logo rilis
Elektabilitas Jokowi Tak Ideal, Qodari Ingatkan Kekalahan Megawati
Kontributor
Nailin In Saroh
18 April 2018, 09:58 WIB
Elektabilitas Jokowi Tak Ideal, Qodari Ingatkan Kekalahan Megawati
Peluncuran Bank Wakaf Mikro oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. FOTO: Humas OJK

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat Politik dari Indo Barometer, Muhammad Qodari, menilai elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) yang berada di angka 30 hingga 40 persen masih belum termasuk ideal. Sebagai seorang pejabat, elektabilitas Jokowi seharusnya bisa mencapai di atas 50 persen, yakni sekitar 55 hingga 60 persen.

Saat dalam posisi tersebut, kata Qodari, siapa pun dan berapa pun lawan akan berada di peringkat bawahnya. Salah satu penyebab rendahnya elektabilitas Jokowi adalah tingkat kepuasan atas kinerja yang rendah. Qodari mencatatnya di angka 60 sampai 70 persen.

"Meski sudah di atas 50 persen, tetap persentase tersebut belum maksimal," ujarnya di Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Di samping itu, menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, sejumlah gerakan muncul untuk mendukung maupun tidak mendukung salah satu pihak. Termasuk di antaranya gerakan #2019GantiPresiden yang tengah viral di media sosial untuk menyerukan anjuran pergantian presiden pada tahun depan.

Qodari pun menjelaskan, dampak dari gerakan tersebut bergantung banyak terhadap kinerja Jokowi sampai akhir kepemimpinannya tahun depan. "Kalau banyak yang puas dengan kebijakan dan kerjanya, di atas 60 persen, maka tidak berpengaruh. Sebaliknya, kalau banya yang tidak puas maka dampaknya akan besar," jelasnya.

Qodari menuturkan, berbicara pemilu maka menyangkut ketidakpuasan terhadap kinerja pejabat atau tidak. Ini yang menjadi dasar keindahan mekanisme demokrasi suatu negara. 

"Apabila pejabat dianggap tidak sukses dalam menjalani janji politik dan kinerja, ia tidak akan dipilih lagi dan ada ruang untuk pergantian kepemimpinan," tukasnya.

Qodari memberikan contoh pada Pilpres 2004, di mana Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersaing. Masyarakat merasa tidak puas atas kinerja Megawati yang saat itu merupakan pejabat, sehingga SBY menang.

"Pada 2009, SBY dianggap berhasil dengan tingkat kepuasannya tinggi jelang pencoblosan, maka terpilih kembali," tuturnya.

Untuk meraih kemenangan dalam Pilpres 2019, Qodari menganjurkan agar Jokowi meningkatkan tingkat kepuasan terhadap kinerjanya selama setahun ke depan terutama isu ekonomi. Selain itu, Jokowi juga harus memperbaiki komunikasi politik dan pembangunan yang masih menjadi kekurangannya.

Belakangan memang beredar kaos yang dijual dan bertuliskan #2019GantiPresiden. Jokowi pun pernah mengomentari gerakan yang viral di media sosial itu.

Ia merasa yang bisa mengganti Presiden adalah rakyat dan restu Allah SWT. "Masak kaos bisa ganti Presiden? Yang bisa ganti Presiden itu rakyat, kalau rakyat mau ya bisa ganti. Kedua restu dari Allah. Masak ganti kaos bisa ganti Presiden," kelakarnya.

Editor: Sukardjito


500
komentar (0)