logo rilis

Enam WNI Dibebaskan dari Penyanderaan Kelompok Bersenjata Libya
Kontributor
Syahrain F.
02 April 2018, 14:21 WIB
Enam WNI Dibebaskan dari Penyanderaan Kelompok Bersenjata Libya
Menlu Retno Marsudi (tengah, kemeja putih) berfoto bersama keenam WNI yang berhasil diselamatkan dari penyanderaan kelompok bersenjata di Benghazi, Libya, di gedung Kementerian Luar  Negeri, Senin (2/4/2018). FOTO: RILIS.ID/Syahrain F.

RILIS.ID, Jakarta— Indonesia berhasil membebaskan enam WNI yang tersandera oleh kelompok bersenjata di Benghazi, Libya.

Hari ini (2/4/2018), keenam WNI yang merupakan anak buah kapal (ABK) tersebut secara simbolis diserahkan ke keluarganya masing-masing setelah selama tujuh bulan tersandera di kapal mereka sendiri.

"Kita harus mengucapkan syukur alhamdulillah, karena kemurahan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya kami mewakili Pemerintah Indonesia dapat menyerahkan enam ABK WNI yang sejak 23 September 2017 disandera oleh kelompok bersenjata di Benghazi, Libya," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Kementerian Luar Negeri (Kemlu), di Jakarta.

Menlu Retno menyampaikan, mengenai proses pembebasan melibatkan kerja sama antar badan pemerintah, di antaranya Kemlu, Badan Intelijen Negara (BIN), Kedutaan Besar RI untuk Tunisia dan Libya.

"Sebagaimana diketahui, ini tidak mudah. Karena daerah itu daerah konflik. Tapi alhamdulillah, karena kerja keras dan niat baik, dan sekali lagi ini berkah dari Allah, enam ABK dapat kita bebaskan," ucap Retno.

Direktur Perlindungan WNI Kemlu Lalu Muhammad Iqbal menjelaskan, proses pembebasan telah dimulai sejak berita penyanderaan itu diterima pemerintah.

Iqbal sendiri ditugaskan sebagai kepala misi untuk membebaskan keenam sandera yang bekerja untuk kapal berbendera Malta bernama Salvatour.

Dia menceritakan, sejak 23 September, tim yang dia pimpin langsung berangkat dan berkoordinasi dengan KBRI Tunisia dan Libya. Dalam rencana, tim ingin membebaskan para sandera sehari setelah tiba di Libya.

"Kendala ada di keamanan juga politik. Benghazi dikuasi kelompok yang anti pemerintah. Maka itu kami sangat hati-hati," tutur Iqbal.

"Sesampainya di sana belum disepakati penyerahan sandera. Lalu pada 27 Maret pukul 12.30, sesuai kesepakatan dilakukan serah terima dari kelompok bersenjata tersebut di pelabuhan Benghazi," lanjutnya.

Salah satu ABK yag diselamatkan, Ronny William, berterima kasih kepada pemerintah karena telah mengupayakan pembebasan dirinya beserta lima ABK lainnya.

"Saya mengucapkam terimakasih kepada Bu Menteri, Pak Jokowi, KBRI Tunis, Tripoli, serta tim. Kami ucapkan syukur dan terima kasih karena kami bisa dipertemukan dengan keluarga kami kembali," ucap Ronny.

Nama keenam WNI tersebut antara lain Ronny William dan Joko Riadi dari Jakarta, Haryanto, Saefuddin, Waskita Ibi Patria, dan Muhammad Abudi. Keempatnya dari Blitar.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)