logo rilis
Fadli: Mas Dawam Penjaga Ekonomi Kerakyatan dari Serangan Ekonom Neoliberal
Kontributor
Zul Sikumbang
31 Mei 2018, 12:10 WIB
Fadli: Mas Dawam Penjaga Ekonomi Kerakyatan dari Serangan Ekonom Neoliberal
Fadli Zon dan Prof HM Dawam Rahardjo saat menjadi pembicara dalam acara bedah buku Ekonomi Politik Pembangunan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. FOTO: umy.ac.id

RILIS.ID, Jakarta— Berpulangnya ekonom senior M Dawam Rahardjo membawa kesedihan bagi Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. Menurutnya, Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya.

Mas Dawam, sapaan akrabnya, bukan hanya pemikir besar dalam bidang ekonomi, tapi juga pemikiran sosial, keagamaan, dan gerakan kemasyarakatan.

"Saya sangat merasa kehilangan. Mas Dawam adalah pemikir ekonomi kerakyatan. Bersama almarhum Mubyarto dan Edi Swasono, mereka merupakan intelektual pejuang yang telah mempertahankan eksistensi Pasal 33 UUD 1945 dari serangan para ekonom Neoliberal pada proses amandemen Konstitusi dulu," ungkap Fadli di Jakarta, Kamis (31/5/2018).

Para ekonom Neolib yang permisif terhadap kepentingan asing ingin menggusur pasal keramat tersebut. Namun, Mas Dawam dan beberapa ekonom nasionalis dengan gigih berusaha mempertahankannya. 

"Meski kemudian Mas Dawam dan Mubyarto mundur dari Tim Ahli Panitia Ad Hoc amandemen Pasal 33, pandangan keduanya berhasil meyakinkan publik mengenai bahaya amandemen pasal penting tersebut," kata Fadli.

Terbukti, sesudah reformasi telah puluhan undang-undang yang akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi karena dianggap bertentangan dengan Pasal 33. Mulai dari UU Ketenagalistrikan, UU Sumber Daya Air, UU Migas, hingga UU Koperasi. 

"Bisa kita bayangkan, bagaimana rusaknya negara kita hari ini jika Pasal 33 dulu berhasil digusur. Karena jasa Mas Dawam dan kawan-kawan itulah kita masih bisa agak membendung arus liberalisasi," ujar politisi Gerindra itu.

Menurut Fadli, dengan berpulangnya Mas Dawam, Indonesia kehilangan satu lagi pemikir ekonomi kerakyatan. Padahal, Indonesia membutuhkan lebih banyak ekonom kerakyatan untuk membenahi arah perekonomian nasional. 

"Pembangunan kita saat ini kan sudah salah arah. Kebijakan ekonomi kita tidak lagi tunduk kepada konstitusi, melainkan tunduk kepada teori-teori liberal," tambahnya.

Fadli juga menyampaikan, keterpurukan ekonomi yang dialami Indonesia saat ini sebenarnya berawal dari pengkhianatan terhadap Konstitusi. Itu sebabnya, jika Indonesia ingin bangkit dari keterpurukan, maka harus menengok pemikiran-pemikiran sebagaimana yang diperjuangkan oleh Mas Dawam.

"Selamat jalan Mas Dawam," kata Fadli.

Editor: Eroby JF


500
komentar (0)