logo rilis

Ekstremisme Kekerasan (1)
kontributor kontributor
Imam Shamsi Ali
15 Mei 2018, 11:12 WIB
Presiden Nusantara Foundation
Ekstremisme Kekerasan (1)
ILUSTRASI: Hafiz

DALAM seminggu ini, Indonesia digoncang oleh beberapa peristiwa kekerasan, termasuk bom bunuh diri di beberapa tempat di Surabaya, Jawa Timur. Sebelumnya juga terjadi serangan teror di Mako Brimob Jakarta. Serangan-serangan tersebut telah menelan korban puluhan jiwa, meninggal dan luka-luka.

Peristiwa-peristiwa ini tentunya sangat memprihatinkan, bahkan mencoreng wajah Indonesia yang dikenal aman, damai dan toleran. Peristiwa kekerasan di Brimob bahkan terjadi hanya sehari sebelum Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan segitiga (trilateral meeting) ulama-ulama Afghanistan, Pakistan dan Indonesia di Istana Bogor, untuk membicarakan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan.

Oleh karenanya serangan teror tersebut sangat menyedihkan dan sekaligus memalukan bangsa dan negara Indonesia. Maka sangat sepatutnya kita semua mendeklarasikan bahwa tindakan kekerasan seperti itu bukan Indonesia, dan bukan pula untuk tujuan kebaikan apapun, sekaligus musuh bersama bangsa.

Pastinya tindakan biadab itu tidak mendapat tempat di mana saja, dan tidak akan terjustifikasi oleh apa pun. Tidak oleh pertimbangan umum manusia (common sense) maupun ajaran agama (religious guidance). Sebaliknya tindakan teror tidak mengenal kemanusiaan dan tidak mengenal agama. Bahkan musuh sekaligus perusak agama.

Jika diselami lebih jauh akan didapati bahwa tendensi ekstremisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain sebagai berikut:

Pertama, kebodohan dalam beragama. Jangan pernah berpikir bahwa pelaku teror adalah orang-orang berilmu, apalagi dalam ilmu agama. Sebaliknya mereka pada umumnya adalah orang-orang yang tidak paham agama, bahkan jauh dari agama. Pelaku teror pada peristiwa 9/11 di Amerika Serikat ditemukan di kemudian hari adalah orang-orang yang tidak beragama, bahkan peminum dan womanizer

Kedua, kurang rasionalitas, pikiran sempit dan dominannya emosi. Orang-orang seperti ini kerap kali mengedepankan amarah dalam merespon berbagai permasalahan hidupnya. Tindakan yang dilakukan dominannya terbangun di atas emosi yang tinggi, tanpa pertimbangan rasional, dan kerap kali mengambil jalan pintas.

Ketiga, respon terhadap ketidak adilan sosial. Kekerasan-kekerasan juga sering kali terjadi karena adanya ketidak adilan atau kezholiman di masyarakat. Ketika mereka merasa bahwa jalan untuk menemukan Keadilan itu buntu (stuck) maka di sinilah mereka akan mengambil jalan pintas, tanpa memikirkan konsekwensi atau akibatnya.

Keempat, misinformasi atau informasi yang tidak menyeluruh. Di sini peran media sangat besar dalam membangun kemarahan itu. Media seringkali tidak bertanggung jawab, bahkan demi meraup keuntungan material mereka rela menjual informasi-informasi yang menyesatkan dan berbahaya. Apalagi dalam dunia keterbukaan media, khususnya media sosial.

Kelima, faktor ekonomi dan kejiwaan. Tidak jarang juga tindakan teror termotivasi oleh faktor ekonomi atau kemiskinan. Ketika manusia lapar maka sering rasa kemanusiaannya (sense of humanity) menjadi hilang. Maka tindakan yang mereka ambil menjadi animalistik, bagaikan anjing-anjing yang kelaparan. 

Keenam, dorongan untuk menjadi pahlawan membela kebenaran. Nampak seperti positif. Tapi sesungguhnya sebuah tindakan yang tidak mendapat pembenaran, apalagi dalam agama, adalah salah. Motivasi atau niat yang baik wajib dilaksanakan melalui cara yang baik dan benar. Keinginan berhaji tidak dapat dilakukan dengan jalan merampok. Mencari keadilan tidak bisa dilakukan dengan melakukan pembunuhan orang-orang yang tiada dosa.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID