logo rilis

Eks Bos Lippo Group Serahkan Diri di Singapura
Kontributor
Tari Oktaviani
12 Oktober 2018, 20:05 WIB
Eks Bos Lippo Group Serahkan Diri di Singapura
ILUSTRASI

RILIS.ID, Jakarta— Eks bos Lippo Group, Eddy Sindoro menyerahkan diri ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui atase Kepolisian di Singapura, Jumat (12/10/2018).

Upaya Eddy menyerahkan diri tak lepas dari peran mantan Ketua KPK, Taufiequrachman Ruki.

Ruki mengatakan, dirinya mendapat informasi dari seorang jaringannya bahwa Eddy ingin menyerahkan diri kepada KPK dari dua pekan lalu.

Awalnya Ruki pun meminta Eddy untuk datang langsung ke gedung KPK di Jakarta.

"Saya kan polos saja kalau memang mau serahkan diri datang saja ke KPK, menyerahkan diri," kata Ruki dalam jumpa pers, di Gedung KPK, Jakarta  

Ruki sendiri mengaku tak banyak tahu soal kasus yang menjerat Eddy Sindoro mengingat kala itu bukan lagi di jaman kepemimpinannya.

Oleh karena itu, Ruki sempat meminta penjelasan pada KPK.

Setelah menerima penjelasan dari pihak KPK mengenai proses penyerahan diri seorang tersangka, baik di dalam negeri ataupun luar negeri, dirinya langsung menyampaikan kepada jaringannya itu. 

"Ternyata yang bersangkutan ada di Singapura. Saya telepon Atase Polri di Singapura, saya katakan ada orang nama ini, tolong dibantu untuk kepentingan penegakan hukum," ujarnya

Setelah itu, atase Kepolisian RI di Singapura kemudian menghubungi Direktur PIPM KPK dan Direktur Penyidikan KPK untuk menyampaikan rencana penyerahan diri Eddy kemarin.

Ruki menyebut Eddy dijemput tim KPK sekitar pukul 12.20 waktu setempat. 

Ruki mengatakan, dirinya bukan mediator, hanya kebetulan saja Ruki mendapat informasi dari jaringannya di Singapura bahwa Eddy ingin serahkan diri ke KPK.

"Saya bukan mediator, saya cuma, orang itu minta bantuan ke saya, ya saya salurkan, sesuai salurkan resmi yang ada," kata Ruki. 

Sementara itu, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menegaskan bahwa Eddy yang juga menjabat sebagai Chairman PT Paramount Enterprise Internasional itu menyerahkan diri kepada KPK melalui Atase Kepolisian di Singapura dan dibantu instansi lainnya.

"Dalam proses ini bahwa KPK dibantu oleh otoritas Singapura, instansi terkait seperti Polri, Imigrasi, dan kedutaan," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam jumpa pers, di Gedung KPK. 

Sebelum ditangkap, kata Saut, pihaknya telah memasukkan nama Eddy dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pada sekitar Agustus 2018. Eddy lantas dideportasi ke Indonesia pada 29 Agustus 2018. Tapi naas, ia berhasil kabur menuju Bangkok, Thailand tanpa melewati proses imigrasi. 

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Eddy  sebagai tersangka suap kepada mantan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution, pada akhir 2016. Eddy diduga memberikan sejumlah uang kepada Edy Nasution terkait pengurusan PK. 

Belakangan diketahui Eddy telah berada di luar negeri sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik lembaga antirasuah. Dalam proses penyidikan, KPK turut menduga mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhahadi Abdurrachman terlibat dalam kasus dugaan suap ini. 

Editor: Kurnia Syahdan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)