Home » Inspirasi » Opini

Ekspor Hasil Pertanian Cemerlang di Tangan Amran

print this page Rabu, 18/10/2017 | 18:58

Oleh Suwandi
Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi, Kementerian Pertanian

TAK disangka, langkah berani Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melalui kebijakan dan program terobosan mewujudkan kedaulatan pangan kembali memberikan kejutan manis. Bukan selalu soal melimpahnya produksi dan harga pangan stabil, akan tetapi tekad untuk ekspor tercapai bahkan peningkatannya cemerlang, sehingga Indonesia menjadi negara pengekspor pangan. 

Faktanya, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 16 Oktober 2017 menyebutkan ekspor hasil pertanian September 2017 naik 18,35 persen. Tak sekadar itu, nilai ekspor hasil pertanian ini lebih tinggi dibanding industri pengolahan yang hanya 14,51 persen. 

Kemudian, dalam tempo tiga bulan Agustus hingga Oktober 2017, Menteri Amran telah mengekspor bawang merah sampai empat kali. Pertama, ekspor bawang merah dari Brebes, Jawa Tengah, 18 Agustus, sebanyak 500 ton dari target 5.600 ton ke Thailand. Kedua, ekspor dari Surabaya, Jawa Timur, 28 Agustus, sebanyak 247,5 ton ke Singapura.

Ketiga, peluncuran ekspor di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motamasin, Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), 12 Oktober 2017, ke Timor Leste sebanyak 30 ton dari target 200 ton. Terakhir, ekspor sebanyak 45 ton dari rencana 180 ton ke Vietnam dari Enrekang, Sulawesi Selatan.

Badan Karantina Kementan pun mencatat, ekspor bawang merah dari pintu pengeluaran di Cirebon, Jabar, per 29 Juli hingga 11 Oktober 2017 mencapai 1.151 ton dengan tujuan Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura. Sedangkan dari pintu keluar Tanjung Perak Surabaya, Jatim, sebanyak 1.731 ton dengan tujuan Malaysia, Thailand, Singapura, dan Vietnam.

Pada Februari 2017 lalu pun, Menteri Amran telah membuat sejarah baru yang sebelumnya tidak pernah dicapai Indonesia, yakni ekspor beras di Merauke ke Papua Nugini. Perlu juga dicatat, di tahun lalu, September 2016, Menteri Amran telah mengekspor beras organik di Tasik, Jabar, ke Belgia dengan harga Rp70 ribu per kilogram. 

Alhasil, tak heran, berdasarkan Angka Sementara BPS, neraca perdagangan sektor pertanian (komoditas segar dan olahan) bulan Januari hingga September 2017 suplus. Lihat saja, nilai ekspor komoditas pertanian mencapai US$24,84 miliar, sedangkan nilai impor hanya US$12,57 miliar. Artinya, didapat surplus US$12,26 miliar. Surplusnya ini naik tajam 212,52 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2016 yang hanya surplus US$3,92 miliar.

Besarnya nilai ekspor bulan Januari hingga Septermber 2017 ini karena adanya peningkatan volume ekspor dibandingkan periode yang sama di tahun 2016. Misalnya ekspor kelapa sawit Januari hingga September 2017 mencapai 24,83 juta ton, kelapa 1,32 juta ton, kopi 377.976 ton, dan kakao 256.383 ton. Sementara pada periode yang sama tahun 2016, ekspor kelapa sawit hanya 19,52 juta ton, kelapa 1,12 ton, kopi 267.058 ton, dan ekspor kakao hanya 240.569 ton. 

Tak hanya ekspor komoditas perkebunan, komoditas lain pun ikut naik. Di antaranya ekspor nanas Januari hingga September 2017 mencapai 136.261 ton, beras 4.072 ton, kedelai 52.340 ton, kacang hijau 22.196 ton, dan ekspor bawang merah 2.719 ton. Sedangkan pada periode Januari hingga September 2016, ekspor nanas cukup kecil, yakni hanya 89.270 ton, beras 2.321 ton, kedelai 9.120 ton, kacang hijau 16.423 ton, dan ekspor bawang merah hanya 440 ton.

Harus diakui, capaian ini semakin menguatkan bahwa kebijakan pertanian Menteri Amran benar-benar sebagai lokomotif pengejawantahan Nawacita pemerintahan Jokowi-JK. Pertama, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Kedua, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Mengapa demikian? Jawabannya sangat akuntabel, karena ekspor memiliki peran penting dalam kegiatan perekonomian suatu negara, yakni terwujudnya kemandirian ekonomi. Ekspor akan menghasilkan devisa, membentuk nilai tambah dan selanjutnya menggerakkan sektor strategis ekonomi dalam negeri. 

Kemudian, berdasarkan data dan fakta di atas, program strategis Menteri Amran tidak hanya memacu ekspor komoditas pangan di daerah sentra produksi. Akan tetapi fokus pada pengembangan pertanian wilayah perbatasan, sehingga masyarakat pinggiran atau pedesaan dapat membangunkan lahan guna menghasilkan produk pangan yang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga untuk diekspor ke negara-negara tetangga. Indonesia pada rangkaian Hari Pangan Sedunia di Pontianak (21/10/2017) akan ekspor beras ke Malaysia di Kabupaten Sanggau yang merupakan wilayah perbatasan atau pinggiran.

Merujuk pendekatan ekonomi Keynesian, bahwa ekspor sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Karena itu, peningkatan nilai ekspor yang dicapai di atas tentunya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan prasyarat bagi berlangsungnya pembangunan ekonomi atau dengan kata lain terbentuk negara yang sejahtera.

Faktanya, selama kurun waktu 2015 hingga 2016, kesejahteraan petani meningkat. Karenanya, kemiskinan dan kesenjangan menurun. Data BPS menyebutkan, angka kemiskinan di pedesaan tahun 2016 turun 1,53 persen dan Gini Rasio di desa tahun 2016 pun turun 2,10 persen. Selanjutnya, di tahun 2016, Nilai Tukar Petani yang mengukur kesejahteraan sebesar 101,59 atau naik 0,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai Tukar Usaha Pertanian pun naik, di tahun 2016 mencapai 107,45 atau naik 2,31 persen dibanding tahun 2015.

Karena itu, program terobosan dan langkah berani Menteri Amran patut dikatakan memberikan hasil yang cemerlang. Sebab, melalui peningkatan ekspor pangan telah menciptakan kemakmuran, kesejahteraan, dan negara Indonesia yang berdaulat. Pangan impor dan kemiskinan sudah makin berkurang. Pastinya, di mata negara-negara lain, Indonesia kini menjadi negara yang kuat. 

Namun, untuk benar-benar mewujudkan ini, pemerintah harus serius guna percepatan pengoptimalan potensi pertanian di wilayah perbatasan, membangunkan lahan tidur dan lahan rawa. Maka itu, pemerintah pusat, daerah, BUMN dan swasta harus bersinergi agar pemanfaatan lahan untuk pangan dapat diwujudkan. Pemerintah dan swasta pun harus mendorong akan tumbuhnya inovator muda di bidang pertanian, sehingga generasi muda berebut untuk menjadi petani sukses. Dengan demikian, pertanian Indonesia akan semakin maju, ekspor semakin tinggi, masyarakat sejahtera, dan Indonesia bisa menghidupi dunia.

Tags:

Ekspor PanganImpor PanganAmran SulaimanMenteri AmranSuwandiOpini

loading...