logo rilis
Eits, Pilpres Tiga Poros nih?
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
13 Maret 2018, 15:10 WIB
Eits, Pilpres Tiga Poros nih?
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

"HALO." Seorang teman menjawab telepon. Ia langsung bangkit dari duduknya, lalu pergi beberapa meter dari kerumunan kami. Mungkin agak berisik. Suaranya masih terdengar lugas, meski sedikit terpotong-potong. Sesekali, ia tersenyum lebar.

"Aduh, maaf, tapi saya sedang di luar kota sekarang," kata itu terlempar kepada lawan bicaranya dari balik sambungan komunikasi nirkabel tersebut.

Kami tak pusing melihat tingkahnya. Barang kali atasan di kantornya yang menghubungi. Pun sudah biasa bagi seorang wartawan mendapat tugas dadakan. Selama masih bisa dijangkau, pasti lah meluncur. Cuma, kalau sulit, pasti berdiplomasi dulu.

Dia adalah seorang "buruh tinta" di salah satu media nasional yang berkiprah di Ibu Kota. Jadi, kalau bukan soal liputan, apa lagi? Keluarga biasanya agak dinomorduakan sih.

"Ini ada pertemuan Demokrat, PKB sama PAN. Jadi ini 'barang'. Poros ketiga ini pasti," kata dia menarik kesimpulan hasil perbincangannya di telepon.

Barusan, ia dihubungi seorang kader Partai Demokrat. Dijelaskan bahwa akan ada pertemuan antara petinggi Demokrat, PAN dan PKB di Jakarta. Tidak lain dan tidak bukan, pasti ada komunikasi mengenai Pilpres (pemilihan Presiden) 2019 mendatang.

"Ini Hinca (Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan) yang mau ketemuan sama orang-orang PKB sama PAN. Gue malah ada di sini (Bandung)," katanya.

"Seru itu kalau sampai ada tiga pasangan calon nanti (Pilpres)," ujar seorang teman lain menyahuti omongannya. Jadi, Jokowi, Prabowo dan seorang lagi. Siapa?

Memang pada 8 Maret lalu, Hinca bertemu dengan Lukmanul Hakim (Wasekjen PKB), Rasta Wiguna (Wabendum PKB) dan Edy Soeparno (Sekjen PAN). Ketiganya membuka komunikasi untuk agenda politik tahun depan, khususnya bikin poros ketiga di luar Jokowi dan Prabowo.

Teka-teki ini masih belum terjawab. Para awak media memang biasa berspekulasi, enggak penting benar atau salah. Pokoknya, menduga saja dulu. Pertanyaan pertama, mungkin kah koalisi dari poros ketiga ini muncul saingi Jokowi dan Prabowo?

Pengamat politik dari Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Girindra Sandino menilai, wacara membentuk poros baru bisa saja terjadi kalau parpol-parpol tersebut punya komitmen sama. Justru, ini akan mengobati kejenuhan publik.

"Ini sebuah alternatif, pemusnah kejenuhan politik. Masyarakat juga yang menginginkan figur selain Jokowi dan Prabowo," kata Girindra.

Politik itu dinamis lah. Meski, ada yag bilang kalau poros di luar kubu koalisi dan oposisi itu mustahil terwujud, tapi munculnya pihak ketiga adalah hal yang wajar. Masalahnya, siapa yang akan jadi capres-cawapres? Karena, figurnya belum ketemu.

"Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) belum memenuhi kriteria sebagai capres, lebih baik sebagai cawapres," katanya.

Bisa saja kalau calonnya dari orang luar partai, semisal mantan panglima TNI, Gatot Nurmantyo atau Gubernur DKI Jakarta sekarang, Anies Baswedan. Nah, ini bisa "digoreng".

Makanya, proyeksi konfigurasi politik ini harus dicermati oleh kubu-kubu lawan. Soalnya, poros ketiga ini bukan sekadar koalisi tandingan dengan pakta politik kosong. Tapi, jadi pilihan strategis yang dapat dipertimbangkan.

Kalau pakai pola perolehan 20-25 persen kursi DPR sebagai syarat mencalonkan kandidat di pilpres, koalisi Demokrat, PKB dan PAN sudah memenuhi syarat loh.

Begini, Demokrat memiliki 61 kursi atau 10,9 persen. Lalu, PAN punya 48 kursi (8,6 persen), terakhir dengan PKB, sebanyak 47 kursi (8,4 persen). Nah, total perolehan kursi ketiga partai yang berkoalisi ini sebanyak 156 kursi (27,9 persen).

Porosnya Jokowi lah yang paling kuat. Ada PDI Perjuangan dengan 109 kursi (19,4 persen), lalu NasDem punya 36 kursi (6,4 persen), ditambah Golkar memiliki 91 kursi (16,2 persen). Masuk lagi PPP 39 kursi (7 persen) dan Hanura 16 kursi (2,9 persen).

Totalnya, koalisi Jokowi mengantongi 291 kursi (52 persen). Justru, kubu Prabowo yang kesusahan. Karena, Gerindra ada 73 kursi (13 persen) dan PKS sebanyak 40 kursi (7,1 persen). Keseluruhannya cuma 113 kursi (20,1 persen).

Pada Pasal 222 Undang-Undang No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu) menyebutkan, parpol atau gabungan parpol harus memiliki 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional pada Pemilu 2014, untuk bisa mengusung pasangan capres-cawapres.

Akan kah Prabowo amsiong? Belum tentu sih...

Cek saja waktu Pilpres 2004 lalu. Pas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK). Koalisi "kurus" yang cuma pegang 17 persen perolehan kursi DPR melawan tokoh-tokoh yang didukung parpol-parpol papan atas, tapi menang kok.

Bagaimana di 2019 mendatang? Kalau Prabowo maju, mampu kah mengulang kejayaan SBY waktu itu? Atau, Prabowo tetap kena libas Jokowi? Atau keduanya malah kalah saing sama tokoh poros ketiga?

Tulisan 1: Eits, Pilpres Tiga Poros nih?
Tulisan 2: Ini 'Pentolan' Poros Ketiga di Pilpres
Tulisan 3: Selamat Datang Presiden 'Baru'
Tulisan 4: Jadikan Tiga Poros? Komitmen dong...
Tulisan 5: Poros Baru Optimis Terwujud

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)