logo rilis

Ekspor Manufaktur Rendah, Ini Akibatnya... 
Kontributor
Elvi R
26 Maret 2018, 08:00 WIB
Ekspor Manufaktur Rendah, Ini Akibatnya... 
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyampaikan, rendahnya ekspor manufaktur berdampak pada berbagai hal. Salah satunya yakni, potensi neraca perdagangan. Menurutnya, kemungkinan surplusnya neraca pedagangan pada beberapa bulan mendatang rendah karena struktur neraca perdagangan yang rentan mengalami defisit akibat ekspor manufaktur rendah.

"Manakala ekspor manufaktur tumbuh lemah sebesar 12 persen dalam setahun terakhir sejak Maret 2017 hingga Februari 2018, impor justru tumbuh lebih cepat sebesar 18,7 persen pada periode yang sama," kata Faisal di Jakarta, Senin (26/3/2018).

Namun pada tiga bulan terakhir, saat perdagangan mengalami defisit, pertumbuhan impor mencapai angka 23,7 persen.

Faisal menjelaskan, peningkatan impor sebagian besar yaitu 75 persen, didorong oleh belanja bahan baku dan bahan penolong.

"Memang ini merupakan indikasi terjadinya peningkatan aktivitas industri manufaktur di dalam negeri. Sayangnya, hal ini juga menunjukkan tingginya tingkat ketergantungan industri domestik terhadap bahan baku impor," ujar Faisal.

Pelemahan itu juga terancam dengan kondisi defisit migas yang masih cenderung melebar karena dorongan kenaikan harga minyak dan peningkatan volume impor untuk antisipasi lebaran.

Sementara ekspor komoditas sawit yang menjadi andalan utama Indonesia kini menghadapi berbagai ancaman proteksi di berbagai negara, khususnya Eropa, Amerika, bahkan negara importir terbesar India.

Oleh karenanya, kondisi itu menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera menempatkan upaya peningkatan daya saing industri manufaktur secara komprehensif sebagai agenda utama ke depan.

"Bukan sekedar untuk memperkuat neraca perdagangan, tetapi juga untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi," katanya menambahkan.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan bahwa defisit neraca perdagangan dipicu oleh defisit sektor migas sekitar Rp12 triliun di bulan Februari, sementara sektor perdagangan nonmigas surplus sebesar Rp10,3 triliun.

"Defisit selama tiga bulan berturut-turut, ini harus menjadi perhatian kita. Ini tentunya menjadi peringatan buat kita semua, Januari-Februari 2018, defisit sebesar Rp12 triliun," kata Suhariyanto di Jakarta.

Tercatat pada Januari 2018, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar Rp10,4 triliun, atau lebih tinggi dari Februari 2018. Diharapkan pada bulan berikutnya neraca perdagangan Indonesia bisa kembali mengantongi surplus.

Dari sisi volume perdagangan, neraca perdagangan mengantongi surplus 32,12 juta ton, yang didorong surplus neraca nonmigas sebesar 32,57 juta ton dan neraca perdagangan migas defisit 0,46 juta ton.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)