logo rilis
Fadli Zon: Baru Sekarang Presiden Bacanya Doraemon, Ini Tragedi
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
12 Februari 2019, 16:40 WIB
Fadli Zon: Baru Sekarang Presiden Bacanya Doraemon, Ini Tragedi
Fadli Zon. FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yahmin

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, menyindir Presiden Joko Widodo yang gemar membaca komik, salah satunya serial Doraemon. Padahal, menurutnya, para tokoh-tokoh negarawan dan pendiri bangsa adalah orang-orang yang mempunyai tradisi membaca dan menulis. 

"Hampir kita tidak menemukan tokoh-tokoh negarawan pendiri bangsa yang tidak membaca dan menulis. Baru sekarang presiden bacanya Doraemon dan segala macam. Ini tragedi," katanya saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik Selasa-an, Topic of The Week, "Jelang Pilpres, Jokowi Blunder dan Panik?", di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta, Selasa (12/2/2019). 

Wakil Ketua DPR RI itu mengungkapkan, Presiden dan Wakil Presiden Ke-1, Soekarno-M Hatta, memiliki tradisi membaca dan menulis yang baik. Bahkan, menurutnya, Hatta pernah menulis tentang "Indonesia Merdeka" pada 1927.

"Bung Karno menulis "Indonesia Menggugat". Natsir, Roem, Kasman, Sumitro Djoyohadikusumo semua pemikir penulis," ujarnya. 

Fadli menilai, seorang presiden juga harus memiliki cita-cita terkait ke mana arahnya membawa bangsa dan negara. Menurutnya, yang terjadi saat ini justru ibarat nahkoda kapal yang tak tahu lagi arah tujuannya. 

"Nahkoda sekarang tidak tahu kapal ini mau dibawa kemana. Muter-muter di laut, habis BBM, kapal bisa karam. 

Fadli kemudian mengingatkan kembali soal cerita dalam wayang, yakni Petruk jadi ratu.

"Singkat cerita, dia menyaru menjadi Prabu Kantong Bolong, kemudian dia menjadi raja. Mendapat wahyu keprabon. Ketika wahyu lepas, dia kembali menjadi petruk sesungguhnya. Ketika itu apapun yang dilakukan pasti salah. Pakai baju salah, mau naik motor salah, marah pun salah," tuturnya.

Fadli meyakini, pemerintahan Jokowi akan berakhir di Pilpres 2019 dengan kemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hal itu, menurutnya, lantaran elektabilitas Jokowi yang stagnan. 

"Ketika seorang petahana memulai elektabiltiasnya di angka 52,53, anggap 56, sebetulnya dia sudah kalah. Karena perolehan dia di 2014 saja, itupun dengan berbagai macam kecurangan, itu 53. Jadi tidak bergerak lima tahun lalu dengan sekarang. Artinya tidak ada capaian yang membuat rakyat mengokohkan pilihannya," tandasnya.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID