logo rilis

Enggak Lagi Nurut Kata Kiyai
Kontributor
Budi Prasetyo
20 September 2018, 21:45 WIB
Enggak Lagi Nurut Kata Kiyai
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman.

SUASANA di kantor rilis.id mendadak hening. Padahal tadinya sangat ramai setelah Presiden Jokowi selaku capres petana menyebut nama Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya. Kami mulai bertanya-tanya.

Sebegitu kuatkah pengaruh tokoh agama? Seperti itu gumam kami. Mengapa bukan Mahfud MD?

Bukan. Ini bukan cuma soal tokoh agama. Jokowi tentu punya pemikiran matang. Apalagi sebelumnya Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dikabarkan mau pisah dengan koalisi. Pasti soal Nahdliyin.

Pada Pilpres 2014 lalu, Jokowi banyak belajar. Ia tahu suaranya cuma selisih tipis di Jawa Timur. Basis massa orang-orang NU (Nahdlatul Ulama). Jangan sampai jeblok di sana. Hitungan-hitungannya.

Jawa Timur (Jatim) memang menarik. Punya populasi terbesar kedua setelah Jawa Barat. Bisa dibilang, penentu kemenangan di 2019 mendatang. Siapa yang pegang Jatim, dia yang akan menang.

Kenapa bukan Jawa Barat? Karena patner duel daerah tersebut adalah Jawa Tengah. Misal, Jawa Barat sudah diambil alih Prabowo, dan Jawa Tengah digenggaman Jokowi, pasti Jatim jadi taruhannya.

Suara Jatim memang tak pernah bulat ke satu pasang calon. Diprediski bakal pecah. Begitu kata pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam. Ini sama kayak di 2014 silam.

Jokowi hanya menang selisih sekitar 1,4 juta suara di Jatim. Mantan Wali Kota Solo ini kalah telak di Jabar. Tapi, menang banyak di Jateng. Andai saja kalah tipis di Jatim, Prabowo lah Presiden RI sekarang.

Begitulah kultur di daerah lumbung suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini. Menurut Surokim, dukungan kiyai struktural tak selalu diikuti oleh kader-kader di bawah.

"Tidak sekuat dulu. Karena meningkatnya pemilih rasional yang kritis," kata dia kepada rilis.id.

Belum lagi kiyai-kiyai kultural. Mereka masih banyak di sejumlah daerah Jatim. Mereka tak berafiliasi. Ini juga yang bikin Nahdliyin terpecah. Ma'ruf Amin tidak jadi jaminan penuh Jokowi menang.

Jatim Masih Cair

Dukungan masyarakat Jatim memang masih cair. Tinggi swing voters di sana. Jokowi dan Prabowo, kata Surokim, sama-sama punya peluang menggaet hati warga. Khususnya, Nadhliyin kultural.

Kalau mau menang, Prabowo bisa menggandeng masyarakat konvensional di daerah tersebut. Ini untuk menyaingi pengaruh kiyai struktural yang sekarang dirangkul pihak Jokowi.

Kalau begini caranya, bisa saja terjadi "benturan" antara NU kultural dan struktural. Sampai sampai disebut sebagai penghianatan terhadap kiyai. Pemilih rasional lah yang jadi "kambing hitam".

"Faktor literasi media juga dianggap munculnya pemahaman politik dari warga NU kultural," ujar dia.

Inilah yang jadi rujukan politik. Kewajiban patuh pada kiyai dalam urusan politik, bergeser. Terpaan dari berita-berita media massa dan media sosial punya pengaruh signifikan.

Tapi, enggak begitu kata para politisi. Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nasdem, Rendra Kresna optimistis Jokowi-Ma'ruf akan menang. Karena, Jokowi dekat dengan Nahdliyin.

"Bukan cuma kiyai Ma'ruf. Tapi juga Jokowi dekat dengan Nahdliyin," kata dia kepada rilis.id.

Banyak daerah yang bakalan jadi kantung suara pasangan calon tersebut. Klaim dia, Jokowi lah yang terbaik. Dan, kata dia juga para kiyai siap memenangkan petahana capres ini.

Jokowi memang dapat dukungan signifikan. Tercatat, belasan kepala daerah bergabung dalam tim kampanyenya. Ada Tri Risma Harini (Walikota Surabaya), Saiful Illah (Bupati idoarjo), Irsyad Yusuf (Bupati Pasuruan).

Lalu, Badrut Tamam (Bupati Pamekasan), Maryoto Birowo (Bupati Tulungagung), Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Rendra Kresna (Bupati Malang), Hj Faida (Bupati Jember), Ipong Muchlisoni (Bupati Ponorogo), Sambari (Bupati Gresik), dan Kartika Hidayati (Wabup Lamongan).

Prabowo Tak Gentar

Ketika rilis.id ngobrol-ngobrol dengan Sekretaris DPD Gerindra Jatim, Anwar Sadad, ia yakin Jatim akan mendulang suara untuk Prabowo. Ya, itu dilihat dari antusiasme Nahdliyin menyambut capres tersebut.

Bisa dibilang "kampanye" terang-terangan sudah dimulai dari Jatim. Karena selain Prabowo, Jokowi juga turut datang ke sana. Cuma, berbeda lokasi saja. Keduanya berebut suara Jatim.

Belum lagi, lobi-lobi kedua capres-cawapres ini dengan Yeny Wahid. Putri Presiden ke-4 Abdurahman Wahid (Gus Dur) ini punya magnet kuat. Lagi-lagi, ini soal suara Nahdliyin. Warga NU.

Jokowi dan Prabowo memang saling berebut suara NU. Kalau Anwar bilang, cuma beberapa kiyai saja yang mendukung sang petahana. Selebihnya, sepakat memberikan suara ke Prabowo.

"Para kiai satu pandangan dengan Prabowo," kata Anwar.

Cuma ini kan baru klaim. Belum semua mendukung secara terbuka. Karena itu Anwar bilang, masih ada beberapa yang perlu komunikasi lebih lanjut. Tapi, tak perlu menunggu lama. Kampanye sesungguhnya akan digelar.

Nanti, setelah tahu apa visi misi Prabowo, kata Anwar, kiyai di Jatim pasti satu suara. Karena, Prabowo punya konsep yang sejalan dengan mereka. Memajukan perekonomian di sana.

"Tak lama lagi setelah mereka tahu program dan visi misi Prabowo," jelasnya.

Prabowo, dan Gerindra Jatim menargetkan 60 persen suara masyarakat Jatim nantinya. Kesamaan pandangan yang dikatakan Anwar tadi, menjadikan Nahdliyin lebih optimistis ke Prabowo.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)