logo rilis
Efektifkah Prabowo Tiru Strategi Donald Trump?
Kontributor
Nailin In Saroh
03 April 2018, 18:07 WIB
Efektifkah Prabowo Tiru Strategi Donald Trump?
Prabowo Subianto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Kritik kontroversial yang disampaikan Prabowo Subianto menjadi sorotan publik. Usai menyebut Indonesia Bubar 2030, Prabowo kembali melontarkan pernyataan dengan menyindir elite politik yang dianggapnya goblok dan bermental maling.

Pengamat politik Indo Barometer, M Qodari menilai, Prabowo tengah meniru strategi Donald Trump di Pemilu AS 2016 untuk menaikkan elektabilitasnya menuju Pilpres 2019. 

"Siapa pun yang lakukan itu, dia terinspirasi dengan kemenangan Donald Trump. Bahkan yang menarik, tidak selalu yang disampaikan itu benar, yang penting didengerin orang. Makin kontroversial, makin bagus," ujar Qodari di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Beberapa pernyataan Donald Trump yang kontroversial, di antaranya pernah menuding rivalnya, Hillary Clinton menang suara populer pada Pilpres 2016 karena curang. Menghina imigran Meksiko, lalu melarang umat muslim datang ke Amerika.

"Orang katakan Donald Trump calon presiden paling kontroversial dalam sejarah pemilu. Tapi, justru dengan kontroversi itu jadi heboh. Ini persoalan emosi, bukan benar atau tidak benar. Ini persoalan takut atau tidak takut. Kalau takut nalurinya ke sana (memilih)," jelas Qodari.

Meski Prabowo mengadopsi strategi Trump, Qodari menilai, hal itu tidak menjamin akan efektif. Semua, kata dia, masih dinamis tergantung survei di masyarakat.

"Saya belum katakan itu efektif. Kita lihat opini publik dan survei. Prabowo kan baru luncurkan jurus ini," katanya.

Lebih lanjut, Qodari mengungkapkan, walaupun ada perbedaan latarbelakang antara Amerika Serikat dan Indonesia, namun situasi politiknya mulai agak mirip. 

Pertama, terkait media sosial, Indonesia tidak kalah dengan Amerika.

"Dan isu ini paling mudah menyebar di medsos," kata Qodari.

Kedua, isu pertentangan dari strategi Donald Trump yang memainkan psikologis kesenjangan antara kelas menengah dan atas.

"Ini adalah persoalan global. Jadi bukan hanya terjadi di AS, tapi Indonesia," tuturnya.

"Kalau di AS, orang AS takut sama Islam. Di Indonesia, orang Indonesia takut sama Barat. Ini saling takut-menakuti. Intinya politik ketakutan, politik pesimisme, dimainkan itu mengganti yang lebih kuat," tambah Qodari.

Pesan yang ingin disampaikan Prabowo, sambung Qodari, yakni menegaskan ke masyarakat bahwa jika ingin Indonesia lebih baik maka mantan Danjen Kopassus itu lah yang layak jadi pemimpin.

"Dari slogannya Donald Trump make America great again, artinya Amerika lebih hebat lagi. Menurut saya, ini terjemahan bebas pidato Prabowo itu menyatakan lebih hebat lagi bersama saya (Prabowo) Macan Asia," tandasnya.

Editor: Eroby JF


komentar (0)