logo rilis
Ekonom Senior Ini Sebut Defisit Perdagangan Berdampak Positif, kok Bisa?
Kontributor
Intan Nirmala Sari
05 April 2018, 16:01 WIB
Ekonom Senior Ini Sebut Defisit Perdagangan Berdampak Positif, kok Bisa?
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Ekonom senior Mari Elka Pangestu, menyoroti defisit neraca perdagangan Indonesia yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut dari Desember 2017 hingga Februari 2018.

"Harus dipelajari mengapa terjadi defisit itu. Kalau memang impornya naik karena terkait dengan investasi naik, seharusnya itu positif," kata Mari Elka dalam acara The Economist di Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Mantan Menteri Perdagangan tersebut berpendapat, peningkatan impor yang terjadi akibat penanaman modal atau ekspansi produksi, biasanya jangka waktu enam bulan bakal mampu meningkatkan ekspor.

Ia juga mengatakan, defisit neraca perdagangan dimungkinkan terjadi karena harga minyak naik. Ini juga dipicu posisi Indonesia yang merupakan net importir minyak.

"Kalau impornya terkait dengan investasi, itu sebetulnya positif. Kalau memang impor untuk meningkatkan investasi dan ekspansi di produksi," ucapnya.

Mari Elka menilai, defisit perdagangan tetap perlu diantisipasi melalui peningkatan daya saing.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Februari 2018 neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$116 juta. Defisit tersebut, terjadi dalam tiga bulan berturut-turut sejak Desember 2017.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit neraca perdagangan Februari 2018 dipicu defisit sektor migas sebesar US$870 juta, sementara sektor perdagangan nonmigas surplus sebesar US$750 juta.

Sementara itu, Januari 2018 neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$760 juta, atau lebih tinggi dari catatan Februari 2018.

Sumber: ANTARA


komentar (0)