logo rilis
Dwi Ria Latifa, Istri Dubes Mesir Tak Harap Fasilitas Negara
Kontributor
Zul Sikumbang
26 Maret 2018, 08:22 WIB
Dwi Ria Latifa, Istri Dubes Mesir Tak Harap Fasilitas Negara
Dwi Ria Latifa.

RILIS.ID, Jakarta— Menjadi istri seorang duta besar, sudah selayaknya mendapatkan fasilitas dan dilayani saat mendampingi sang suami. Namun tidak demikian halnya dengan Dwi Ria Latifa, istri Duta Besar Indonesia untuk Mesir, Helmi Fauzi, justru kebalikan.

Dwi Ria Latifa yang saat ini menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019, ini justru melayani masyarakat Indonesia yang ada di Mesir. Layanan yang diberikan adalah pelayanan kesehatan dengan mendirikan posyandu, pelayanan di bidang hukum dengan mendirikan Lembaga bantuan hukum APIK dan masih banyak lagi pelayanan lain. 

Dengan pelayanan itu, saat mengunjungi Mesir Dwi Ria Latifa tidak bersenang-senang, tidak menikmati Kota Kairo nan indah dan tidak sempat melakukan tamasya. Selama berada di Mesir, dirinya hanya melayani masyarakat Indonesia.

Di Mesir, jumlah warga negara Indonesia saat ini sebanyak 5300 orang. 4200 orang merupakan pelajar dan mahasiswa. selebihnya adalah pekerja profesional, ekspatriat, diplomat staf lokal kedutaan dan guru sekolah Indonesia.

Ada kecenderungan di kalangan sebagian mahasiswa untuk berkeluarga sambil menuntut ilmu. Mereka yang berumah tangga sambil kuliah disebabkan oleh banyak faktor, antara lain karena mereka mengikuti tradisi yang berlaku di kampung mereka di mana pernikahan muda adalah hal yang biasa. 

Juga, mereka merasa bahwa belajar di Mesir memerlukan waktu yang lama sehingga ketika mereka sudah memiliki kenalan atau pasangan mereka lebih suka untuk melanjutkan ke rumah tangga. Alasan lainnya menikah dini karena mereka yang merasa sudah senior, berpikir akan kesulitan untuk mendapatkan pasangan dari kampung, karena itu memerlukan dana yang besar dan belum tentu mendapatkan pasangan

Akibat dari pernikahan “mandiri” dengan status ayah dan ibu sebagai mahasiswa, banyak anak mereka yang masih balita, atau yang usia TK dan SD kurang mendapatkan perhatian yang layak, terutama dalam pengasuhan yang benar, pengasuhan mental, fisik dan emosional. 

Mental yang berkaitan dengan pendidikan kecerdasan dan perkembangan otak, emosional yang berkaitan dengan pendidikan kepekaan, perasaan dan perkembangan emosi, dan fisik yang berkaitan dengan pendidikan gizi, kesehatan dan pertumbuhan fisik anak. 

Kekurangpahaman orang tua terhadap tiga aspek pengasuhan tersebut menjadikan beberapa balita mereka memprihatinkan. 

Selain kekurangan ilmu di bidang parenting, orang tua dan sekaligus sedang menjadi mahasiswa juga menjadikan mereka kesulitan membagi tugas sebagai orang tua dan sebagai mahasiswa yang harus banyak melakukan tugas-tugas kuliah. Akibatnya anak menjadi kurang perhatian.

"Itulah kenapa saya mendirikan Posyandu di Kairo dan beberapa kota lain yang ada di Mesir,” kata Dwi Ria Latifa saat bincang-bincang dengan rilis.id di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (26/3/2018).

Untuk itu, setiap kali reses, dirinya selalu ke Mesir. Bukan oleh-oleh atau makanan kesukaan sang suami yang dibawakan Dwi Ria Latifa. Yang dibawa anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kepulauan Riau itu adalah kacang hijau, susu, gula dan keperluan bayi dan anak-anak.

“Saya bawa 20 kilogram kacang hijau ke Mesir, saya ajak semua ibu-ibu pegawai kedutaan untuk masak yang nantinya diberikan kepada anak-anak dan balita Indonesia. Pokoknya kami melayani masyarakat Indonesia yang ada di Mesir,” ucapnya.

Selain membuat posyandu, politisi PDI Perjuangan itu juga mengelar seminar parenting kepada mahasiswi-mahasiswi yang sudah berkeluarga. 

Materi seminar parenting itu adalah bagaimana mengasuh anak, keluarga dengan baik dan benar tanpa meninggalkan tugas sebagai pelajar dan mahasiswa. 

Dwi Ria Latifa juga mendatangkan Nursyahbani Katjasungkana (Sekjen Koalisi Perempuan Untuk Keadilan dan Demokrasi).

Sebagai orang yang berlatar belakang pendidikan hukum serta seorang pengacara, insting dan naluri hukumnya tetap jalan. Ia mendirikan LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK). 

Ia menyadari, banyak terjadi pelecehan seksual terhadap pelajar dan mahasiswi Indonesia di Mesir, terutama di angkutan umum. Dengan adanya LBH APIK itu, pelajar dan mahasiswi Indonesia bisa melaporkan dan kedutaan akan menindaklanjutinya.

Sebagai anggota DPR RI yang harus turun ke daerah pemilihan setiap reses, sementara menunaikan tugas dan kewajiban sebagai seorang istri, tentu tidak mudah untuk mengatur waktu. Namun, bukan Dwi Ria Latifa namanya, kalau soal manajemen waktu tak bisa diatur. Saat reses tiba, ia terlebih dulu datang ke dapil, setelah itu barulah berangkat menuju Kairo. Bisa dibayangkan, betapa melelahkan.

“Usai dari dapil, saya ke Kairo. Selama saya di pesawat, saya tidur karena dokter terus mengingatkan agar jaga kesehatan. Saya juga diberi obat agar bisa tidur di pesawat,” cerita Dwi Ria Latifa.

Bahkan, setiap tahun, tepatnya Hari ulang tahun Indonesia, Dwi Ria Latifa harus membagi waktu. Tanggal 16 Agustus, sebagai anggota DPR RI, wajib hadir di Gedung DPR RI untuk mendengarkan pidato Presiden, apalagi presidennya dari PDIP. Usai menghadiri pidato kenegaraan, sekitar jam 15.00 WIB, dirinya sudah terbang ke Kairo.

“Sekitar jam 08.00 waktu Kairo, saya sudah sampai, ke kedutaan sekitar 30 menit, mandi. Pukul 09.00 waktu Kairo harus ikut upacara detik-detik Proklamasi di Kedutaan mendampingi Pak Dubes (panggilan Helmi Fauzi).

Editor: Sukardjito


500
komentar (0)