logo rilis
Empat Individu Orang Utan Dilepasliarkan di Kalteng
Kontributor
Kurniati
03 April 2018, 18:24 WIB
Empat Individu Orang Utan Dilepasliarkan di Kalteng
Ilustrasi Orang Utan. FOTO: Instagram/@orangutan_cop

RILIS.ID, Palangkaraya— Yayasan BOS bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah dan USAID Lestari, kembali melepasliarkan empat orang utan ke alam liar di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, Selasa (3/4/2018).

"Dilepasliarkannya keempat orang utan tersebut setelah menjalani proses rehabilitasi dan telah memiliki keterampilan, serta perilaku yang memenuhi syarat hidup mandiri di hutan," kata CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite, di Palangka Raya.

Menurutnya, setelah dilepasliarkan, keempat orang utan ini akan dipantau penuh setiap hari selama dua bulan. 

"Dan setelahnya pemantauan dilakukan dua jam per hari selama setahun," tambah Jamartin.

Keempat orang utan yang dilepasliarkan ke alam liar itu terdiri dari satu jantan bernama Meong berumur 13 tahun dan tiga betina bernama Hayley umur 13 tahun, Nabima umur 18 tahun dan Tari umur 5 tahun.

Jamartin mengaku, sampai saat ini Yayasan BOS masih menerima bayi-bayi orang utan yang ditangkap dan dipelihara manusia. 

Sejak Januari 2018, pihaknya juga menerima empat orang utan baru. 

Sekarang ini, lanjut Jamartin, ada sekitar 600 orang utan direhabilitasi di Samboja Lestari maupun Nyaru Menteng.

"Kami sangat menghargai semua laporan dan temuan dari masyarakat. Namun ini juga berarti masih banyak orang tidak menganggap serius konsekuensi hukum akibat memelihara orang utan," ucapnya.

Menurut CEO Yayasan BOS ini, fakta hingga saat ini masih marak penebangan ilegal di berbagai wilayah hutan, termasuk yang dilindungi. 

Ini merupakan kondisi yang harus segera diperbaiki dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak, khususnya Pemerintah.

Dia mengatakan reforestasi memang dapat memperbaiki hutan-hutan yang rusak, namun itu butuh waktu yang sangat panjang. Sementara kerusakan lingkungan telah mencapai titik yang mengkhawatirkan.

"Kami menegaskan perlunya penegakan hukum yang jelas dan tegas untuk mengubah persepsi masyarakat. Menjelang Hari Bumi yang kita peringati setiap tahun di bulan April, mari kita bersama-sama mulai peduli dan merawat bumi tempat kita semua tinggal," demikian Jamartin.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)