Mohammad Nasih

Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE.

Evolusi Tidak Sempurna?

Rabu, 8/11/2017 | 13:31

MANUSIA berasal dari kera. Itu merupakan di antara asumsi tergesa-gesa yang kemudian dianggap teori, sehingga menjadi kontroversial. Charles Darwin dianggap sebagai pencetusnya. Steve Olson dalam bukunya, Maping Human History, menguraikan bahwa asumsi yang awalnya dikemukakan dalam bidang biologi ini kemudian berpengaruh ke dalam teori sosial, sehingga disebut dengan Darwinisme sosial yang melahirkan turunannya, bahwa manusia kulit putih adalah manusia yang mengalami evolusi secara sempurna. Sedangkan manusia kulit berwarna adalah kera yang mengalami evolusi secara tidak sempurna. Dengan kata lain, manusia kulit berwarna adalah manusia yang memiliki hubungan kekeluargaan paling dekat dengan kera. Dan kera yang mengalami evolusi secara sempurna dianggap sebagai manusia paling unggul.

Paradigma keliru itulah yang pernah berpengaruh sangat kuat di Barat-Eropa, sehingga menimbulkan diskriminasi ras. Bukti adanya diskriminasi itu adalah gerakan antidiskriminasi yang digalang oleh Marthin Luther King dalam sebuah pidato monumental berjudul “I Have a Dream” pada 28 Agustus 1963. Bahkan, sampai terpilihnya Obama sebagai Presiden AS, nuansa diskriminasi tersebut sesungguhnya masih ada. Demikian pula di Australia. Suku Aborigin, yang sesungguhnya merupakan penduduk pribumi, justru masih kesulitan dalam memperjuangkan hak-hak sebagai warga negara. Mereka harus tersingkir oleh pendatang yang datang dari Inggris dan kemudian berkuasa di sana. Bahkan ada satu fase kehidupan yang sangat kejam yang di dalamnya Suku Aborigin dijadikan sebagai sasaran untuk latihan menembak, karena tidak dianggap sebagai manusia sempurna.

Dalam konteks pemahaman tentang asal-usul manusia, masyarakat Barat-Eropa yang dikenal sebagai masyarakat yang maju, sesungguhnya tertinggal sangat jauh. Pada 14 abad yang lalu, Nabi Muhammad sudah menyatakan dengan tegas bahwa setiap manusia berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Adam; dan Adam diciptakan dari tanah. Al-Quran juga telah menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah dengan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Semua sederajat. Yang membedakan mereka di sisi Allah adalah ketakwaan mereka (Al-Hujurât: 13). Sedangkan di Eropa dan Amerika masih banyak orang yang berpandangan bahwa manusia kulit putih lebih unggul dibanding yang berkulit berwarna.  

Berdasarkan fakta itu, bangsa Indonesia sesungguhnya juga lebih maju. Sebab, sejak sebelum kemerdekaan, anak-anak muda yang berasal dari latar belakang keberbedaan SARA telah menyatakan diri sebagai satu bangsa. Mulai dari timur, orang Papua yang berkulit hitam legam dengan rambut keriting kecil, bibir tebal; orang Maluku yang tinggi besar, hitam, dan mulut agak lebar; orang NTT yang berkulit muka agak tebal, badan agak berotot, mayoritas cokelat hitam, dan mayoritas berambut keriting berombak; orang Jawa yang berkulit sawo matang dan berbadan sedang; sampai orang Aceh yang beragam macam ciri, menyatakan diri sebagai bangsa yang satu. Tidak ada pandangan dari satu suku bangsa yang meremehkan suku bangsa yang lain. Mereka telah membangun imajinasi bersama, karena persamaan nasib, sebagai satu bangsa yang sama. Sejak masa perjuangan, masa kemerdekaan, sampai saat ini, tidak pernah muncul masalah yang signifikan tentang masalah perbedaan ras yang sampai mengantarkan kepada klaim bahwa satu kelompok ras lebih tinggi dibandingkan yang lain. Semua adalah sama sebagai warga bangsa Indonesia. Wallahu a’lam bi al-shawab.