logo rilis

Ekspor Nanas Kundur dari Inovasi Balitbangtan
Kontributor
Kurnia Syahdan
16 Oktober 2018, 22:15 WIB
Ekspor Nanas Kundur dari Inovasi Balitbangtan
Fasilitas PHO nanas di Pulau Kundur. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Penduduk Singapura bisa menikmati nanas yang diekspor dari wilayah tetanganya, Pulau Kundur, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

Hal ini bisa terwujud karena program dari Kementerian Pertanian, yaitu Program Program Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor –Wilayah Perbatasan (LPBE-WP).  

Program ini bertujuan untuk mendorong ekspor produk pertanian Indonesia dari wilayah perbatasan sehingga biaya transportasi bisa ditekan.  

Tujuan lain yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha tani yang berada di wilayah perbatasan yang selama ini agak terlupakan.
 
Pulau Kundur merupakan sebuah pulau di Kabupaten Karimun yang masuk sebagai wilayah terluar Indonesia.

Pulau ini memiliki potenesi buah nanas yang cukup besar, di mana luas pertanaman nanas saat ini sekitar 300 hektare.

Ditambah lagi dengan letaknya yang sangat dekat dengan Singapura, menjadikan Pulau Kundur memiliki peluang yang besar untuk menjadi pemasok utama buah nanas ke Singapura.

Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun mencanangkan untuk memulai ekspor perdana nanas ke negara tetangga pada tahun 2018 ini.  

Untuk itu, Dinas Pangan Pertanian menggandeng Balitbangtan, Ditjen Hortikultura, PT Alamanda Sejati Utama untuk merealisasikan rencana ekspor nanas kundur tersebut.  

Kepala Dinas Pangan Pertanian Kabupaten Karimun, Muhammad Affan menargetkan ekspor perdana nanas Kundur dapat dilakukan pada 20 Oktober 2018 mendatang, bersamaan dengan peringatan ulang tahun Kabupaten Karimun.  
 
Untuk persiapan acara tersebut, sudah dilakukan berbagai kegiatan antara lain perbaikan bangunan PHO yang sudah lama dibangun namun belum difungsikan sehingga cukup layak digunakan untuk penanganan segar buah nanas.

Selanjutnya Balai Besar Pascapanen Pertanian membantu proses penanganan segar nanas hingga siap ekspor.  

Adapun beberapa peralatan yang disiapkan sebagai persyaratan sebuah PHO di antaranya berupa bak pencucian, bak sterilisasi dengan menggunakan ozon, meja peniris yang dilengkapi dengan blower, meja sortasi dan pembersihan yang dilengkapi dengan hembusan angin dari kompresor serta meja pengemasan.  

Unit Penanganan Segar Buah Ekspor

Selain bantuan peralatan, peneliti Balai Besar Pascapanen, Kementerian Pertanian juga ikut serta dan berperan aktif sebagai narasumber pada Bimtek yang diselenggarakan pada tanggal 19 hingga 21 september 2018, yang diselenggarakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun bekerjasama dengan PT Alamanda Sejati Utama.

Materi utama yang disampaikan adalah teknik penanganan pascapanen buah nanas untuk ekspor, mulai dari penentuan waktu panen hingga produk siap untuk ditransportasikan.

Di samping teori, para peserta Bimtek juga diberikan pelajaran praktek di lapangan mulai dari pemetikan, pengumpulan nanas di lapang hingga pengemasan.

Bimbingan teknis dikuti oleh sekitar 50 orang peserta yang terdiri atas para petani nanas dan PPL wilayah Kabupaten Karimun.
 
Kepala BB Pascapanen, Prof. Risfaheri berharap dengan fasilitas PHO yang cukup lengkap, diharapkan ekspor perdana nanas menjadi awal dari bangkitnya perekonomian di daerah perbatasan, khususnya bagi para petani nanas di Pulau Kundur.  

Saat ini permintaan nanas Kundur juga sudah mulai datang dari beberapa negara selain Singapura seperti Iran dan Hongkong.  

Ke depan, untuk bisa mengirimkan nanas ke negara Timur Tengah dalam kondisi tetap segar tentunya diperlukan teknologi pascapanen yang lebih canggih lagi karena waktu transportasi yang lebih lama.  

Untuk itu fasilitas PHO ini perlu lebih dilengkapi dengan fasilitas lain seperti bubble washer, cold room, coating, forklift serta pelabuhan container.

Sumber: Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)