logo rilis

Enggak Kaget, Pengusaha Sudah Antisipasi 7-Day Reverse Repo Rate dari BI
Kontributor
Elvi R
16 Agustus 2018, 07:00 WIB
Enggak Kaget, Pengusaha Sudah Antisipasi 7-Day Reverse Repo Rate dari BI
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani. FOTO: kadin-indonesia.or.id

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, dunia usaha tidak mengalami kepanikan dalam menanggapi langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" 0,25 persen menjadi 5,5 persen.

"Kami tidak kaget atau heran karena kami sudah antisipasi ini menjadi 5,5 persen. Selama sudah diantisipasi, bukan suatu hal yang mengakibatkan kami panik," kata Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu malam (15/8/2018).

Menurutnya, pengusaha sudah menduga ada penaikkan suku bunga acuan BI. Hal ini mengingat Bank Sentral AS kemungkinan masih akan menaikkan suku bunganya dua kali pada tahun ini.

Oleh karena itu, para pelaku usaha sudah memasukkan faktor peningkatan suku bunga tersebut ke dalam perencanaan. Rosan juga memastikan bahwa tidak ada kepanikan dari pelaku usaha atas langkah yang ditempuh BI tersebut.

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" 0,25 persen menjadi 5,5 persen untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan dan menarik modal asing dengan harapan meningkatkan daya tarik aset Rupiah.

Kenaikan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" oleh Bank Indonesia dinilai bisa menjadi pilihan paling memungkinkan untuk menjaga nilai rupiah agar tidak melemah lebih dalam dari nilai fundamentalnya.

Rosan menjelaskan, dunia usaha memahami, apabila pelemahan rupiah terjadi secara terus-menerus, maka akan muncul potensi peningkatan biaya dana (cost of fund) karena 70 persen bahan baku dari impor.

Menghadapi hal tersebut, dunia usaha memiliki pilihan untuk melakukan efisiensi, membebankannya ke konsumen, atau kombinasi dari keduanya.

"Dengan adanya fasilitas swap jangka panjang, dunia usaha mendapatkan kepastian sehingga perencanaan menjadi lebih pasti. Dunia usaha itu tidak suka ada kejutan (suprise), kami ingin kestabilan," ujar Rosan.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)