logo rilis
Ethys Mayoshi Diminta Terus Menggali Budaya Betawi
Kontributor
Fatah H Sidik
05 Mei 2018, 16:37 WIB
Ethys Mayoshi Diminta Terus Menggali Budaya Betawi
Budayawan Betawi Ridwan Saidi (kiri) dan desainer Ethys Mayoshi (kanan) di kediamannya, Bintaro, Jakarta Selatan. FOTO: Dok. Pribadi

RILIS.ID, Jakarta— Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, menyarankan, desainer Ethys Mayoshi memperkaya motif kebetawian pada batik karyanya. Disarankan menggali motif tempo dulu serta menghindari kesan "pinggiran". 

"Menambah motifnya lebih banyak dan tetap berkelas. Gali unsur-unsur kebetawian, untuk dijadikan motif," ujarnya saat dikunjungi Ethys di kediamannya Bintaro, Jakarta, baru-baru ini.

"Motif-motif seperti ujung rebung, ujung serong, dan lainnya, itu mencerminkan budaya masyarakat pinggiran. Cari motif masyarakat kota tempo dulu, salah satunya pedimen atau segitiga dengan dua garis di setiap sisi," imbuh dia.

Pedimen, terang Ridwan, merupakan ornamen rumah-rumah masyarakat Betawi perkotaan. Pedimen adalah simbol masyarakat pribumi Betawi berkelas Hindia Belanda.

Pada kesempatan sama, Ethys bersyukur terima Ridwan dengan hangat. Apalagi, pertemuan berlangsung produktif dan menambah wawasannya, lantaran Ridwan memberi banyak referensi untuk memperkaya motif batik gobang Jakarta.

Dia pun bakal menuangkan pengetahuan dari budayawan itu ke karya berikutnya. Misalnya, batik gobang Condet menggunakan kain sutra. "Karena zaman dahulu, Condet menghasilkan kain sutra dari peternakan ulat sutra," terangnya.

Ethya turut meminta dukungan atas rencana peresmian Rumah Gobang Jakarta di kawasan Jakarta Barat. Kegiatan dijadwalkan berlangsung usai Lebaran.

Di Rumah Gobang Jakarta, terangnya, juga akan menghadirkan produk kreatif lainnya yang berhubungan dengan sejarah Betawi. Di antaranya, berbentuk relief dan souvenir serta kopi dan teh yang merupakan minuman favorit masyarakat Betawi perkotaan.

Dalam pertemuan itu, Ridwan memberikan benda tajam bernama gobang. Ada juga koin Hindia Belanda pecahan 2,5 gulden yang juga dikenal dengan nama gobang.

"Selama ini, saya hanya mendengar dan tahu gobang itu semacam benda tajam dan nama koin mata uang di zaman Hindia Belanda," aku Ethys.

"Dengan mendapat senjata tajam dan koin zaman Hindia Belanda ini, menjadi penyemangat, pendukung, dan lambang kebanggan hasil karyanya sebagai warga betawi yang peduli budaya Betawi," tutup dia.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)