Home » Peristiwa » Nasional

Ekspor Demokrasi ke Irak, Wapres JK: AS justru Bikin Hancur Lebur

print this page Kamis, 7/12/2017 | 17:05

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) saat menghadiri Bali Democracy Forum 2017 (BDF) di Serpong, Tanggerang Selatan, Kamis (7/12/2017). FOTO: RILIS.ID/Syahrain F

RILIS.ID, Tanggerang Selatan— Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) menyinggung soal upaya demokratisasi yang dipaksakan di sejumlah negara. Menurutnya, penerapan demokrasi sebagai sistem, dan nilai tidak bisa semerta-merta disamaratakan dengan demokrasi yang telah berjalan di suatu negara, seperti di Amerika Serikat (AS).

Meskipun digambarkan sebagai negara yang aktif mensponsori demokrasi, Wapres JK justru melihat ada kekeliruan krusial ketika AS berupaya mengekspor demokrasi ke banyak negara. Ia memberi contoh, upaya demokratisasi AS di Irak malah membuat negara yang dahulu disebut negeri 1001 malam itu porak poranda tanpa berkesudahan.

"Ya, AS menyerang Irak tanpa alasan jelas. Akibatnya, Irak hancur lebur kan. Jauh lebih baik saat dipimpin Saddam. Rakyatnya lebih makmur dibanding sekarang," papar Wapres JK di, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (7/12/2017).

Hal ini disampaikan Wapres JK dalam sambutannya ketika membuka konferensi internasional Bali Democracy Forum 2017 (BDF).

Wapres JK menilai, upaya demokratisasi perlu disesuaikan dengan aspek kultural dan historis. Demokrasi dalam perjalanannya juga cenderung melekat dengan pemerintahan republik.

Namun, Wapres JK menggarisbawahi, banyak negara-negara non-demokrasi di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Yordania serta negara berpemerintahan monarki lainnya, justru lebih makmur ketimbang negara-negara yang ingin berdemokrasi.

Kegagalan itu, menurutnya, dikarenakan upaya demokratisasi di negara-negara itu cenderung diburu-buru dan tanpa disesuaikan dengan aspek kultural di masyarakat.

Menghendaki cita-cita berdemokrasi dengan gaya revolusioner itu bahkan harus dibayar mahal ribuan nyawa seperti yang terjadi di Indonesia pada 1997-1998, dan Arab Spring di 2011.

"Demokrasi dan republik memiliki persamaan dimensi. Tapi banyak republik yang lebih otoriter dibanding monarki. Semua transisi yang terjadi pada (Arab Spring) adalah negara republik. Libya, Tunisia, dan Suriah, semuanya negara republik. Tentu ini perlu menjadi pembelajaran. Demokrasi di-copy paste ke semua orang (negara), tapi harus disesuaikan dengan tradisi, gaya hidup masyarakat negara itu," tuturnya.

Wapres JK pun berharap, utusan-utusan negara yang hadir pada forum BDF dapat saling bertukar pengalaman untuk dijadikan sebagai pembelajaran demokrasi. Indonesia pun, yang sudah 20 tahun menjalankan demokrasi, katanya, akan terus berupaya memperbaiki kehidupan berdemokrasi.

Penulis Syahrain F
Editor Eroby JF

Tags:

Jusuf KallaBali Democracy Forum 2017BDF 2017