logo rilis

Energi yang Membumi untuk Kebahagian
Kontributor

02 April 2018, 17:01 WIB
Energi yang Membumi untuk Kebahagian

Lain Dulu Lain Sekarang

Pikiran ini seketika menerabas ke masa kurang lebih 24 tahun yang sudah lalu. Ketika listrik untuk pertama kalinya masuk rumah kami. Di desa yang nun jauh dari hiruk pikuk hoax dan hate speech atau film porno yang segera menjadi racun mematikan. Juga sangat jauh dari isu NARKOBA yang begitu menjijikan. Kami beramai-ramai membantu petugas PLN yang menggali dan menancapkan tiang listrik dari beton yang bobotnya sangat berat kemudian memasanginya dengan kabel yang kelak sebagai media mengalirnya energi listrik. Semua bahu membahu membantu mulai dari orangtua hingga anak-anak seusia kami yang masih 6 tahunan. Ada sebuah rasa optimis yang membuncah ketika satu demi satu rumah dikampung kami disambungkan dengan kabel dari tiang listrik yang telah gagah berdiri. Tentu tidak langsung detik itu lampu yang sudah terpasang dirumah kami bisa menyala, tapi harus menunggu seminggu lagi agar lampu listrik dirumah kami benar-benar menyala. Saya ingat betul apa kata petugas PLN ketika saya dan kawan-kawan sebaya menanyakan kapan listrik kami bisa menyala. Dan jawaban petugas PLN itu adalah bahwa bendungannya sedang dikuras. Dulu kami percaya saja dengan jawaban tersebut, ingat usia saya masih 6 atau 7 tahun yang hanya mengetahui listrik itu berasal dari PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Tentu belum tahu proses pengubahan air itu menjadi energi listrik. Tapi kami percaya. Karena saat itu memang musim kemarau. Kami belum mengenal istilah turbin. Kami belum tahu bentuk bendungan. Kami hanya tahu dari orang tua kami bahwa listrik itu berasal dari aliran air yang deras dan banyak yang ditampung dibendungan. Itu saja.

Ketika lampu menyala dirumah kami, sungguh kebahagian tiada tara. Kami sering memandangi lampu dirumah dan bahkan sering memainkan saklar lampu, dimatikan dan dihidupkan kembali berulang kali. Begitu pula lampu yang ada di Mesjid membuat kami sangat bahagia. Mesjid semakin semarak oleh jamaah, semakin makmur. Tiap malam anak-anak sangat antusias mengaji di mushola. Sebelumnya mesjid atau mushola sebelah rumah kami hanya diterangi oleh lampu tempel atau patromak. Sedangkan diluar diterangi oleh obor atau dalam bahasa sunda disebut oncor yang di ikat dekat pagar mesjid. Tentu bahan bakarnya adalah minyak tanah (mitan) yang dimasukan ke potongan bambu lalu diujungnya dimasukan kain dan dibiarkan menyembul keluar. Kain itulah yang dibakar dan minyak tanah meresap ke dalam pori-pori kain tersebut. Dan ketika kegiatan di mesjid atau mushola usai, oncor dan lampu tempel pun dipadamkan, maka kegelapan segera hadir. Kegiatan membaca dirumah pun tak kalah ramainya. Dengan suara yang nyaring, layaknya lomba deklamasi anak-anak mulai membaca. Buku atau majalah bekas atau apa saja mereka baca. Kelak melalui koran bekas itu tumbuh manusia yang gemar membaca hingga dewasa. Belajar membaca, hanya membaca. Tak paham isinya, tidak mengerti isinya. Tujuan pemerintah bagia anak usia sekolah adalah calistung (Membaca, Menulis dan Berhitung) segera diaplikasikan dan dijalankan dengan penuh kesadaran. Program pengentasan butu hurup serempak dilaksanakan. Membaca dengan cara mengeja untuk anak-anak yang belum bisa membaca secara lancar. Semangat sekolah semakin memuncak. Cita cita menjadi seorang Doktorandus semakin kuat. Cita-cita menjadi seperti Habibie semakin yakin tergapai. Itulah masa-masa kami sebagai anak kampung yang sangat bahagia dengan hadirnya listrik. Listrik adalah optimisme, harapan dan semangat.

 

Lampu kami nyalakan dari mulai pukul 5 sore atau setengah enam sore hingga pukul 5 atau 6 pagi. Saya masih ingat betul, lampu kamar saya mereknya ChIyoda 5 watt berbentuk pijar. Sedangkan diruang tengah kami ada lampu neon panjang mereknya Philips. Saya masih ingat juga warna kabel yang kami gunakan adalah merah dan hitam yang kami beli di toko bangunan Bapak Maedi, 3 kilo jaraknya dari rumah. Toko bangunan itulah yang paling dekat dengan rumah kami yang menyediakan kabel. Sedangkan lampu diluar menggunakan lampu pijar 10 watt sehingga sinar yang dihasilkannya lebih terang. Selang setahun kami membeli TV hitam putih merek Nasional ukuran 14". Acara yang sering kami tonton adalah Wayang Golek, Cerdas Cermat, Berita Nasional, Dunia Dalam Berita dan Aneka Ria Safari juga Album Minggu yang hanya disiarkan oleh TVRI. Selain acara itu saya lupa acara apa lagi yang sempat kami tonton. Tapi yang jelas dalam setiap berita pasti ada berita mengenai Istana Negara, Bina Graha dan senayan. Tentu lengkap dengan mahluk-mahluk penghuninya, baik Presiden dan keluarga Cendana, menteri penerangan dan para menteri lainnya. Lalu tak lama kemudian muncul stasiun TV lain seperti TPI yang sekarang berubah nama jadi MNCTV dan RCTI, acara lebih beragam, ada acara anak-anak, hingga Sinetron untuk orang tua. Dan saat itu menonton TV adalah kegiatan yang saya rasa sangat bermanfaat. Semua anggota keluarga berkumpul sambil berdiskusi atau ngobrol bahkan sambil mengerjakan PR sekalipun atau sekedar membaca. Kesahajaan dan kebersamaan diruang keluarga terbina dengan adanya TV, listrik dan tentu panganan ringan khas pedesaan. Kehangatan rumah sungguh terasa.

Mari kita menapak lagi ke posisi dijaman milenial sekarang ini.

Kini lampu diruang keluarga kami yang digunakan sudah menggunakan lampu LED dengan watt yang lebih besar, 15 atau gahkan ada yang hingga 50 Watt. Ukuran TV juga sudah berubah dari 14" hitam putih merek Nasional menjadi Polytron ukuran 45" berwarna dan lengkap dengan siaran TV digital juga smart TV. Tapi sekarang TV itu hanya dinyalakan malam hari atau di hari libur saja. Semua orang dari pagi hingga sore bahkan malam masih sibuk diluar rumah, dikantor atau bahkan dijalanan. TV hanya sebatas pemanis ruangan saja atau hanya sekedar punya saja. Semuanya sudah mulai tersisihkan oleh gadget yang menawarkan informasi dan hiburan yang lebih kaya. Chanel yang lebih pariatif dan jenis yang semakin personal. Dulu membaca buku harus sambil duduk dikursi dekat lampu agar lebih jelas, sekarang membaca buku cukup menggunakan e-book dari smart phone dan bahkan membaca Al Quran juga cukup dari aplikasi gadget. Dulu ketika nonton TV pasti sering diskusi dan bahkan sampai berdebat antara saya, saudara atau bahkan orang tua sekalipun, sekarang malah sunyi. TV tetap menyala tapi mata dan tangan asyik dengan gadget, tak perlu lampu lagi. Sehingga wajahnya tampak bercahaya. Masing-masing bisa tertawa sendiri atau bahkan cemberut dengan sendirinya. Hoax dan fitnah seliweran dijagat media. Baik itu yang viral melalui media sosial maupun sengaja diulas di media mainstream. Semua orang berpendapat, hingga riuh, ramai. Semua bisa jadi ahli hukum, semua bisa juga jadi politisi. Setiap orang punya pandangan tentang situasi yang secara realtime bisa diunggah atau disaksikan. Semua bisa jadi orang baik dan semua juga bisa berpura-pura menjadi tokoh antagonis. Semua bisa menjadi ahli agama, semua bisa seketika menjadi tampak hebat lalu menjadi penjahat. Semua bisa instant, serba cepat dalam hitungan detik. Semula kaya raya bisa jatuh miskin seketika karena bermain gegabah melalui pasar saham. Semua bisa kami saksikan dengan mudah melalui siaran TV atau smart phone kami. Dan sekali lagi energi listrik telah mengubah gaya hidup dan perilaku kami. Teknologi temuan Michael Faraday ini telah begitu maha penting. Tentu ditunjang dengan peralatan elektronik lainnya. Apakah ini millenial?

 

Dulu saya pernah menonton satria baja hitam, Ultaraman, Kura kura ninja, Pendekar harum, Tersanjung, Panji Manusia Millenium dan lain sebagainya. Atau mungkin pernah juga nonton serial Maria Mercedes dan serial latin lainnya. Tapi itu bukan kesenangan, saya cuma ikut arus euforia dari jaman kegelapan ke jaman terang benderang.

 


#energi yang membumi
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID