taufiq Ismail

Terkait sastra apakah sampai sekarang Anda masih mendani majalah Sastra Horison?

Bukan mendanai. Kita urunan kecil-kecilanlah. Saya dari tahun 1993 sudah menjadi redaktur Horison. Yang meminta saya waktu itu adalah Danarto dan saya masih kuliah tingkat dua di Universitas Indonesia ketika itu.

Sampai sekarang saya masih aktif mengelola majalah Horison. Pada tahun ke-50 Horison kita nyatakan sebagai cetakan terakhir dan kita membuat versi online. Tapi sejak Januri kemarin kita ingin hidupkan lagi Horison tetapi tidak bulanan lagi melainkan setiap tiga bulanan.

Tadi Anda mengatakan sampai sekarang mengumpulkan benda-benda bersejarah milik tokoh bangsa, apa yang dikoleksi dari Jokowi?

Ada. Saya waktu bertemu awal-awal dengan Pak Jokowi saya minta tanda tangan dalam buku. Kemudian waktu jadi presiden majalah Time (yang membuat laporan tentang Jokowi) saya bawa dan ditandatangani Jokowi. Kemudian waktu jadi presiden juga gambar presiden (yang kerap digantung di dinding) juga saya mintai untuk ditandatangani.

Kemudian saya juga minta perangko presiden (Jokowi) dalam amplop ditandatangani juga. Dan saya lihat selama saya minta tanda tangannya Pak Jokowi sangat senang. Hahaha....


komentar (0)