logo rilis
Eks HTI Akan Lakukan Banding Putusan PTUN
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
07 Mei 2018, 14:21 WIB
Eks HTI Akan Lakukan Banding Putusan PTUN
Massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) saat melakukan demonstrasi di Jakarta. FOTO: Ist

RILIS.ID, Jakarta— Juru bicara eks perkumpulan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto akan melakukan banding atas putusan Pengadilan Tata Usaha Negara DKI Jakarta yang menolak gugatan atas pencabutan badan hukum HTI.

"Kita akan melakukan upaya banding. Banding adalah ikhtiar kita menolak kedzaliman," ujar Ismail saat berorasi di hadapan ratusan simpatisan HTI sesusai mengikuti sidang putusan di PTUN Jakarta, Senin (7/5/2018).

Ismail menilai, Majelis Hakim dalam putusannya secara jelas mempersalahkan dua hal, yakni mempersalahkan kegiatan dakwah yang dilakukan HTI dan mempersalahkan penegakkan khilafah.

"Ini bukan soal HTI, tapi soal kegiatan dakwah dan menegakkan khilafah yang dipermasalahkan. Dakwah adalah kegiatan mulia, wajib bagi setiap Muslim, dan perintah Rasullullah," tegas Ismail.

Menurut dia, HTI telah didzalimi pemerintah melalui keputusan pencabutan badan hukum yang dzalim dan diperkuat putusan pengadilan yang dinilainya juga dzalim. Dia menekankan, upaya mengajukan banding adalah ikhtiar dalam menolak kedzaliman itu.

Sementara itu, tim kuasa hukum pemerintah menyatakan upaya banding merupakan hak yang dapat ditempuh oleh eks HTI terhadap putusan PTUN.

Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara DKI Jakarta menolak gugatan eks perhimpunan Hizbut HTI untuk seluruhnya, melalui sidang pembacaan putusan di Jakarta.

"Dalam esksepsi permohonan yang diajukan penggugat tidak diterima seluruhnya, menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya, dan membebankan biaya perkara sebesar Rp445.000," ujar Hakim Ketua Tri Cahya Indra Permana SH MH saat membacakan putusan gugatan.

Menurut Majelis Hakim, HTI terbukti menyebarkan dan memperjuangkan paham khilafah, sesuai dalam video Muktamar HTI tahun 2013 silam.

Majelis mengatakan, pemikiran khilafah sepanjang masih dalam sebatas konsep dipersilakan. Namun, bila sudah diwujudkan dalam aksi yang berupaya mengganti Pancasila maka dapat berpotensi perpecahan.

"Bukti video Muktamar HTI 2013, menunjukkan penggugat sudah melaksanakan muktamar khilafah, mengajak peserta menegakkan khilafah. Fakta hukumnya dalam muktamar itu Ketua Umum HTI mengajak mengubah prinsip kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan di tangan Allah," ujarnya.

"Cukup bagi hakim menyatakan bahwa Penggugat telah terbukti berusaha mewujudkan khilafah," tambah Hakim Anggota Roni Erry.

Majelis hakim seusai membacakan putusan juga menyatakan bagi pihak-pihak yang keberatan atas putusan itu dapat mengajukan upaya hukum sesuai ketentuan undang-undang.
 

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)